BERITA TERKINI
Cara Menyusun Playlist Terapi untuk Mengelola Mood Swing dan Menjaga Fokus Kerja

Cara Menyusun Playlist Terapi untuk Mengelola Mood Swing dan Menjaga Fokus Kerja

Musik kerap dipandang sebagai hiburan, tetapi berbagai riset menunjukkan fungsinya dapat melampaui itu. Dengan pendekatan yang tepat, musik dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk membantu mengelola perubahan suasana hati (mood swing) sekaligus mendukung fokus saat bekerja. Sejumlah penelitian dan pandangan ahli juga menempatkan intervensi musik sebagai bagian yang semakin diakui dalam ranah medis dan psikologis.

Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis pada 2025, misalnya, menyebut intervensi musik dapat menghasilkan peningkatan signifikan pada kesehatan mental. Dari temuan-temuan tersebut, muncul gagasan bahwa daftar putar (playlist) bisa dirancang secara sadar—bukan sekadar kumpulan lagu favorit—melainkan sebagai perangkat untuk membentuk kondisi emosional dan produktivitas.

Dampak musik pada otak dan emosi

Musik diketahui memengaruhi proses neurobiologis. Mendengarkan musik dapat memicu pelepasan neurotransmiter seperti dopamin, serotonin, dan endorfin. Dopamin dikaitkan dengan fokus, konsentrasi, memori, tidur, suasana hati, dan motivasi. Sementara serotonin berperan dalam pola tidur, kecemasan, dan nyeri.

Selain itu, musik juga disebut dapat menurunkan kadar kortisol—hormon stres—hingga 35%, sekaligus menurunkan detak jantung dan tekanan darah, sehingga memunculkan efek menenangkan. Dari sisi kognitif, musik dapat mengaktifkan bagian otak yang berkaitan dengan memori dan kreativitas, serta membantu perhatian dan konsentrasi.

Profesor Dr. Masha Godkin dari Departemen Ilmu Pernikahan dan Keluarga di National University menjelaskan bahwa musik mengaktifkan otak kiri dan kanan secara bersamaan. Menurutnya, hal ini dapat memaksimalkan pembelajaran dan meningkatkan memori.

Strategi playlist untuk mengelola mood swing

Playlist terapi untuk suasana hati bertujuan membantu pendengar menavigasi emosi secara sadar. Salah satu konsep yang kerap digunakan adalah iso-principle: memulai dengan lagu yang selaras dengan suasana hati saat ini, lalu secara bertahap beralih ke lagu-lagu yang mengarahkan pada suasana hati yang diinginkan. Strategi ini memanfaatkan fenomena entrainment, yakni kecenderungan gelombang otak, detak jantung, dan area motorik tubuh untuk menyelaraskan diri dengan ritme musik.

Untuk relaksasi dan pengurangan stres, musik bertempo lambat sekitar 60–80 ketukan per menit (BPM) dinilai membantu menurunkan detak jantung dan kadar kortisol. Sebaliknya, untuk meningkatkan suasana hati dan rasa positif, lagu dengan melodi yang membangkitkan semangat, lirik optimistis, serta ritme energik kerap menjadi pilihan.

Dr. Jacob Jolij, neurosaintis kognitif, menemukan bahwa musik yang membangkitkan semangat umumnya memiliki lirik positif dan tempo sekitar 150 BPM. Genre yang sering dianggap efektif untuk ketenangan antara lain musik klasik, ambient, instrumental, dan suara alam. Sementara untuk menaikkan mood, genre yang lebih upbeat atau lagu-lagu yang memunculkan kenangan menyenangkan dapat membantu.

Musik instrumental kerap dipilih untuk menenangkan karena lirik dapat mengganggu sebagian orang. Namun, pada situasi tertentu, lirik yang relevan dengan pengalaman pribadi juga bisa membantu proses pemaknaan emosi. Karena itu, penyusunan playlist perlu bersifat personal—menyesuaikan preferensi, pemicu emosional, dan tujuan spesifik masing-masing pendengar.

Musik untuk menjaga fokus kerja

Dalam konteks kerja, musik dapat membentuk lingkungan pendengaran yang mendukung konsentrasi. Musik instrumental tanpa lirik dinilai efektif karena lirik berpotensi mengganggu pemrosesan verbal, terutama ketika seseorang membaca atau menulis.

Beberapa genre yang kerap direkomendasikan untuk fokus meliputi musik klasik, lo-fi, ambient, jazz, suara alam, dan musik elektronik instrumental. Musik ambient, khususnya, dirancang untuk menyatu sebagai latar tanpa menuntut perhatian penuh, sehingga dinilai kondusif untuk mempertahankan fokus.

Tempo juga menjadi pertimbangan. Musik pada kisaran 60–70 BPM disebut dapat membantu mempertahankan informasi lebih lama. Tempo sedang dapat memberi energi, sedangkan tempo lebih lambat dapat menciptakan suasana santai untuk pekerjaan mendalam. Ketukan ritmis juga dikaitkan dengan upaya menyinkronkan gelombang otak sehingga meningkatkan fokus dan kewaspadaan. Namun, musik sebaiknya diputar sebagai latar dengan volume yang tidak terlalu keras agar tidak menenggelamkan alur pikir.

Sejumlah teknologi juga mengembangkan musik berbasis entrainment gelombang otak. Brain.fm, misalnya, disebut merancang musik untuk meningkatkan gelombang otak beta yang terkait fokus hingga 119%. Di sisi lain, musik yang disukai pendengar dapat memicu respons dopamin yang berhubungan dengan motivasi dan suasana hati positif, sehingga membantu saat mengerjakan tugas yang monoton. Penyesuaian musik dengan jenis tugas juga disarankan: suara yang tenang untuk membaca, ketukan ritmis untuk menghafal, dan lagu ceria untuk pekerjaan kreatif.

Langkah praktis dan temuan pendukung

Menyusun playlist terapi pada dasarnya membutuhkan eksperimen. Pendengar dapat mencoba berbagai genre dan tempo untuk menemukan pola yang paling cocok. Salah satu pendekatan yang disarankan adalah membuat beberapa playlist untuk kebutuhan berbeda—misalnya untuk tidur, fokus kerja, relaksasi, atau meningkatkan suasana hati—dan memperbaruinya secara berkala agar tidak menimbulkan kebosanan.

Playlist juga dianjurkan digunakan secara sengaja pada momen tertentu, serta dibuat mudah diakses di berbagai perangkat, termasuk dalam kondisi offline. Untuk memperkuat efeknya, musik dapat dipadukan dengan teknik lain seperti pernapasan dalam, meditasi, atau peregangan. Sebuah uji klinis menyebut mendengarkan musik yang dirancang khusus dengan stimulasi ketukan auditori selama 24 menit dapat secara signifikan mengurangi kecemasan.

Sejumlah penelitian lain turut menyoroti kaitan musik dengan fokus dan emosi. Riset dari Karolinska Institutet menyatakan pelatihan musik dapat memperkuat kemampuan otak untuk fokus dalam kondisi yang mengganggu. Studi dari Stanford University School of Medicine juga menemukan musik melibatkan area otak yang terkait dengan perhatian, prediksi, dan pembaruan memori.

Adapun Mindlab International melaporkan lagu “Weightless” dari Marconi Union mampu mengurangi kecemasan hingga 65%. NIH’s Center for Complementary and Integrative Health mencatat terapi musik bermanfaat untuk berbagai kondisi, mulai dari kanker dan depresi hingga insomnia. Sementara studi Yale School of Medicine pada 2025 menyebut music mindfulness dapat membantu mengobati gejala kecemasan dan depresi.

Dengan memahami cara kerja musik pada tubuh dan pikiran, serta menyusun playlist secara bertahap sesuai tujuan, pendengar dapat membangun kebiasaan mendengarkan yang lebih terarah—baik untuk menstabilkan suasana hati maupun menjaga fokus kerja.