Universitas Airlangga (UNAIR) melanjutkan rangkaian kegiatan mentoring Beasiswa Unggulan melalui pelatihan penulisan esai. Kegiatan bertajuk Write Your Way to Beasiswa Unggulan tersebut merupakan bagian dari Litera.ev x Akademi Unggulan Workshop I dengan pembicara apt Fitriyani SFam.
Dalam sesi itu, Fitriyani menyampaikan bahwa aspek prestasi, potensi, motivasi, dan kontribusi dapat menjadi nilai tambah dalam proses seleksi. Menurutnya, peserta perlu menyiapkan cerita yang kuat, fokus pada kontribusi, memperkuat CV, serta menyusun strategi pendaftaran dengan persiapan matang.
“Hidup itu bukan tentang layak, tetapi tentang kesempatan dan tanggung jawab. Beasiswa bukan mencari siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang paling jelas arah hidupnya dan tahu mau berkontribusi apa,” kata Fitriyani.
Fitriyani menjelaskan bahwa esai beasiswa bukan sekadar daftar riwayat hidup, melainkan karya yang menunjukkan calon penerima sebagai pribadi unggul yang layak memperoleh Beasiswa Unggulan. Ia menekankan pentingnya menampilkan keunggulan diri yang unik, spesifik, dan berdampak bagi Indonesia.
Ia juga menguraikan alur penulisan esai, mulai dari pengalaman hidup yang menjadi motivasi menempuh pendidikan, dilanjutkan dengan identifikasi persoalan di Indonesia yang ingin diselesaikan, kemudian memaparkan pencapaian sebagai penguat peluang diterima.
Dari sisi struktur, Fitriyani menyarankan esai ditulis secara teratur dengan bagian pendahuluan, isi satu, isi dua, dan penutup. Pendahuluan berfungsi sebagai hook, isi pertama memuat pengalaman atau cerita hidup, isi kedua berisi rencana yang akan dilakukan, dan penutup menegaskan kontribusi yang akan diberikan. Ia menambahkan bahwa hook sebaiknya mampu menarik perhatian sejak awal. “Hook biasanya berisikan cerita pembuka yang kuat, usahakan kalian menarik perhatian di 30 detik pertama,” ujarnya.
Dalam sesi tips, Fitriyani membagikan sejumlah poin, antara lain show and don’t just tell, penggunaan data, self editing, membandingkan dengan esai penerima beasiswa lain, serta memperhatikan 30 detik pertama. Ia menilai kualitas esai akan meningkat apabila keterampilan menulis terus dilatih.
“Jangan hanya bilang kalian pekerja keras, tunjukkan lewat cerita dengan menggunakan data dan sumber, bisa dari jurnal maupun sumber informasi yang tervalidasi. Setelah selesai menulis, coba kalian minta orang lain untuk membacanya agar ada evaluasi nantinya. Kemudian, baca dan bandingkan dengan esai-esai penerima beasiswa unggulan lainnya,” tuturnya.
Menutup sesi, Fitriyani mengingatkan peserta agar tidak bersikap terlalu sombong maupun terlalu merendah dalam esai. Ia juga menegaskan bahwa plagiarisme mudah terdeteksi dalam penilaian. Selain itu, ia meminta penulis esai tidak berlebihan menggunakan gaya puitis hingga pesan utama tidak tersampaikan. “Jangan juga terlalu puitis dalam menulis esai sampai intinya tidak tersampaikan dengan benar,” katanya.