BERITA TERKINI
Asep Wahyuwijaya: Regenerasi Petani Perlu Jadi Agenda Strategis Ketahanan Pangan

Asep Wahyuwijaya: Regenerasi Petani Perlu Jadi Agenda Strategis Ketahanan Pangan

BOGOR — Anggota Komisi VI DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Barat V (Kabupaten Bogor), Asep Wahyuwijaya, menegaskan regenerasi petani harus ditempatkan sebagai agenda strategis untuk memperkuat masa depan ketahanan pangan nasional. Pernyataan itu disampaikan dalam Elang Agro Expo yang digelar PT Elang Mandiri Group di Gedung SBS, Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (4/7/2026).

Asep menilai persoalan regenerasi petani tidak bisa hanya dipahami sebagai rendahnya minat anak muda masuk ke sektor pertanian. Menurut dia, pertanian perlu dibangun sebagai ekosistem usaha yang layak, modern, dan memiliki kepastian ekonomi. Karena itu, dukungan terhadap petani dinilai harus mencakup akses pupuk, pembiayaan, teknologi, pendampingan, pengolahan hasil, hingga kepastian pasar.

“Ketika anak muda menjauh dari pertanian, mereka tidak boleh buru-buru disalahkan. Anak muda bersikap rasional. Mereka menilai apakah pertanian mampu memberi penghidupan yang layak, akses modal, akses pasar, dan kepastian usaha,” kata Asep.

Politikus yang akrab disapa Kang AW itu juga menekankan penguatan pertanian berkaitan dengan peran BUMN, dunia usaha, koperasi, UMKM, serta lembaga pembiayaan. Ia menyoroti kehadiran PT Pupuk Indonesia dalam Elang Agro Expo sebagai hal penting, mengingat perusahaan tersebut merupakan mitra Komisi VI DPR RI dan dinilai strategis dalam mendukung produktivitas pertanian melalui ketersediaan pupuk, edukasi, dan pendampingan kepada petani.

“Kita tentu berharap kehadiran PT Pupuk Indonesia tidak hanya berhenti pada dukungan pupuk, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem pertanian. Pupuk Indonesia sebagai mitra Komisi VI siap memberikan support, baik dalam aspek edukasi, pendampingan, maupun peningkatan produktivitas petani,” ujarnya.

Asep menambahkan, regenerasi petani tidak boleh dimaknai sempit sekadar mengganti petani tua dengan petani muda. Regenerasi, menurut dia, perlu dipahami sebagai upaya menghadirkan generasi baru yang mampu membawa pertanian naik kelas, mulai dari agribisnis, pengolahan hasil, pemasaran digital, koperasi, logistik, hingga pemanfaatan teknologi. Dengan demikian, anak muda tidak hanya masuk sebagai pekerja di lahan, tetapi juga sebagai pelaku usaha dalam rantai nilai pertanian.

Ia menilai Kabupaten Bogor memiliki modal besar untuk menjadi contoh regenerasi pertanian karena memiliki basis lahan, kelompok tani, komoditas lokal, kedekatan dengan pasar Jabodetabek, serta peluang integrasi dengan sektor wisata, kuliner, UMKM, dan ekonomi kreatif. Karena itu, ia memandang kegiatan seperti Elang Agro Expo penting sebagai ruang kolaborasi antara petani, anak muda, pelaku usaha, BUMN, pemerintah, lembaga pembiayaan, dan pasar.

“Elang Agro Expo ini jangan dilihat hanya sebagai pameran produk. Ini adalah ruang kolaborasi. Di sini petani bisa bertemu pasar, anak muda bisa melihat peluang usaha, pelaku usaha bisa membangun kemitraan, dan BUMN seperti Pupuk Indonesia bisa hadir memperkuat ekosistem pertanian,” kata Asep.

Menutup pernyataannya, Asep menegaskan masa depan pangan tidak cukup dijaga melalui peningkatan produksi semata, tetapi juga melalui keberlanjutan pelaku utamanya. Ia mendorong regenerasi petani menjadi gerakan bersama yang ditopang kebijakan, pupuk, pembiayaan, teknologi, pasar, koperasi, dunia usaha, kampus, dan komunitas.

“Kalau pertanian dibuat lebih bernilai, modern, dan membanggakan, saya yakin anak muda akan melihat sektor ini sebagai ruang masa depan. Dari daerah seperti Kabupaten Bogor, kita bisa ikut menyiapkan masa depan pangan Indonesia,” ujarnya.