BERITA TERKINI
Agatha Chelsea Menjaga Keaslian Diri Lewat Musik dan Karya Terbaru "Nyaman"

Agatha Chelsea Menjaga Keaslian Diri Lewat Musik dan Karya Terbaru "Nyaman"

Agatha Chelsea menapaki perjalanan panjang dari panggung Idola Cilik hingga dikenal sebagai musisi sekaligus aktris muda. Di tengah dunia hiburan yang kerap menuntut kesempurnaan, ia memilih tetap setia pada dirinya sendiri—baik dalam cara berkarya, memandang proses kreatif, maupun menyikapi sorotan publik.

Agatha pertama kali dikenal publik saat menjadi kontestan Idola Cilik pada usia 11 tahun. Ia mengenang masa kecilnya yang lekat dengan musik Disney, yang kala itu menjadi pintu masuknya ke dunia bernyanyi. “Semua putri bernyanyi, jadi itu mimpi saya waktu kecil,” ujarnya.

Seiring bertambah usia, musik baginya tidak lagi sekadar ruang bermain. Pengalaman belajar di luar negeri memperluas cara pandangnya tentang musik sebagai bentuk tanggung jawab, termasuk pentingnya menghargai kreativitas dan hak intelektual. “Saya sadar, musik bukan sekadar media kreatif, tapi juga bisa jadi karier. Ini bukan lagi cuma soal senang-senang, tapi juga menghargai kreativitas dan hak intelektual,” kata Agatha.

Dalam proses kreatif, Agatha menyebut hidup dan musik berjalan beriringan. Ia menyadari sejumlah lagu patah hati yang pernah ia tulis merupakan cerminan pengalaman pribadinya, dan hal itu membuatnya kini menulis dengan niat yang lebih dalam.

Kesadaran tersebut turut hadir dalam single terbarunya, Nyaman, yang ia kerjakan bersama BIANCADIMAS. Ia mengatakan ingin menghadirkan sesuatu yang hangat dan tulus, tanpa kembali pada kisah cinta yang rumit. “Saya tidak ingin menulis lagi cerita cinta yang rumit dan mungkin terjadi,” ujarnya. Agatha juga menyebut lagu itu sebagai eksplorasi suara yang memadukan akar Disney yang ia sukai dengan gaya seni masa kini, menghasilkan nuansa yang dreamy namun personal.

Selain soal karya, Agatha menyoroti tantangan musisi saat ini, salah satunya isu hak cipta. Ia memahami banyak musisi memulai dari dorongan hati, bukan pertimbangan bisnis. Namun, menurutnya, edukasi kerap tertinggal. “Saya tahu banyak musisi menciptakan karya dari hati, bukan karena aturan. Tapi memahami hak cipta—apa itu, jenisnya, dan cara kerjanya—adalah langkah pertama untuk melindungi diri dan karya kita,” ujarnya.

Di tengah popularitas dan ekspektasi publik, Agatha memilih membangun karier dengan mengedepankan keaslian. Ia dikenal sebagai pencinta Disney yang menyebut dirinya “nerdy” dan pernah belajar neuroscience sambil tetap mengejar minat artistik. “Saya tidak pernah mencoba menjadi orang lain. Kalau orang suka saya, bagus. Kalau tidak, tidak apa-apa juga,” katanya.

Ketika ada penggemar yang menyebutnya “sempurna”, Agatha menolak label tersebut. Ia mengaku masih berada dalam proses mencari jati diri dan ingin memberi ruang bagi dirinya untuk berkembang. “Saya tidak sempurna,” ujarnya. “Saya masih mencari jati diri. Saya punya banyak minat, dan beruntung punya orang-orang di sekitar yang mendukung tanpa menekan saya memilih satu jalan.”

Agatha menegaskan, ke mana pun langkah hidup membawanya—baik di ranah sains, film, maupun proyek lain—musik akan tetap menjadi jangkar. “Musik telah menjadi jembatan bagi saya untuk menemukan diri sendiri,” katanya.

Kini, Agatha Chelsea melihat ketulusan sebagai fondasi. Baginya, menjaga keaslian diri bukan hanya strategi artistik, melainkan cara hidup. “Selama saya tetap tulus, itu tidak akan terasa seperti beban. Itu akan selalu terasa seperti saya,” ujarnya.