Musisi dan komposer Vo Thien Thanh mengaku spontan berucap “Wow!” ketika melihat liputan khusus peringatan 50 tahun Kota Ho Chi Minh. Momen itu, menurutnya, menjadi kebetulan yang menyenangkan karena bertepatan dengan rampungnya rekaman lagu barunya tentang kota tersebut berjudul Kota Cahaya.
Ia mengatakan, halaman khusus dengan gambar kembang api di langit kota memunculkan gagasan untuk membuat aransemen lain yang lebih istimewa bagi lagu tersebut. Bagi Vo Thien Thanh, Kota Ho Chi Minh bukan sekadar tempat untuk mengejar aspirasi, melainkan juga ruang yang perlu dirangkul melalui kebaikan hati manusia, momen-momen budaya, serta keberlanjutan ruang hijau.
Dalam ingatan sebagian penonton—terutama mereka yang menyukai “suara-suara kota”—karya-karya seperti Morning at Ciao Cafe, Wind Chimes, hingga lagu bertema suara becak, kerap terasa dekat karena menangkap nuansa keseharian. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa sejumlah karya itu awalnya tercipta layaknya buku harian: semacam arsip yang disusun dari sudut pandang seorang mahasiswa muda dari wilayah pesisir yang pertama kali datang ke kota untuk belajar musik.
Vo Thien Thanh menggambarkan dirinya sebagai pengamat yang menikmati kehidupan sekitar dengan tenang. Dari pengalaman tampil larut malam di restoran dan klub malam, hingga melihat para pengemudi becak tertidur di bawah lampu jalan, ia kemudian melahirkan lagu Rickshaw. Rasa sedih yang ia rasakan ketika menyaksikan pedagang kaki lima berjalan di tengah kabut pagi mendorongnya menulis Tangisan Pedagang Kaki Lima. Sementara suatu pagi, ketika sinar matahari menembus jendela dan membuat vas serta cangkir kopi tampak “menari”, melodi Pagi di Ciao Cafe kembali bergema.
Rangkaian pengamatan itu, menurut kisahnya, membentuk alur perkotaan yang utuh ketika karya-karyanya disusun bersama: Becak – Warung Jalanan – Jalan – Kafe Ciao. Irama jalanan, para penyapu daun di taman, pengemudi taksi, hingga anak-anak yang berangkat sekolah, perlahan mengubah musiknya menjadi semacam “dokumenter audio” yang merekam periode dinamis perkembangan Kota Ho Chi Minh.
Seiring waktu, setelah melewati era pop modern, arah pemikiran musik Vo Thien Thanh pada periode berikutnya—melalui proyek New Age, Chill-out, serta album kolaborasi dengan Khanh Linh dan Nguyen Thao—menunjukkan pergeseran. Ia menjadi lebih kontemplatif dan semakin menaruh perhatian pada dampak urbanisasi kota yang kian cepat.
Ia menyampaikan bahwa, di samping aspirasi menjadi kota modern, Kota Ho Chi Minh tetap menghadapi kesenjangan yang sulit dihindari dalam hal budaya, relasi antarmanusia, dan persoalan lingkungan. “Jika kita hanya fokus pada pertumbuhan sambil mengabaikan unsur budaya dan seni, pendidikan tentang welas asih, dan perlindungan lingkungan, pembangunan itu tidak akan lengkap,” ujarnya.
Karena itu, musiknya kian dipenuhi dorongan untuk mengajak pendengar kembali pada alam demi menemukan ketenangan. Ia mengatakan akan terus menyampaikan pemikiran dan perasaan tersebut dalam proyek musik mendatang bersama penyanyi Hong Nhung. “Alam sangatlah penting. Saya selalu berharap kota kita akan memiliki lebih banyak ruang hijau,” katanya.
Di tengah metropolitan yang terus bertumbuh dengan gedung pencakar langit, Vo Thien Thanh memilih “bersembunyi” di alam agar jiwanya tidak tersapu. Ia menyebut dua tempat yang hampir setiap hari ia kunjungi: Taman Tao Dan dan Taman Anh Trang (Phu My Hung). Di dua lokasi itu, ia mengaku baru-baru ini menggubah dua lagu berjudul Saigon Has Autumn dan The Bell Sound.
Ketika diminta menyebut tiga kata kunci yang menggambarkan identitas Kota Ho Chi Minh selama ia tinggal di sana, Vo Thien Thanh memilih: Aspirasi – Kemurahan Hati – Toleransi. Baginya, hal paling berharga yang diberikan kota ini kepada para pendatang dan anak muda yang datang membangun hidup bukan semata kemewahan kesuksesan, melainkan pelajaran tentang kebaikan hati manusia. Ia menilai kemanusiaan, perlindungan, dan dukungan yang ia temui membuatnya memahami nilai-nilai inti kehidupan.
Menjelang peringatan 50 tahun kota, musisi veteran ini juga menaruh harapan pada Generasi Z. Ia mendorong seniman muda untuk berani menjelajahi cakrawala baru dan mencari hal-hal baru, alih-alih bertahan pada kebiasaan lama. Menurutnya, kota terus bergerak, dan musik yang hanya terpaku pada masa lalu tanpa menciptakan ruang baru berisiko tertinggal.
Untuk tahap berikutnya, Vo Thien Thanh memimpikan Kota Ho Chi Minh bertumbuh secara berkelanjutan dengan konser musik klasik sebagai fondasi budaya. Di atas fondasi itu, musik populer dengan energi positif diharapkan menyebarkan keindahan dan cinta. Ia membayangkan adanya malam konser reguler di ruang terbuka, seperti area di depan Istana Reunifikasi, sebagai ruang berbagi musik yang mengangkat jiwa manusia menuju “Kebenaran, Kebaikan, dan Keindahan”.