Musisi asal Medan, Nuh..., merilis album penuh keduanya bertajuk Sarapan di Hari Minggu yang kini telah tersedia di berbagai platform streaming digital. Album ini memuat sembilan lagu dengan perpaduan nuansa Pop Jazz dan sentuhan musik Melayu yang menjadi karakter khasnya.
Bernama asli Muhammad Rizki Nugroho, Nuh... menyebut album ini sebagai langkah penting dalam perjalanan musikalnya sekaligus menandai perkembangan karya setelah dikenal lewat sejumlah lagu seperti Teruntuk Mia, Simpan Dulu Rindu, serta kolaborasinya bersama rapper Basboi dalam lagu Yank.
Melalui Sarapan di Hari Minggu, Nuh... tidak menawarkan kisah besar yang penuh dramatisasi. Ia justru mengajak pendengar menikmati kehangatan momen-momen sederhana yang kerap hadir dalam rutinitas sehari-hari. Konsep album ini berangkat dari pengalaman personalnya tentang suasana sarapan di hari Minggu yang ia rasakan berbeda dibanding hari lain.
Menurut Nuh..., hari kerja identik dengan kesibukan, tekanan waktu, dan berbagai tuntutan, sementara hari Minggu menjadi ruang untuk berhenti sejenak dan menikmati ketenangan. “Album ini sebenarnya terinspirasi dari keseharian. Menurutku sarapan di hari Minggu itu menenangkan dan menyenangkan, berbeda dari sarapan di hari-hari lain. Kalau hari-hari lain itu seperti buru-buru dan dikejar waktu, kadang sampai makan sambil menyetir,” ujarnya.
Ia berharap seluruh lagu dalam album ini dapat menghadirkan rasa yang sama bagi pendengar: nyaman sekaligus menyenangkan.
Secara emosional, album ini membawa pendengar melewati berbagai fase perasaan, dari suasana hangat hingga pengalaman kehilangan yang mendalam. Dua lagu yang disebut menjadi representasi kuat dari perjalanan emosional tersebut adalah Sarapan di Hari Minggu dan Cinta Tanpa Tapi.
Sebagai lagu utama, Sarapan di Hari Minggu menggambarkan ketenangan ketika seseorang dapat menikmati waktu tanpa tekanan, meski tetap menyadari adanya tanggung jawab yang perlu dijalani. Nuansa lokal juga diperkuat melalui artwork album berupa ilustrasi cat air yang menampilkan semangkuk mi ayam dan sepiring nasi goreng lengkap dengan pelengkapnya, menghadirkan gambaran pagi yang akrab dalam keseharian masyarakat Indonesia.
Sementara itu, Cinta Tanpa Tapi menghadirkan sisi emosional yang lebih dalam. Lagu ini menjadi persembahan Nuh... untuk kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia. Melalui liriknya, ia menggambarkan cinta tanpa syarat sekaligus rasa kehilangan dan penyesalan yang mungkin hadir ketika seorang anak baru mampu membahagiakan orang tuanya, namun harus menerima kenyataan bahwa mereka telah tiada.
Dengan lirik yang intim, aransemen Pop Jazz yang hangat, serta sentuhan musik bernuansa Melayu, Sarapan di Hari Minggu menjadi rekaman fase-fase kehidupan yang disampaikan secara sederhana namun bermakna. Album ini juga membuka ruang refleksi tentang kebahagiaan kecil, kenangan, kehilangan, dan arti menghargai waktu bersama orang-orang terdekat.