BERITA TERKINI
Unimma Latih Warga Desa Wisata Karangrejo Kelola Rempah untuk Penguatan Wellness Tourism Borobudur

Unimma Latih Warga Desa Wisata Karangrejo Kelola Rempah untuk Penguatan Wellness Tourism Borobudur

MAGELANG — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) bersama BUMDes Karangrejo menggelar pelatihan pengelolaan dan pengolahan rempah bagi ibu-ibu PKK serta kelompok Bank Sampah dari lima dusun di Desa Wisata Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.

Peserta pelatihan berasal dari Dusun Kurahan, Dusun Bumen, Dusun Kretek, Dusun Sanderan, serta wilayah lain yang masuk kawasan pengembangan wisata desa.

Ketua Tim Pengabdian, Dr apt Fitriana Yuliastuti, mengatakan kegiatan ini merupakan upaya meningkatkan kapasitas masyarakat untuk mengembangkan potensi lokal berbasis rempah yang terintegrasi dengan sektor pariwisata.

Menurutnya, Desa Wisata Karangrejo dikenal sebagai salah satu desa penyangga kawasan Candi Borobudur dengan potensi wisata alam, budaya, edukasi, hingga agrowisata. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi kekuatan dalam mengembangkan konsep wellness tourism atau wisata berbasis kesehatan dan kebugaran.

Fitriana menjelaskan, program yang didukung skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas desa wisata melalui scientifikasi herbal medicine sebagai strategi penguatan wellness tourism berbasis kearifan lokal rempah Borobudur.

Ia menambahkan, program tersebut tidak hanya berfokus pada pelatihan teknis, tetapi juga membangun pemahaman warga terkait pengelolaan herbal yang memenuhi standar kualitas dan memiliki daya saing.

“Tahap pertama yang dilakukan adalah pelatihan dan pendampingan scientifikasi herbal serta penerapan teknologi tepat guna. Kami ingin masyarakat tidak hanya memahami cara menanam atau memanen, tetapi juga mengetahui bagaimana pengelolaan herbal dilakukan secara terstandarisasi dari hulu hingga hilir,” kata Fitriana.

Pelatihan turut melibatkan P4S Menoreh Herbal dengan menghadirkan narasumber H Gunawan EP SP. Dalam sesi tersebut, peserta menerima materi tentang SOP Good Handling Practice (GHP) dalam pengelolaan tanaman biofarmaka dan jamu.

Materi mencakup tahapan mulai dari sortasi bahan baku, penanganan pascapanen, penyimpanan, proses produksi, hingga pengolahan produk herbal berbasis teknologi tepat guna. Pendekatan ini ditujukan agar masyarakat mampu menghasilkan produk dengan kualitas seragam dan memenuhi standar mutu.

Fitriana menilai, pengembangan produk herbal tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan bahan baku. Warga juga perlu dibekali kemampuan menjaga konsistensi mutu agar nilai ekonomi dan daya saing meningkat.

“Dampak dari pelatihan ini diharapkan masyarakat dapat mengelola herbal dengan baik, dimulai dari sortasi, proses produksi sampai pada pengolahan produk herbal berbasis teknologi. Pelatihan ini juga mengembangkan inovasi produk herbal yang terstandarisasi secara kualitas, mutu, dan dosis secara konsisten,” ujarnya.

Ia menyebut potensi rempah lokal di kawasan Borobudur memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk turunan bernilai tambah. Selain untuk pangan maupun minuman kesehatan, rempah dapat diolah menjadi berbagai produk wellness seperti minuman herbal, aromaterapi, produk kesehatan tradisional, hingga paket wisata edukasi berbasis tanaman biofarmaka.

Konsep wellness tourism sendiri disebut menjadi salah satu tren pengembangan pariwisata di berbagai daerah. Wisatawan tidak hanya mencari rekreasi, tetapi juga pengalaman yang memberi manfaat bagi kesehatan fisik maupun mental, sekaligus membuka peluang bagi desa wisata membangun identitas berbasis potensi lokal.