Pada era Nazi di Jerman, musik jazz menjadi sasaran kecaman rezim yang berupaya mengendalikan politik, budaya, dan kehidupan sehari-hari warganya. Jazz dilabeli sebagai “seni dekaden” dan dipandang mencurigakan, meski pada saat yang sama tetap digemari oleh sebagian masyarakat.
Bagi rezim Nazi, jazz dianggap bermasalah karena keterkaitannya dengan budaya Afrika-Amerika serta komunitas Yahudi. Dalam iklim represi tersebut, aktivitas sederhana seperti mendengarkan dan berdansa mengikuti irama jazz dapat memicu kecurigaan, bahkan membuat seseorang dicap sebagai ancaman bagi negara.
Di tengah pembatasan kebebasan berekspresi, sekelompok remaja di kota-kota seperti Berlin dan Hamburg membentuk apa yang dikenal sebagai Swing Youth. Mereka menjadikan jazz bukan sekadar selera musik, melainkan simbol kebebasan dan ruang untuk mengekspresikan diri.
Meski Swing Youth bukan gerakan politik yang terorganisasi, keberadaan mereka tetap menjadi perhatian aparat. Sejumlah anggotanya dilaporkan mengalami pengawasan, penangkapan, hingga dikirim ke kamp kerja paksa—menunjukkan bagaimana pilihan budaya dapat diperlakukan sebagai bentuk perlawanan pada masa itu.