Alunan musik keroncong dijadwalkan kembali terdengar di Kota Surakarta melalui penyelenggaraan Solo Keroncong Festival 2026. Di tengah dominasi musik modern, festival ini diposisikan sebagai ruang bagi generasi muda untuk mengenal kembali keroncong yang telah lama menjadi bagian dari identitas budaya Indonesia.
Keroncong kerap dipahami bukan sekadar genre musik, melainkan hasil perjalanan sejarah panjang dan pertemuan budaya Barat dan Timur. Jejak awalnya disebut berkaitan dengan pengaruh bangsa Portugis yang masuk ke Nusantara, sebelum kemudian berkembang dan menemukan bentuknya di Batavia.
Sejumlah penelitian menyebutkan, interaksi pelaut Portugis dengan masyarakat di kawasan pelabuhan Nusantara pada abad ke-16 membawa pengaruh musik Portugis yang lalu beradaptasi dengan budaya lokal. Proses penyesuaian yang terjadi dari waktu ke waktu melahirkan bentuk musik baru yang kemudian dikenal sebagai keroncong.
Ketika pengaruh Portugis di Nusantara meredup, sebagian masyarakat keturunan Portugis atau kelompok Mardijker menetap di Batavia. Mereka memainkan alat musik seperti macina, jitera, rebab, dan seruling, sambil menyanyikan lagu moresco. Permainan musik itu berkembang melalui interaksi dengan masyarakat setempat dan kerap disebut sebagai cikal bakal keroncong.
Istilah “keroncong” diyakini berasal dari bunyi khas alat musik petik yang menghasilkan suara “crong-crong”. Ada pula pendapat lain yang menyebut nama tersebut berasal dari kata Portugis croucho yang berarti kecil, sebutan bangsa Portugis untuk ukulele.
Perkembangan keroncong kemudian tidak berhenti di Batavia. Musik ini menyebar ke berbagai daerah dan mengalami penyesuaian dengan budaya setempat. Di Surakarta, keroncong berkembang menjadi bentuk khas yang dikenal sebagai langgam Jawa, yakni perpaduan keroncong dengan unsur gamelan Jawa.
Kekhasan langgam Jawa tampak dari penggunaan cengkok vokal, pola permainan instrumen yang meniru tabuh gamelan, hingga pemakaian bahasa Jawa dalam syair lagu. Dalam konteks itu, Solo disebut menjadi salah satu kota yang berperan penting dalam perkembangan keroncong dan langgam Jawa.