BERITA TERKINI
Sastra sebagai Ruang Aman untuk Pulih: Dari Menulis Ekspresif hingga Biblioterapi

Sastra sebagai Ruang Aman untuk Pulih: Dari Menulis Ekspresif hingga Biblioterapi

Luka batin kerap hadir tanpa alur yang rapi. Ia muncul sebagai potongan ingatan, kilas balik yang memicu sesak, atau rasa terasing dari realitas sekitar. Dalam situasi seperti itu, sastra dapat menjadi ruang aman—bukan untuk menutupi kenyataan pahit, melainkan membantu memberi bahasa dan bentuk agar rasa sakit yang sulit terlihat bisa dihadapi perlahan.

Gagasan bahwa menulis dapat memberi kelegaan bukan semata ungkapan puitis. Psikolog James Pennebaker, yang meneliti topik ini selama lebih dari tiga dekade, menyoroti dampak menekan emosi dan menyimpan pengalaman traumatis. Beban tersebut disebut dapat memicu stres kronis dan berpengaruh pada fungsi sistem imun. Melalui tulisan ekspresif, seseorang berpeluang melepaskan energi negatif yang tertahan, menghadirkan katarsis emosional saat rasa sakit diakui dan dituangkan ke atas kertas.

Dalam praktiknya, pemulihan melalui sastra dapat ditempuh lewat dua pendekatan yang saling melengkapi: membaca dan menulis. Pada sisi membaca, terdapat biblioterapi—pengalaman ketika pembaca merasa tervalidasi karena menemukan tokoh atau peristiwa yang mirip dengan pergulatan dirinya. Buku berperan sebagai cermin yang membuat seseorang merasa tidak sendirian, tanpa harus berhadapan langsung dengan ingatan yang terasa mengancam.

Sementara pada sisi menulis, terapi naratif mengajak individu menuliskan kembali kisah hidupnya. Pendekatan ini mendorong seseorang memisahkan diri dari masalah yang dialami, lalu perlahan mengambil kembali kendali—sebagai tokoh utama yang berhak menentukan arah ceritanya sendiri.

Ruang pemulihan itu juga tercermin dalam karya sejumlah penulis yang mengolah rasa sakit menjadi sastra. Salah satunya Hanya Yanagihara melalui novel A Little Life, yang kerap dibahas dalam kajian teori trauma karena keberaniannya menampilkan luka psikologis yang dalam. Narasi yang detail memperlihatkan bagaimana trauma masa lalu dapat terus hadir dan berdampingan dengan realitas masa kini, sekaligus membuka ruang bagi pembaca untuk menyelami empati dan kepedihan.

Nama lain yang disebut adalah Abayomi Olusunle. Melalui karya-karya yang baru bermunculan, ia mengeksplorasi gagasan “kesadaran tanpa kategori”, menawarkan cara merekam pengalaman batin dan luka yang kompleks tanpa selalu melabeli atau mengotakkannya secara kaku.

Manfaat sastra sebagai ruang aman tidak mensyaratkan seseorang menjadi penulis profesional. Ada praktik sederhana yang dapat dicoba ketika emosi terasa kewalahan. Salah satunya teknik grounding 5-4-3-2-1 di atas kertas: menuliskan lima hal yang terlihat, empat benda yang bisa disentuh, tiga suara di sekitar, dua aroma yang tercium, dan satu rasa di lidah. Tujuannya membantu menarik kesadaran kembali ke masa kini sebelum melanjutkan menulis.

Teknik lain adalah menulis “surat yang tidak pernah dikirim” (unsent letters). Seseorang dapat menuangkan kemarahan, kekecewaan, atau pesan yang selama ini tertahan—baik kepada orang yang melukai, maupun kepada diri sendiri di masa lalu. Karena tidak perlu dikirim, surat ini memberi ruang ekspresi yang lebih bebas tanpa ketakutan akan konfrontasi.

Pada akhirnya, sastra—baik dibaca maupun ditulis—dapat menjadi medium untuk memahami, menamai, dan menata ulang pengalaman batin. Bagi sebagian orang, proses itu menjadi langkah kecil namun berarti untuk merajut kembali diri yang terasa retak.