Di tengah kesibukannya sebagai jurnalis, Riska Mey Liana memilih journaling sebagai cara sederhana untuk menjaga kesehatan mental sekaligus menyalurkan kreativitas. Perempuan kelahiran Tanjung Redeb, 26 Mei 1998, itu menyebut kegiatan kreatif sebagai ruang refleksi yang juga mempertemukannya dengan banyak anak muda di Kabupaten Berau.
Riska, anak keempat dari enam bersaudara, sudah akrab dengan kebiasaan menulis sejak sekolah menengah pertama. Saat itu ia menulis buku harian untuk menyimpan cerita dan pengalaman sehari-hari. Kebiasaan tersebut kemudian berkembang menjadi journaling yang lebih terstruktur ketika pandemi Covid-19 melanda pada 2020.
“Saya mulai aktif journaling dengan alat seadanya. Karena pandemi, aktivitas lebih banyak dilakukan di rumah. Saya menulis agenda, mencari ide, dan mengasah kreativitas supaya tidak bosan di kamar,” ujar Riska.
Lulusan S-1 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman itu menilai journaling memberi banyak manfaat. Menurutnya, kegiatan ini membantu merefleksikan pengalaman, pikiran, dan perasaan sehari-hari. Selain menjadi sarana mengelola emosi, journaling juga disebut dapat meningkatkan kesadaran diri, mendukung kesehatan mental, memperbaiki suasana hati, hingga memunculkan ide-ide kreatif baru.
Riska menjelaskan, journaling memiliki beragam bentuk. Di antaranya bullet journal yang berisi agenda dan daftar tugas, gratitude journal untuk menuliskan hal-hal yang disyukuri, daily journal yang memuat pikiran dan pengalaman harian, travel journal untuk merekam perjalanan, hingga junk journal yang memanfaatkan berbagai bahan bekas sebagai media berkarya.
Awalnya, journaling dilakukan Riska di kamar. Namun, unggahan konten journaling yang ia bagikan di TikTok dan Instagram membuka peluang baru. Kontennya menarik perhatian Ketua Komunitas Gerobooks Berau, Risna Herjayanti, yang kemudian mengajak Riska berkolaborasi menggelar kelas journaling dalam acara Art Market. Dari titik itu, Riska mulai menjalani peran sebagai fasilitator journaling di Berau.
Pada 3 Agustus 2025, ia mengisi kelas journaling pertamanya dalam Art Market yang digelar di sebuah kafe di Berau. Antusiasme peserta membuat kegiatan serupa kembali diadakan pada 2 November 2025 dengan konsep journaling menggunakan polaroid.
Kesempatan lain datang pada 8 November 2025 ketika Riska menjadi fasilitator journaling bersama para pelajar di SMPIT Ash Shohwah. Setelah itu, ia kembali dipercaya mengisi kelas journaling dalam kolaborasi Bumi Lumi dan Lentera pada 17 Januari 2026. Kelas tersebut mengangkat tema refleksi dan resolusi dengan memanfaatkan kertas daur ulang serta stiker dari daun kering.
Dalam kegiatan itu, peserta diajak memahami journaling dari sisi psikologis sekaligus menyusun target-target kecil agar hari-hari terasa lebih bermakna. Kegiatan serupa kembali digelar pada 8 Maret 2026 melalui acara “Ngabuburit Sambil Journaling”.
Riska mengatakan dukungan keluarga dan sahabat menjadi salah satu alasan ia konsisten menekuni hobi tersebut. Menurutnya, keluarga tidak hanya mendukung aktivitas membuat jurnal, tetapi juga memberi semangat saat ia menyelenggarakan berbagai kegiatan komunitas.
“Melalui event seperti ini, kita bisa belajar bersama membuat jurnal yang menarik, berkreasi, dan mengenal teman-teman baru yang memiliki hobi serupa,” katanya.
Dalam setiap halaman jurnal, Riska biasanya menuliskan agenda harian, pikiran, perasaan, serta berbagai peristiwa yang terjadi sepanjang hari. Ia menekankan tidak ada aturan baku dalam journaling dan setiap orang bebas mengekspresikan diri sesuai kenyamanan masing-masing.
Untuk perlengkapan journaling seperti washi tape hingga alat tulis, Riska mengaku pernah mengeluarkan biaya Rp500 ribu hingga lebih dari Rp1 juta. Meski demikian, ia menilai biaya tersebut sebanding dengan manfaat yang dirasakan.
Melalui media sosial, Riska terus mengajak banyak orang mengenal dunia journaling. Konten-konten yang dibuatnya menjadi sarana berbagi inspirasi, termasuk ketika warganet meminta rekomendasi perlengkapan journaling yang ia gunakan.
Bagi Riska, journaling bukan hanya tentang menulis. Ia menyebutnya sebagai ruang aman untuk mengenali diri sendiri, melepaskan beban pikiran, dan membangun hubungan dengan orang lain.
“Ketika lelah bekerja, kita perlu refreshing untuk mengembalikan energi dan semangat. Menulis jurnal bisa membantu. Kita bisa berbagi cerita, menuliskan pengalaman dan perasaan, lalu menghias halaman jurnal semenarik mungkin,” tuturnya.
Riska percaya menuliskan apa yang dirasakan dapat membantu mengurangi beban yang menumpuk di kepala. Dari lembar demi lembar jurnal, seseorang dapat belajar memahami diri, mensyukuri hal-hal kecil, hingga menemukan semangat baru untuk melangkah.
Kini, komunitas journaling di Berau mulai tumbuh dengan anggota dari berbagai latar belakang profesi. Meski tantangan mengatur waktu pertemuan masih menjadi kendala, Riska berharap kegiatan ini terus berkembang dan semakin banyak orang merasakan manfaatnya.
“Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, terkadang seseorang hanya membutuhkan selembar kertas kosong untuk kembali menemukan dirinya sendiri,” tutupnya.