BERITA TERKINI
Rantok di Desa Pemepek Beralih Fungsi dari Penumbuk Padi Menjadi Instrumen Musik Tradisional

Rantok di Desa Pemepek Beralih Fungsi dari Penumbuk Padi Menjadi Instrumen Musik Tradisional

Rantok, alat penumbuk padi tradisional yang dulu digunakan masyarakat saat musim panen, kini mengalami pergeseran fungsi di Desa Pemepek, Lombok Tengah. Seiring berkembangnya teknologi penggilingan padi, alat yang sebelumnya dipakai untuk menumbuk padi secara manual itu kini lebih sering dimainkan sebagai instrumen musik tradisional dalam berbagai kegiatan adat.

Anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pemepek, Desi, menjelaskan Rantok dibuat dari kayu yang kuat agar tahan lama. Menurutnya, jenis kayu yang biasa digunakan adalah kayu belanting atau kayu garu, sehingga alat tersebut dapat bertahan hingga ratusan tahun.

“Dulu kan digunakan sebagai alat penumbuk padi, jadi harus memakai kayu yang memang kuat. Biasanya dipakai kayu belanting atau kayu garu,” kata Desi, Jumat (26/6/2026).

Meski fungsi utamanya telah bergeser, Rantok tetap dipertahankan sebagai bagian dari tradisi budaya. Dalam pertunjukan saat kegiatan adat atau begawe, satu kelompok pemain umumnya terdiri dari tujuh hingga delapan orang, dengan peran serta pola pukulan yang berbeda-beda.

Desi menyebut, peran Pemalek adalah mengatur tempo utama, dengan memegang dua alu di tangan kanan dan kiri. Sementara itu, Rembak dimainkan oleh tiga hingga empat orang dengan pola pukulan pantulan yang memiliki nada dan spasi yang sama. Adapun Olo-olo dimainkan oleh dua orang dengan pola pukulan serupa Rembak, tetapi menggunakan tempo yang lebih cepat.

Kemampuan memainkan Rantok, lanjut Desi, diwariskan secara turun-temurun. Proses belajar biasanya berlangsung secara langsung ketika masyarakat terlibat dalam kegiatan adat. Ia menambahkan, tidak ada batasan usia maupun gender bagi para pemain, sehingga anak-anak hingga orang dewasa dapat ikut ambil bagian.

Selain menjadi bagian dari pertunjukan tradisi, tabuhan Rantok juga berfungsi sebagai penanda kegiatan adat. Menurut Desi, suara Rantok kerap menjadi pemanggil warga agar datang ke lokasi acara.

“Di sini juga gitu, kalau kita ada acara adat dan membunyikan Rantok, masyarakat akan datang,” ujarnya.