MALANG — Jarak tidak menghalangi Poulindria Wulandari untuk tetap aktif berkarya. Penyanyi sekaligus penulis lagu asal Kota Malang itu terus menjaga eksistensinya di dunia musik meski telah menetap di Western Australia sejak 2005. Dengan dukungan teknologi digital, ia tetap merilis karya dan berinteraksi dengan penikmat musik di Indonesia maupun mancanegara.
Selama tinggal di Australia, Poulindria tetap menekuni musik yang telah membesarkan namanya. Ia dipercaya menjadi vokalis sekaligus entertainment leader West Kharisma Band, grup musik yang rutin tampil di berbagai acara, mulai dari pesta pernikahan, perayaan keluarga, hingga kegiatan privat.
Selain tampil di panggung, Poulindria juga konsisten menghasilkan karya orisinal. Sejumlah lagu ciptaannya, seperti Pahit Manisnya Cinta dan Curhatan Hatiku, telah tersedia di berbagai platform layanan musik digital sehingga dapat didengarkan oleh pendengar dari berbagai negara.
Bagi Poulindria, bermusik bukan sekadar profesi, melainkan cara untuk tetap terhubung dengan identitas dan para pendengarnya meski berada jauh dari Indonesia.
“Walaupun saya sudah lama tinggal di Australia, kecintaan saya terhadap musik Indonesia tidak pernah berubah. Saya ingin terus berkarya dan menunjukkan bahwa jarak bukan alasan untuk berhenti bermimpi,” ujar Poulindria.
Di luar musik, ia juga memanfaatkan media sosial sebagai ruang berekspresi. Melalui kanal YouTube dan akun TikTok, Poulindria rutin membagikan konten hiburan yang memadukan musik, cerita inspiratif, serta interaksi dengan para pengikutnya.
Salah satu program yang konsisten dihadirkannya adalah podcast Curhatan Hati yang tayang setiap hari Rabu. Program ini mengangkat topik ringan seputar kehidupan, pengalaman pribadi, hingga kisah yang dekat dengan keseharian masyarakat.
Sementara itu, pada setiap akhir pekan ia menghadirkan Komal Singalong, sesi hiburan yang mengajak penonton bernyanyi bersama secara langsung melalui platform digital. Program tersebut menjadi salah satu cara Poulindria menjaga kedekatan dengan penggemar meski terpisah jarak.
Poulindria menilai perkembangan teknologi telah membuka peluang baru bagi musisi untuk berkarya tanpa dibatasi wilayah.
“Sekarang musisi tidak harus berada di satu tempat untuk bisa menjangkau pendengar. Lewat platform digital, karya kita bisa dinikmati siapa saja. Saya berharap bisa terus menghasilkan lagu-lagu baru sekaligus menginspirasi teman-teman agar tidak pernah berhenti berkarya di mana pun berada,” tuturnya.