Pemerintah Kota Surakarta menjajaki penguatan kolaborasi dengan PT Konimex dalam pengembangan ekosistem herbal terintegrasi, sebagai bagian dari Program IDAMAN (Indonesia Sadar Jamu Aman). Kunjungan kerja dilakukan Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) dan instansi strategis ke PT Konimex pada Jumat (10/7/2026).
Rombongan dipimpin Astrid dan turut diikuti Kepala Balai POM Surakarta Mohammad Fajar Arifin, Kepala BRIDA Kota Surakarta Kentis Ratnawati, perwakilan Dinas Koperasi UKM dan Perindustrian, serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Surakarta. Mereka disambut Direktur PT Konimex Rahmadi Yusuf beserta jajaran.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan meninjau proses produksi modern PT Konimex, mulai dari pengolahan obat tradisional, pengemasan, hingga pengenalan lini produk. Mereka juga berdiskusi terkait riset, pengendalian mutu, dan standardisasi industri farmasi.
Astrid menyatakan Surakarta memiliki modal besar untuk berkembang menjadi pusat pengembangan herbal nasional. Menurutnya, pengembangan tanaman obat tidak cukup berhenti pada budidaya, melainkan perlu dibangun sebagai ekosistem yang saling terhubung dari hulu hingga hilir.
“Solo memiliki potensi besar menjadi salah satu pusat pengembangan herbal di Indonesia. Yang ingin kami bangun bukan hanya produk jamunya, tetapi keseluruhan ekosistemnya. Mulai dari riset, penyediaan bahan baku oleh petani, industri pengolahan, pengawasan mutu, hingga pemberdayaan UMKM agar menghasilkan produk yang berkualitas dan bernilai ekonomi tinggi,” kata Astrid.
Ia menambahkan, penguatan ekosistem herbal juga diproyeksikan menjadi salah satu kekuatan baru Surakarta untuk mengembangkan wellness tourism atau wisata kebugaran yang disebutnya tengah menjadi tren global. Astrid menilai Solo yang selama ini dikenal sebagai Kota Budaya dapat memperkuat identitasnya dengan menghadirkan wisata kebugaran berbasis jamu dan herbal.
“Solo sudah dikenal sebagai Kota Budaya. Ke depan kami ingin memperkuat identitas itu dengan menghadirkan wellness tourism berbasis jamu dan herbal. Kita memiliki budaya minum jamu, industri herbal yang kuat, lembaga riset, petani tanaman obat, hingga pelaku UMKM. Kalau seluruh ekosistem ini bergerak bersama, saya optimistis Solo akan menjadi destinasi wellness tourism yang menawarkan kesehatan berbasis kearifan lokal sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Astrid, kunjungan ke PT Konimex menjadi langkah penting untuk mewujudkan Program IDAMAN. Pengalaman perusahaan dalam membangun industri herbal berbasis riset dan inovasi dinilai dapat menjadi referensi bagi Pemkot Surakarta.
“Kami optimistis PT Konimex dapat menjadi mitra strategis dalam mewujudkan Program IDAMAN. Konimex telah membuktikan bahwa produk herbal lokal dapat berkembang melalui riset, inovasi, standardisasi, dan pengendalian mutu yang baik. Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut untuk memperkuat pengembangan herbal di Kota Solo,” kata Astrid.
Dalam skema pengembangan ekosistem herbal, tiap instansi disebut memiliki peran strategis. BRIDA Kota Surakarta diproyeksikan menjadi penggerak riset dan inovasi agar potensi tanaman obat lokal dapat diolah menjadi produk bernilai tambah. Balai POM Surakarta memberikan pendampingan agar produk memenuhi standar keamanan, mutu, dan khasiat.
Sementara itu, Dinas Koperasi UKM dan Perindustrian diarahkan untuk memperkuat kapasitas UMKM herbal melalui pendampingan legalitas, sertifikasi, pengemasan, hingga pemasaran. Dispangtan memegang peran dalam memastikan ketersediaan bahan baku herbal yang berkualitas dan berkelanjutan, sekaligus mendorong budidaya tanaman obat bernilai ekonomi tinggi dan pendampingan kepada petani agar mampu memasok bahan baku sesuai standar industri.
Melalui kolaborasi lintas sektor tersebut, Pemkot Surakarta menargetkan terbentuknya rantai pasok herbal yang utuh, mulai dari petani, peneliti, industri, pemerintah, hingga pelaku UMKM. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Program IDAMAN disebut menjadi salah satu strategi Pemkot Surakarta untuk mengembalikan budaya konsumsi jamu yang aman sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Di saat yang sama, program itu juga diarahkan sebagai upaya pelestarian warisan budaya sekaligus pengembangan industri herbal modern berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi.
Pemkot Surakarta menyatakan optimistis studi banding ke PT Konimex dapat mempercepat lahirnya kebijakan pendukung pengembangan sentra herbal, memperkuat kolaborasi lintas sektor, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta memperluas keterlibatan masyarakat dalam pengembangan tanaman obat.
Dengan langkah tersebut, Pemkot Surakarta menargetkan Solo tidak hanya dikenal sebagai Kota Budaya, tetapi juga berkembang sebagai Kota IDAMAN dan salah satu pusat wellness tourism berbasis jamu dan herbal di Indonesia. Program ini diharapkan turut meningkatkan derajat kesehatan masyarakat serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan berbasis potensi lokal.