Dua dosen Seni Karawitan ISI Padangpanjang, I Dewa Nyoman Supenida dan Sriyanto, menggelar pembinaan serta pelatihan seni musik tradisi Nusantara bagi anggota Sanggar Seni Budaya Srikandi di Kota Sawahlunto. Kegiatan yang berlangsung dalam dua tahap pada 9–11 Oktober 2025 itu merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat.
Pelatihan ini digelar dengan mempertimbangkan karakter Sawahlunto sebagai kota multietnis yang dihuni beragam kelompok, di antaranya Minangkabau, Jawa, Sunda, Batak, Bugis, serta etnis lainnya. Keberagaman tersebut dinilai menyimpan kekayaan tradisi seni yang diwariskan masing-masing komunitas, termasuk tradisi musik yang memuat nilai sejarah, identitas budaya, dan kearifan lokal.
Dari rangkaian pelatihan, peserta diarahkan untuk menghasilkan karya kolaboratif bertajuk “Srikandi In Harmony Multicultural”. Karya ini mengangkat semangat perempuan sebagai simbol kekuatan, ketangguhan, kepemimpinan, sekaligus pemersatu keberagaman budaya. Sosok Srikandi digunakan sebagai metafora untuk mempresentasikan peran perempuan dalam membangun harmoni di tengah masyarakat multikultural.
Menurut penyelenggara, pelatihan musik tradisi Nusantara diharapkan dapat membuka ruang dialog budaya melalui aktivitas kesenian. Musik dipandang sebagai medium efektif untuk mempertemukan berbagai identitas budaya, sekaligus menumbuhkan sikap saling menghargai, toleransi, dan rasa memiliki terhadap keberagaman.
I Dewa Nyoman Supenida menjelaskan, metode yang digunakan dalam pelatihan adalah pendekatan partisipatif dan demonstratif dengan praktik langsung atau learning by doing. “Metode pelatihan ini dipilih karena pembelajaran musik tradisi tidak hanya menuntut pemahaman konsep, tetapi juga penguasaan keterampilan musikal melalui pengalaman praktik secara langsung. Selain itu, pendekatan partisipatif memungkinkan peserta dari berbagai latar belakang budaya untuk saling berinteraksi, berkolaborasi dan belajar bersama dalam suasana yang inklusif,” kata Supenida dalam wawancara pada Selasa, 2 Juni 2026, pukul 10.00 WIB di Kota Padang Panjang.
Sementara itu, Sriyanto menyebutkan pelatihan mencakup ceramah, diskusi, praktik langsung, latihan kelompok, tutor sebaya, kolaborasi kreatif, evaluasi, serta refleksi. “Pelaksanaan pelatihan sudah barang tentu berorientasi pada pengalaman belajar peserta dengan menempatkan praktik musik sebagai kegiatan utama. Hal ini tentu diharapkan peserta mampu memahami, mempraktikkan, dan mengembangkan musik tradisional Nusantara dalam menumbuhkan sikap apresiatif terhadap keberagaman budaya yang hidup dalam masyarakat multietnis di Kota Sawahlunto,” ujarnya dalam wawancara pada Selasa, 2 Juni 2026, pukul 11.00 WIB di Kota Padang Panjang.
Rangkaian pelatihan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama meliputi pengenalan konsep musikal, instrumen, dan teknik dasar memainkan instrumen musik Nusantara, seperti gamelan Jawa dan Bali, talempong Minangkabau, kolintang Sulawesi, serta gondang Batak, termasuk penguasaan teknik dasar produksi bunyi.
Tahap berikutnya adalah perancangan karya musik kolaboratif bertema keberagaman masyarakat multikultural di Sawahlunto. Dalam proses ini, pelatih membimbing peserta menerjemahkan potensi artistik menjadi karya yang mempersatukan kelompok etnis melalui penyusunan konsep musikal.
Tahap ketiga mencakup seleksi instrumen yang digunakan dalam penciptaan karya. Instrumen yang disebut digunakan antara lain perangkat gamelan Jawa seperti saron, bonang, ketuk, kempul-gong, dan kendang ciblon; instrumen gamelan Bali seperti suling, cenceng, kopyak, serta vokal kecak; instrumen Minangkabau seperti talempong, bansi, dan vokal/dendang; instrumen Batak Toba seperti gondang, taganing, dan vokal; kolintang dari Sulawesi; serta dizi dari China.
Pada tahap akhir, peserta diarahkan untuk menampilkan karya kolaboratif secara utuh dan komunikatif sebagai representasi nilai keberagaman yang tumbuh di Sawahlunto, dengan tujuan membangun harmoni budaya di tengah masyarakat multikultural.
Melalui pelatihan tersebut, karya “Srikandi In Harmony Multicultural” dihasilkan sebagai desain musik kolaboratif yang, menurut penyelenggara, tidak hanya menonjolkan kualitas artistik, tetapi juga memuat nilai edukatif mengenai keberagaman dan pentingnya hidup berdampingan.