GIANYAR — Salah satu akomodasi wisata di Ubud, Kabupaten Gianyar, menghadirkan inovasi layanan kebugaran (wellness) dengan memadukan spa tradisional Bali dan teknologi modern. Langkah ini dilakukan di tengah persaingan global sektor pariwisata yang menuntut pelaku usaha di Bali semakin kreatif menghadirkan produk wisata agar minat kunjungan wisatawan tetap terjaga.
Pengelola menilai, tren wisatawan kini tidak lagi sebatas mencari layanan spa dan kebugaran konvensional. Sebagian wisatawan menginginkan pengalaman yang lebih holistik, didukung teknologi canggih, serta dipersonalisasi sesuai kebutuhan tubuh masing-masing.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, akomodasi di Ubud itu merancang sebuah Wellness Pavilion bertingkat empat. Fasilitas ini dirancang untuk menaungi rangkaian teknologi wellness yang ditujukan tidak hanya untuk relaksasi, tetapi juga pemulihan yang lebih menyeluruh.
Di dalam paviliun tersebut, mesin-mesin medis ditempatkan dalam treatment pod berbahan rotan anyaman tangan dengan latar kehijauan hutan Ubud. Tamu diarahkan melalui tiga pengalaman yang dikurasi, yakni Athletic Recovery, Holistic Wellness, serta Beauty & Vitality, yang mengalir secara vertikal dari lantai atas ke bawah.
Pendiri akomodasi tersebut, Alban Kibarer, mengatakan pihaknya mengembangkan konsep yang menggabungkan diagnostik berbasis kecerdasan buatan dengan perawatan warisan turun-temurun dan kearifan lokal Bali. Menurutnya, pendekatan ini ditujukan untuk menghadirkan narasi pemulihan yang lebih utuh dalam suasana alam Ubud.
Melalui body scanning dan brain mapping berbasis kecerdasan buatan, tamu dapat melihat profil fisiologis secara langsung dalam hitungan menit. Data tersebut kemudian digunakan sebagai dasar penyesuaian perawatan, termasuk rekomendasi yang berkaitan dengan kebutuhan pemulihan.
Rangkaian layanan di Wellness Pavilion dimulai dari diagnostik di tingkat teratas, lalu berlanjut ke thermal circuits dan jungle pool di lantai dasar. Selain itu, tersedia Vitality Bar yang menyajikan resep nutrisi presisi yang dipadukan dengan racikan organik, dengan tujuan memastikan tubuh memperoleh asupan yang sesuai.
Meski mengandalkan teknologi, pengelola menekankan sentuhan manusia tetap menjadi bagian penting dari proses pemulihan. Di bawah struktur bambu, seni penyembuhan Bali diterapkan melalui layanan terapis berpengalaman, termasuk pijatan yang berakar pada pengetahuan lokal yang telah dipraktikkan selama berabad-abad.
Dalam konsep yang mereka sebut sebagai Retreat Longevity, pengelola menilai wisatawan tidak perlu memilih antara perawatan alami dan teknologi, maupun antara kearifan lokal dan sains modern. Pihaknya menyatakan kedua pendekatan dapat dipadukan untuk menghadirkan pemulihan yang terukur dan ilmiah.
Pengelola juga menyebutkan penggunaan bahan-bahan organik yang diproduksi dari kebun di Ubud dan diracik dengan tangan menjadi bagian dari pengalaman perawatan. Unsur kearifan lokal Bali tersebut dinilai dapat memberi kehangatan emosional yang melengkapi siklus penyembuhan.