BERITA TERKINI
Nguyen Nguyet Thu Pulang ke Vietnam, Jadikan Musik sebagai Dukungan bagi Anak Autis dan Pasien Rumah Sakit

Nguyen Nguyet Thu Pulang ke Vietnam, Jadikan Musik sebagai Dukungan bagi Anak Autis dan Pasien Rumah Sakit

Busur menyentuh senar, bunyi viola terdengar, lalu diulang lagi dan lagi hingga nuansa yang dicari muncul. Ketelitian itu melekat pada Nguyen Nguyet Thu, musisi yang menempuh perjalanan panjang dari keluarga bermusik di Hanoi hingga meraih predikat lulusan terbaik dan penghargaan internasional, sebelum akhirnya memutuskan pulang ke Vietnam untuk mengembangkan pemanfaatan musik sebagai dukungan psikologis.

Nguyet Thu tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan musik. Ayahnya, Nguyen Van Thuong, dikenal sebagai guru terkemuka yang meletakkan dasar studi viola di Konservatorium Musik Hanoi dan termasuk orang pertama yang dikirim negara untuk belajar viola pada 1959, dengan harapan dapat kembali mengembangkan bidang tersebut. Sejak kecil, Nguyet Thu sudah berkenalan dengan musik dan belajar di Konservatorium Musik Hanoi.

Ia mengingat masa kanak-kanaknya diisi latihan yang ketat. “Seperti anak-anak lainnya, saya suka bermain. Dulu, ada kalanya saya merasa tersisih karena teman-teman saya lebih banyak bermain, sementara saya harus berlatih piano dari pagi hingga malam setiap hari,” kenangnya.

Titik balik muncul saat ia menonton Olimpiade 1980 di Rusia. Ia terkesan melihat atlet di podium, bendera nasional dikibarkan, dan merasakan dorongan untuk berusaha agar prestasinya bisa membawa nama Vietnam dikenal. Ketika spesialisasi viola mulai dibentuk di Konservatorium Musik Hanoi, ayahnya membimbingnya beralih dari biola ke viola.

Pada 1989, Nguyet Thu menerima beasiswa ke Rusia untuk belajar di Akademi Musik Nasional Gnessin di Moskow. Sepuluh tahun kemudian, ia lulus sebagai yang terbaik di kelasnya dalam bidang viola dari Konservatorium Tchaikovsky. Selama masa studi dan penampilannya, ia meraih tiga penghargaan internasional, termasuk penghargaan atas penampilan membawakan karya J.C. Bach dalam sebuah kompetisi viola internasional di Inggris.

Bagi Nguyet Thu, kemampuan saja tidak cukup. Ia menekankan pentingnya motivasi untuk bertahan hingga akhir. “Menurut saya, sulit untuk mencapai hal-hal besar jika Anda hanya melakukan sesuatu untuk diri sendiri. Tetapi ketika Anda melakukan sesuatu untuk keluarga, tanah air, atau sesuatu yang melampaui keuntungan pribadi, Anda akan memiliki motivasi lebih untuk mengatasi kesulitan,” ujarnya.

Namun perjalanan hidupnya tidak hanya berisi pencapaian akademik dan panggung pertunjukan. Selama bertahun-tahun tinggal di luar negeri, ia membangun keluarga, tetapi pernikahannya berakhir ketika putranya baru berusia satu tahun. Sejak itu, ia membesarkan anaknya seorang diri di negeri asing.

Saat anaknya berusia dua tahun, Nguyet Thu mulai melihat tanda-tanda yang menurutnya tidak biasa: terlambat berbicara, kurang interaktif, dan tidak bermain seperti anak-anak seusianya. Ia juga mengingat momen ketika ayahnya datang dari Vietnam untuk membantu setelah perceraian. Dalam situasi anak yang menangis dan mencari ibunya, sang kakek menenangkan cucunya dengan bahasa Vietnam, dan anak itu tiba-tiba tenang, memeluk leher kakeknya, lalu menyapa ibunya dalam bahasa Belanda.

Nguyet Thu sempat menyalahkan diri sendiri. “Saya selalu berpikir kondisi anak saya disebabkan oleh perceraian saya, karena saya tidak membesarkannya dengan cukup baik. Saat itu, saya lebih takut anak saya mengalami masalah daripada apa yang orang pikirkan tentang saya,” katanya. Ketika putranya memasuki usia prasekolah, ia didiagnosis mengalami gangguan spektrum autisme. Ia menuturkan bahwa pada masa itu informasi tentang autisme masih sangat terbatas, sehingga ia banyak mencari dan mempelajari sendiri berbagai dokumen terkait gangguan perkembangan.

Ia juga mengingat pertanyaan yang kerap muncul pada orang tua: apakah autisme bisa disembuhkan. Jawaban yang ia terima membuatnya terpukul. “Ini bukan penyakit yang dapat disembuhkan, tetapi sindrom yang harus kami pelajari untuk hidup bersamanya seumur hidup,” ujarnya.

Dalam tahun-tahun awal membesarkan anaknya, Nguyet Thu memperhatikan putranya memiliki respons khusus terhadap musik. Ketika mendengarkan musik instrumental, anaknya cenderung lebih tenang, tidak mudah gelisah, dan lebih stabil secara emosional. Ia semula menilai piano cocok karena suaranya merata dan getarannya kecil. Namun pengamatannya membuatnya merasa instrumen gesek, terutama viola, memberi dampak emosional yang lebih besar.

Menurutnya, suara viola yang dalam dan hangat mendekati frekuensi suara manusia, sehingga dapat mengekspresikan emosi sekaligus terhubung dengan kondisi mental pendengar. Berangkat dari pengalaman pribadi, ia bereksperimen dan mendalami dampak suara terhadap psikologi, sistem saraf, dan emosi.

“Penyesalan terbesar saya adalah tidak mengetahuinya lebih awal. Saya hanya memikirkan bagaimana membuat anak saya senormal mungkin, tanpa menyadari bahwa dia juga memiliki kelebihan sendiri, bahwa dia bisa belajar musik, dan bahkan melangkah lebih jauh di bidang musik,” tuturnya.

Dari penyesalan itu tumbuh keinginan untuk kembali ke Vietnam, bukan hanya untuk melanjutkan profesi, tetapi juga berbagi pengalaman dengan para ibu yang memiliki anak dengan gangguan spektrum autisme. Ia menilai, bila keluarga mendapat akses lebih awal pada musik dan metode dukungan yang tepat, perjalanan mereka bisa lebih singkat dan tidak terlalu menantang dibanding yang ia alami.

Setelah 26 tahun belajar, bekerja, dan tinggal di luar negeri, Nguyet Thu memutuskan pulang ke Vietnam dan membuka sekolah yang menggunakan musik untuk membantu anak-anak dengan gangguan spektrum autisme.

Sepulangnya, ia melanjutkan kegiatan mengajar dan mendampingi anak-anak autis, sekaligus memperkenalkan musik ke rumah sakit sebagai bentuk dukungan bagi mereka yang sedang berada pada fase sulit. Ia membawa musik ke tiga rumah sakit: Rumah Sakit Bach Mai, Rumah Sakit Onkologi, dan Rumah Sakit Rehabilitasi. Baginya, rumah sakit bukan hanya tempat perawatan fisik, tetapi juga ruang yang membutuhkan dukungan kesejahteraan mental.

Nguyet Thu menilai tenaga kesehatan juga memerlukan ruang untuk menjaga kesehatan mental. Ia berpendapat, ketika dokter dan petugas kesehatan tidak terlalu stres dan memiliki energi lebih, mereka dapat merawat pasien dengan lebih baik. Di sisi lain, saat pasien dan keluarga lebih tenang secara emosional, interaksi di rumah sakit bisa berjalan lebih lancar.

Ia menegaskan musik tidak menggantikan pengobatan, tetapi dapat membantu membangun suasana yang lebih manusiawi selama perawatan. Ia menyebut kerap memilih musik instrumental, termasuk musik latar film, karena percaya melodi dapat membangkitkan kenangan positif dan membantu pendengar sejenak melupakan rasa sakit, stres, atau keputusasaan.

Gagasan itu semakin bermakna ketika ia sendiri menjadi pasien. Pada akhir Maret, ia dirawat karena kondisinya memburuk cepat. Sebelumnya, ia mengalami sesak napas berkepanjangan, kaki bengkak hingga tidak bisa memakai sepatu, dan kesulitan berjalan. Di rumah sakit, dokter mendiagnosisnya menderita diabetes, tekanan darah sangat tinggi, efusi pleura, serta gagal jantung parah. Hasil pemeriksaan menunjukkan fungsi jantungnya hanya sekitar sepertiga dari kapasitas normal.

Dalam kondisi sesak napas, kelelahan fisik, dan membutuhkan perawatan darurat, ia merasakan rapuhnya kesehatan secara lebih nyata. Dari seseorang yang rutin datang ke rumah sakit untuk berbagi melalui musik, ia kini mengalami langsung tekanan pengobatan, kelelahan pasien, serta beban kerja dokter dan perawat.

Meski demikian, ia tetap menyimpan rencana untuk mengembangkan aktivitas musik di rumah sakit dan membangun saluran musik penyembuhan di platform digital. Setelah melalui perjalanan sebagai seniman, ibu tunggal, hingga pasien, Nguyet Thu mengatakan ia ingin terus melakukan apa yang mampu ia lakukan lewat musiknya.

“Saya rasa saya akan terus melakukannya selama saya mampu. Setelah melewati begitu banyak kesulitan, saya semakin percaya bahwa jika saya masih bisa memberikan sedikit kedamaian, sedikit harapan, atau momen indah kepada seseorang, maka itu layak untuk dilanjutkan,” ujarnya.