Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mengubah cara musik diciptakan dan diproduksi, termasuk di Vietnam. Kini, komposisi musik disebut semakin mudah dilakukan, seiring munculnya berbagai produk musik berbasis AI di platform digital. Di kalangan anak muda, AI bahkan dipandang sebagai “musisi virtual” yang membantu pembuatan konten untuk media sosial, periklanan, maupun hiburan pribadi.
Di YouTube, TikTok, dan Facebook, lagu-lagu yang dibuat sepenuhnya dengan AI kian banyak bermunculan dan mampu menarik jutaan penonton. Fenomena ini menunjukkan bagaimana teknologi memperluas akses terhadap produksi musik, termasuk bagi mereka yang tidak memiliki pengetahuan teknis atau latar belakang musik.
Sejumlah manfaat dinilai sulit dibantah. AI dapat menghemat waktu dan biaya produksi. Bagi musisi, teknologi ini juga kerap dimanfaatkan sebagai alat referensi untuk mencari ide, membangun melodi, atau bereksperimen dengan gaya baru.
Namun, kemudahan tersebut juga memunculkan kekhawatiran. Para ahli menilai risiko terbesar adalah berkurangnya peran emosi manusia dalam penciptaan karya seni. Musik dipandang sebagai puncak pengalaman hidup, perasaan batin, serta jejak pribadi seniman. Sementara itu, AI bekerja melalui analisis data, simulasi, dan rekreasi pola yang sudah ada. Walau dapat menghasilkan melodi yang menarik, AI dinilai sulit menggantikan kedalaman emosi, pengalaman hidup, dan nilai kemanusiaan yang biasanya tertanam dalam karya manusia.
Isu hak cipta turut menjadi sorotan. Sebagian besar sistem AI dilatih menggunakan basis data besar yang memuat jutaan karya musik dari musisi di berbagai negara. Muncul pandangan bahwa penggunaan karya-karya tersebut untuk melatih AI tanpa izin penuh dari pemilik hak cipta perlu dipertimbangkan secara serius.
Komposer Le Thanh Trung menyoroti kompleksitas kepengarangan dalam karya yang digubah AI. “Ketika sebuah karya musik digubah oleh AI, menentukan siapa pengarang yang sah menjadi sangat rumit. Bahkan, karya yang digubah oleh AI tidak akan diberikan hak cipta dan akan dikembalikan,” ujarnya.
Tantangan lain datang dari teknologi imitasi suara berbasis AI. Dengan hanya beberapa menit data audio, AI disebut mampu meniru suara penyanyi terkenal dengan akurasi tinggi. Kondisi ini memunculkan potensi risiko pelanggaran hak pribadi, menyesatkan publik, serta merusak reputasi artis.
Berbagai persoalan tersebut mendorong pertanyaan tentang langkah untuk mengurangi ketergantungan pada AI dalam penciptaan musik. Isu ini menjadi perhatian para ahli serta sejumlah organisasi, termasuk Persatuan Asosiasi Sastra dan Seni Vietnam, Asosiasi Musisi Vietnam, dan Asosiasi Seniman Teater Vietnam. Ketiganya mengangkat tema tersebut dalam seminar “Menjaga Integritas dalam Pertunjukan Artistik dan Tanggung Jawab Pencipta di Era Digital.”
Dalam seminar itu, Wakil Kepala Departemen Propaganda dan Mobilisasi Massa Pusat, Tran Thanh Lam, menekankan posisi teknologi sebagai pendukung, bukan pengganti. “Teknologi hanya benar-benar bermakna ketika berperan sebagai pendukung, membantu meningkatkan kualitas seni dan memperkuat emosi. Teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan kerja keras, keringat di panggung latihan, dan perasaan tulus dari hati seorang seniman,” katanya. Ia juga menyatakan bahwa eksplorasi inovatif terkait teknologi dan AI tidak ditolak, namun perlu dilakukan “dengan hati yang hangat dan jiwa artistik yang murni.”
Para delegasi sepakat bahwa teknologi merupakan tren yang tidak terelakkan. Karena itu, yang dinilai penting adalah penggunaan secara bertanggung jawab dengan menempatkan manusia sebagai pusat kegiatan kreatif. Para ahli juga menekankan konsep “integritas” dalam seni, yang tidak hanya terkait kemampuan tampil sesuai kemampuan sesungguhnya, tetapi juga kejujuran dalam proses kreatif.
Dalam konteks ini, seniman didorong untuk transparan mengenai sejauh mana penggunaan AI dalam karya mereka, menghormati hak cipta, serta tidak menjadikan teknologi sebagai alat untuk menyalin atau mencuri kekayaan intelektual pihak lain. Selain itu, para komposer diingatkan untuk menjunjung etika profesional dan tidak semata mengejar jumlah penonton atau keuntungan dengan segala cara.
Untuk membatasi ketergantungan pada AI dalam komposisi musik, sejumlah langkah dinilai perlu dijalankan secara bersamaan, mulai dari perbaikan undang-undang hak cipta, peningkatan etika profesional, penguatan pendidikan tentang kesadaran kreatif, hingga memastikan transparansi penggunaan teknologi dan mendorong nilai-nilai artistik yang autentik.
Para pemangku kepentingan menilai, ketika seniman mempertahankan tanggung jawab terhadap profesi dan publik, musik akan tetap menjadi suara jiwa, bukan sekadar produk yang dihasilkan oleh baris-baris kode tanpa emosi. Karya yang mengejar kebenaran, kebaikan, dan keindahan, disertai emosi tulus penciptanya, dipandang dapat berkontribusi pada perkembangan musik Vietnam yang maju sekaligus kaya identitas nasional.