BERITA TERKINI
Napak Tilas REDSHiFT: Berawal dari Forum Online, Menang Lomba, hingga Panggung Ennichisai

Napak Tilas REDSHiFT: Berawal dari Forum Online, Menang Lomba, hingga Panggung Ennichisai

REDSHiFT berawal dari ketertarikan pada produksi musik berbasis komputer yang muncul sejak 2007. Saat itu, sang penggagas mulai mengulik pembuatan cover, remix, hingga lagu orisinal. Namun ia kerap menemui hambatan karena merasa tidak bisa bernyanyi dan belum memiliki kenalan yang dapat mengisi vokal untuk materi yang dibuat.

Situasi itu berubah sekitar 2009, ketika ia menemukan VOCALOID melalui artikel Wikipedia tentang sintesis atau generasi vokal. Menurutnya, konsep perangkat lunak musik yang serius namun memiliki persona atau karakter bergaya anime terasa unik. Ketertarikan tersebut juga selaras dengan kebiasaannya mengikuti kultur internet Jepang pada masa itu, sehingga penggunaan VOCALOID dalam alur kerja produksi musiknya terasa mulus.

Dari sana, ia mulai berjejaring dengan teman-teman daring yang memiliki minat serupa, terutama melalui Kaskus dan forum VOCALOID Indonesia. Di komunitas itu, ia bertemu berbagai orang dengan latar berbeda, seperti VOCALOID tuner, ilustrator, hingga pembuat video musik. Mereka kemudian membentuk sebuah production unit bernama REDSHiFT pada tahun yang sama.

Perjalanan REDSHiFT berlanjut ke panggung pertunjukan ketika mereka mengikuti lomba pembuatan theme song untuk event CLASH pada 2013. Mereka membuat lagu orisinal berjudul Keep the Joy Loop Forever yang dinyanyikan Hatsune Miku, dan berhasil meraih juara pertama. Hadiah yang diterima berupa DJ controller, sekaligus undangan tampil di Ennichisai pada tahun yang sama.

Sejak momen itu, REDSHiFT mulai menerima berbagai undangan tampil di beragam acara bertema Jepang, baik di wilayah Jabodetabek maupun luar kota. Ia mengingat, pada periode tersebut skena DJ anikura (Anisong Club) di Indonesia belum banyak berkembang sehingga referensi mengenai format penampilan pun masih terbatas. Meski begitu, ia menilai aktivitas nge-DJ terasa menyenangkan dan tidak terlalu menyita waktu, sehingga tetap dijalani hingga kini.

Soal pengalaman panggung yang paling berkesan, ia menyebut masa-masa akhir tampil di Ennichisai sebagai salah satu puncaknya. Dalam beberapa kesempatan latihan, ide-ide mendadak sempat muncul, termasuk rencana membuat hologram Miku menggunakan proyektor untuk sesi encore. Ia mengisahkan, tim berhasil mengeksekusinya dalam waktu kurang dari sepekan setelah bertemu orang-orang yang tepat serta menyiapkan perencanaan dan logistik. Meski tidak sempurna dan harus merogoh kocek sendiri karena biaya sewa proyektor serta properti lebih besar daripada bayaran tampil, ia mengaku puas dengan hasil yang dicapai saat itu.

Kenangan lain datang pada masa pandemi COVID-19. Bersama rekan-rekan dari kolektif DAIJOBUCLUB, ia menggarap sebuah event online yang disponsori Netflix Anime Japan. Mereka mengerjakan berbagai kebutuhan produksi secara mandiri, mulai dari konsep acara hingga tata panggung. Ia juga menyebut pengalaman itu menjadi kali pertama baginya nge-DJ sambil cosplay yang dinilai cukup proper. Ia merasa senang dengan hasil dan respons penonton, meski menilai suasana akan lebih seru bila dapat digelar secara luring seperti sekarang.