Musim sepak bola, termasuk gelaran seperti World Cup 2026, kerap mengubah rutinitas harian banyak orang. Jam tidur bergeser, obrolan grup ramai dengan prediksi pertandingan, dan mereka yang biasanya sudah beristirahat sebelum tengah malam bisa rela terjaga hingga dini hari demi menyaksikan tim favorit bertanding.
Bagi penggemar, momen ini sering terasa menyenangkan. Menonton bersama teman atau keluarga dapat menghadirkan kebersamaan, kegembiraan, sekaligus menjadi pelepas stres setelah hari yang melelahkan.
Namun, di balik euforia tersebut, ada dampak yang kerap luput diperhatikan: kelelahan akibat kurang tidur dan perubahan pola hidup. The Wellness Insider menyoroti salah satu kekeliruan yang sering terjadi, yakni anggapan bahwa waktu tidur yang hilang dapat diganti begitu saja pada akhir pekan.
Kurang tidur yang berulang dapat memengaruhi konsentrasi, suasana hati, serta tingkat energi tubuh. Tidak jarang seseorang tetap merasa lelah meski sudah beristirahat lebih lama setelah beberapa hari berturut-turut begadang.
Karena itu, penggemar disarankan lebih selektif memilih pertandingan yang ingin ditonton secara langsung. Tidak semua laga harus disaksikan hingga peluit akhir. Jika jadwal pertandingan terlalu padat, menonton cuplikan pertandingan keesokan harinya dapat menjadi pilihan yang lebih ramah bagi tubuh.
Selain durasi tidur, lingkungan istirahat juga perlu diperhatikan. Setelah terpapar cahaya layar dan ketegangan pertandingan, sebagian orang mengalami kesulitan untuk segera terlelap. Mengondisikan kamar agar lebih nyaman—misalnya memakai tirai yang mampu menghalangi cahaya atau menjaga suhu ruangan tetap sejuk—dapat membantu tubuh lebih mudah beristirahat.
Kebiasaan mengonsumsi kopi atau minuman berkafein secara berlebihan agar tetap terjaga juga sebaiknya dibatasi, mengingat hal tersebut dapat memengaruhi kualitas tidur.