BERITA TERKINI
Musik Salai Jin dari Ternate Tercatat sebagai Ekspresi Budaya Tradisional di DJKI

Musik Salai Jin dari Ternate Tercatat sebagai Ekspresi Budaya Tradisional di DJKI

Musik Salai Jin merupakan salah satu warisan budaya tradisional dari Ternate, Maluku Utara. Musik ini menggunakan iringan rababu, suliang, rabano, dan tifa, serta kerap mengiringi tarian tradisional masyarakat.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum (Kemenkum) Maluku Utara, Budi Argap Situngkir, mengatakan Salai Jin telah tercatat sebagai ekspresi budaya tradisional (EBT) dari Maluku Utara dalam pangkalan data Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kemenkum. Pencatatan itu dilakukan melalui surat bernomor EBT822026000212.

Menurut Argap, pelindungan ekspresi budaya tradisional merupakan bagian dari komitmen negara untuk melindungi kekayaan intelektual komunal yang telah hidup di masyarakat secara turun-temurun. Ia menyebut langkah tersebut bertujuan menjaga identitas dan martabat bangsa, sekaligus melestarikan warisan budaya untuk generasi mendatang.

Argap menambahkan, pelindungan EBT, termasuk Musik Salai Jin, juga menjadi upaya menjaga budaya yang memiliki nilai sosial dan budaya. Selain itu, ia menilai pelindungan ini dapat meningkatkan nilai ekonomi masyarakat melalui pariwisata daerah.

Sejalan dengan itu, Kepala Divisi Pelayanan Hukum, Rian Arvin, mengajak pemerintah daerah, komunitas masyarakat, media, kampus, dan berbagai pihak untuk bersinergi mencatatkan potensi kekayaan intelektual komunal. Ia menyebut ruang pencatatan meliputi ekspresi budaya, pengetahuan tradisional, potensi indikasi geografis, indikasi asal, dan lainnya.

Rian menegaskan masyarakat Maluku Utara memiliki tradisi budaya yang telah ada sejak lama dan diwariskan antargenerasi. Ia mendorong pelestarian budaya tersebut melalui pencatatan kekayaan intelektual komunal kepada Kementerian Hukum.

Musik Salai Jin digambarkan berasal dari tabuhan tifa, suara gesekan rababu, serta lengkingan suara penyanyi yang menghadirkan suasana mistis. Irama lagu yang mendayu dengan nuansa Melayu mengiringi gerak penari yang berpasangan, berpadu dengan lantunan lirik mistis dan asap dari bakaran kemenyan.