Kabar bahwa kedai kopi harus membayar untuk memutar musik mulai 1 Juli disebut tidak berdampak pada sejumlah jaringan F&B besar. Starbucks, misalnya, menyatakan daftar putar yang digunakan di seluruh sistem sudah dilisensikan sebelumnya dan mereka juga memiliki perpustakaan musik berhak cipta sendiri.
Jaringan kedai teh Phe La juga menyampaikan hal serupa. Mereka mengatakan pembayaran royalti penggunaan musik kepada para mitra—baik musik Vietnam maupun internasional—selama ini telah dilakukan secara rutin.
Di sisi lain, setelah 1 Juli, pilihan musik di toko-toko disebut akan disederhanakan dibanding sebelumnya. Meski begitu, perubahan tersebut dinilai tidak akan memengaruhi secara signifikan arah musik yang menjadi identitas merek.
Di sebuah gerai Highlands Coffee di distrik An Khanh, Kota Ho Chi Minh, lagu-lagu pop populer masih diputar. Staf di lokasi menyebut seluruh biaya hak cipta untuk daftar putar tersebut telah dibayarkan.
Namun, kondisi ini dinilai lebih mudah diterapkan oleh jaringan besar yang memiliki anggaran memadai serta dukungan departemen hukum. Bagi kafe-kafe kecil, isu hak cipta musik masih menjadi persoalan, terutama karena pemilik usaha kerap tidak mengetahui harus mencari informasi dan prosedur ke mana.
Sebenarnya, kewajiban membayar royalti untuk pemutaran musik di kafe, restoran, dan bisnis lain bukan aturan baru. Ketentuan ini telah diatur dalam Undang-Undang Hak Kekayaan Intelektual beserta dokumen panduannya sejak lama.
Perhatian publik meningkat karena mulai 1 Juli, Keputusan 134/2026/ND-CP mulai berlaku dengan aturan yang lebih spesifik mengenai tarif pengumpulan dan metode penentuan royalti.
Duong Chung Thanh (28), pemilik kedai kopi SOLUS di kelurahan Hai Ba Trung, Hanoi, mengatakan ia mendukung pembayaran royalti. Namun, ia mengaku belum memahami secara jelas harus mendaftar di mana, instansi mana yang perlu dihubungi, serta prosedur apa yang harus dijalani.
Pada pagi 1 Juli, Thanh memilih membuka kategori “Musik Tanpa Hak Cipta” di YouTube dan memutar lagu-lagu gratis, yang sebagian besar berupa karya instrumental. Pilihan itu merujuk pada judul-judul seperti “50 Lagu Tanpa Hak Cipta Terbaik Tahun 2025” atau “musik santai dan menenangkan tanpa hak cipta untuk pagi hari”, yang kerap digunakan sebagai latar video di platform tersebut.
Thanh mengatakan masih menunggu petunjuk lebih rinci mengenai pembelian hak cipta musik untuk kafenya. Ia menambahkan, jika biaya dihitung berdasarkan luas kafe, ia menilai masih mampu membayar karena SOLUS tidak berukuran besar.
Sementara itu, perwakilan merek kopi Compresso di Bac Ninh menyebut tengah mempertimbangkan untuk bereksperimen menggunakan alat AI guna membuat musik latar khusus bagi kafe mereka. Saat ini, mereka juga masih menggunakan musik tanpa hak cipta dari YouTube. Dalam jangka panjang, mereka berharap tetap dapat menggunakan lagu-lagu populer para artis melalui mekanisme perizinan yang legal.
Perwakilan Compresso juga berharap pedoman pelaksanaan dapat disosialisasikan lebih jelas kepada usaha kecil, mulai dari lokasi pendaftaran, unit yang perlu dihubungi, hingga alur prosesnya.
Adapun Tran T. (nama dirahasiakan), pemilik kedai kopi di Jalan Nguyen Trai, Kota Ho Chi Minh, mengaku bingung ketika ditanya soal pembelian hak cipta musik. Ia mengatakan belum tahu harus berbuat apa karena melihat banyak toko lain masih memutar musik pop seperti biasa. Pada pagi 1 Juli, tokonya masih memutar daftar putar lagu-lagu dari MCK, Phung Khanh Linh, dan lainnya.
Ia menyebut belum mengambil keputusan dan berencana melihat langkah yang diambil pelaku usaha lain sebelum menentukan sikap.