Band rock asal Padang, Manhorse, resmi merilis album penuh perdana bertajuk Joyless Joyride pada 19 Juni 2026. Album berisi 10 lagu ini menjadi penanda fase baru perjalanan mereka setelah melalui proses penggarapan selama bertahun-tahun.
Manhorse diperkuat oleh Pandu Cakrawala Darmawan (gitar), Giovinn (vokal, gitar), Muhamad Zikri (bas), Harrista Wijaya (drum), dan Dzaky Zhafran (gitar). Dalam album ini, mereka memilih tidak terpaku pada satu warna musik, melainkan membagi Joyless Joyride ke dalam empat “universe” dengan karakter berbeda.
Keempat pendekatan tersebut mencakup nomor-nomor rock bertempo cepat, eksplorasi gitar yang melodis, lagu dengan pola repetitif yang hipnotis, hingga komposisi bertempo lambat yang lebih atmosferik. Meski beragam, seluruh lagu disebut tetap terikat oleh benang merah yang sama sehingga terasa sebagai satu kesatuan album.
“Kami ingin nge-capture semua rasa tersebut dalam sebuah album. Untuk referensi utamanya kita juga ngambil dari Queens of The Stone Age di album …Like Clockwork, yang mana hampir semua lagu di album tersebut memiliki rasa dan tesktur yang berbeda-beda, tetapi memiliki tema lirik yang sama,” kata Giovinn saat dihubungi pada 8 Juli.
Menurut Giovinn, keputusan menghadirkan empat karakter musik juga berangkat dari keinginan agar setiap pendengar dapat memiliki lagu favorit yang berbeda-beda. Mereka mengibaratkan album ini seperti hidangan dalam sebuah pesta pernikahan yang menawarkan beragam rasa, sekaligus menjadi cara Manhorse membuka kemungkinan eksplorasi untuk karya-karya berikutnya.
Proses menuju rilis album ini tidak berjalan mulus. Setelah sempat merekam seluruh materi, Manhorse memutuskan mengulang produksi dari awal pada 2025. Keputusan tersebut diambil karena mereka menilai hasil rekaman sebelumnya belum sepenuhnya merepresentasikan identitas band, baik dari sisi teknis maupun kualitas aransemen.
Dalam proses penggarapan ulang, sejumlah lagu dipangkas durasinya agar lebih padat. Untuk mixing dan mastering, Manhorse kembali memercayakan pengerjaan kepada Watchtower Record Yogyakarta bersama Mas Bable guna menyatukan karakter suara album.
“Karena kami tau tujuan kami untuk membuat album, kami tidak mau ada istilah ‘cek ombak/testing the water’. Banyak keterbatasan teknis yang kami hadapi pada saat proses rekaman yang awal, akhirnya dengan mantap kami mengulang semua rekaman dari awal lagi dengan tujuan akhirnya untuk mengeluarkan album,” ujar Giovinn.
Di luar proses kreatif, Manhorse turut menyoroti peran kolektif musik dalam perkembangan skena rock di Padang. Mereka menyebut Mamamia Chaotic Club sebagai salah satu ruang yang membantu mewujudkan showcase peluncuran album, sekaligus mengapresiasi kolektif lain seperti Invasion Crew dan Wave Attacks yang aktif menghidupkan skena hardcore dan punk di kota tersebut.
Ke depan, Manhorse menyatakan harapan untuk membangun kolektif sendiri sebagai wadah band-band rock di Padang sekaligus memperkuat koneksi antarkota di Pulau Sumatra.