Per 1 Juli, kebijakan pengumpulan biaya hak cipta musik dari kafe dan restoran terus menjadi topik perdebatan. Di satu sisi, banyak pihak menilai langkah ini diperlukan untuk melindungi hak cipta dan menghargai karya kreatif. Di sisi lain, pelaku usaha masih khawatir kebijakan tersebut dapat menambah beban biaya operasional.
Musisi Le Thanh Trung, saat menyampaikan pandangannya kepada seorang reporter dari Surat Kabar dan Opini Publik, mengatakan bahwa pembayaran royalti dalam musik merupakan tren yang tak terhindarkan dalam industri kreatif yang profesional. Namun, ia menekankan pentingnya membangun mekanisme pengumpulan yang transparan, fleksibel, dan wajar, sehingga hak pencipta tetap terlindungi tanpa menimbulkan beban tambahan bagi usaha kecil.
Menurut Le Thanh Trung, persoalan hak cipta tidak hanya berlaku di industri musik, melainkan menjadi prinsip umum di berbagai bidang kreatif. Ia menilai setiap karya musik lahir dari investasi waktu, usaha, emosi, dan biaya yang tidak sedikit—mulai dari proses belajar, menggubah, merekam, mengaransemen, hingga menyempurnakan demo.
“Hak cipta terutama tentang menghormati penulis dan karya mereka. Para pencipta juga perlu diakui dan dilindungi seperti dalam profesi lainnya,” ujarnya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tujuan utama musik tidak semestinya direduksi menjadi sekadar komoditas.
Selain membahas pengumpulan royalti, Le Thanh Trung juga menyoroti risiko lain di industri musik, yakni kemungkinan musik yang dihasilkan kecerdasan buatan (AI) mengungguli komposisi manusia apabila pasar hanya memprioritaskan biaya.