Di tengah dominasi musik populer, Herliandi—akrab disapa Andi—tetap memilih menekuni keroncong meski kerap mendapat komentar meremehkan dari lingkungan sekitarnya. “Ngapain latihan keroncong, band (modern) aja sudah,” begitu celetuk yang pernah ia terima saat berlatih di kawasan Kota Lama Banjarmasin.
Data Lembaga Survei Kedai KOPI menunjukkan genre pop menjadi musik kesukaan masyarakat Indonesia pada 2025 sebesar 85,1 persen, disusul rock 41,3 persen dan dangdut 37,7 persen. Namun bagi Andi, selera pasar tidak menjadi alasan untuk meninggalkan keroncong yang ia tekuni sejak sekolah.
“Bodo amat gak ditanggapin karena tahu dalamnya keroncong gimana isinya, jadi enjoy aja sih gak pengaruh tekanan-tekanan dari luar,” kata Andi saat ditemui di Banjarmasin, Jumat (26/6/2026) malam.
Andi, 26 tahun, mulai mengenal keroncong ketika bersekolah di SMK Negeri 2 Simpang Empat Batulicin. Saat itu sekolahnya bersama Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu memiliki program praktik kerja lapangan ke Solo untuk belajar keroncong. Selama tiga bulan di Solo, ia mendalami keroncong di bawah bimbingan Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (HAMKRI) Surakarta.
Pengalaman tersebut mengubah pandangannya. Ia semula mengira keroncong adalah musik Jawa, tetapi setelah belajar ia memahami keroncong sebagai musik nasional. Ia juga menekankan bahwa keroncong kerap disalahpahami sebagai musik daerah tertentu, padahal lagu-lagu nasional pun banyak yang menggunakan iringan keroncong, seperti karya-karya Ismail Marzuki.
Setelah lulus pada 2019, Andi melanjutkan kuliah di Pendidikan Seni Pertunjukan (PSP) FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan meneliti musik melayu di Kota Banjarmasin. Ia menyelesaikan studi pada 2023 dan kembali ke Batulicin untuk mengajar di MTs Nurul Hidayah Batulicin. Kesibukan mengajar tidak membuatnya meninggalkan keroncong. Saat libur sekolah, ia kerap menyempatkan diri ke Banjarmasin untuk berlatih bersama kelompoknya, Lantunan Keroncong Banua.
Lantunan Keroncong Banua terbentuk pada 2020 dari sekelompok pemuda yang memiliki minat serupa pada keroncong. Personelnya berasal dari sejumlah daerah di Kalimantan Selatan dan ada pula yang dari Jawa. Saat ini, kelompok tersebut memiliki 11 anggota aktif. Andi dipercaya sebagai koordinator dan rutin mengajak rekan-rekannya berlatih di kawasan Kota Lama Banjarmasin ketika ada waktu senggang.
Dalam penampilannya, Lantunan Keroncong Banua menggunakan instrumen seperti cak-cuk, selo, bass, biola, suling, gitar, dan panting. Kehadiran panting—alat musik tradisional Banjar—menjadi penanda lokalitas yang membedakan mereka dengan kelompok keroncong di daerah lain.
“Memang ciri khasnya itu panting supaya ada ciri Banua, itu yang dicoba ditekankan makanya namanya Lantunan Keroncong Banua harus ada lokalitas yang dibawa,” ujar Andi.
Kelompok ini juga berupaya membawakan kembali lagu-lagu daerah Banjar yang dinilai mulai jarang dikenal anak muda. Beberapa lagu yang disebut Andi antara lain Danding, Damarwulan, dan Tali Wasi. Mereka mencoba menghadirkannya dalam versi keroncong sebagai cara mengingatkan kembali masyarakat, terutama generasi muda, pada lagu daerahnya sendiri.
Andi menilai lagu dan kesenian tradisional penting karena mengandung nilai moral, adab, dan sopan santun orang Banjar yang menurutnya mulai tergerus. Dengan memadukan pakem keroncong, instrumen panting, dan lagu Banjar, Lantunan Keroncong Banua disebut masuk kategori keroncong hibrida.
Dalam beberapa tahun terakhir, Lantunan Keroncong Banua telah tampil di berbagai acara, mulai dari pernikahan hingga festival dan panggung budaya. Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Andi adalah ketika mereka diundang menjadi penampil pamungkas Festival Pasar Terapung 2023 di kantor Gubernur Lama di Banjarmasin.
Namun tampil di panggung besar bukan tanpa tantangan. Banyaknya instrumen yang dibawa membuat kebutuhan teknis, termasuk tata suara, menjadi lebih kompleks. Kendala teknis juga mereka hadapi saat tampil pada perayaan Hari Musik Dunia di Taman Budaya Kalsel, Banjarmasin, Jumat (26/6/2026) malam. Penampilan sempat tertunda karena suara monitor tidak terdengar sehingga personel harus mengandalkan feeling, yang menurut Andi dapat memengaruhi kerapian permainan.
“Yang awalnya rapi kan latihan, tapi karena teknis jadi blank bisa berpengaruh sampai sini. Makanya di awal memang agak sedikit lambat tampilnya,” ujarnya. Ia berharap hal tersebut menjadi evaluasi agar pengecekan suara dilakukan lebih awal.
Meski demikian, Andi menyampaikan apresiasi kepada Taman Budaya Kalsel yang telah memberi ruang tampil. Ia juga berharap dukungan pemerintah tidak hanya berupa panggung, tetapi juga penguatan kapasitas, misalnya melalui workshop dengan menghadirkan pemateri dari Jawa yang menguasai keroncong. Ia turut mendorong agar komunitas keroncong di Kalimantan Selatan bertambah, karena sejauh yang ia ketahui saat ini yang aktif terlihat baru Lantunan Keroncong Banua dan HAMKRI Barito Kuala.
“Komunitas keroncong khususnya yang masih belum tersentuh bisa muncul lagi banyak lagi komunitas di Kalsel agar perkembangan keroncong lebih besar lagi,” kata Andi.
Apresiasi terhadap Lantunan Keroncong Banua datang dari sejumlah tokoh. Budayawan Kalimantan Selatan HE Benyamine menilai kehadiran kelompok ini memberi warna baru bagi musik daerah. Ia juga menyoroti panting yang dipadukan dengan instrumen lain sebagai peluang pengembangan seni musik di Kalimantan Selatan. Benyamine berharap mereka tidak hanya melestarikan lagu Banjar lama, tetapi juga menciptakan lagu Banjar baru sebagai bagian dari regenerasi musik lokal.
Senada, akademisi PSP FKIP ULM Muhammad Budi Zakia Sani menyarankan Lantunan Keroncong Banua menghasilkan karya baru berbahasa Banjar agar memiliki identitas yang khas. Ia menilai tahap tertinggi berkarya adalah mencipta, sementara mengolah lagu yang sudah ada merupakan aransemen. Zaki juga mendukung strategi kelompok ini dalam mengingatkan anak muda pada lagu-lagu Banjar, sekaligus mengenalkan panting melalui medium keroncong yang dapat dinikmati lebih luas.
Tokoh musik Kalimantan Selatan Mukhlis Maman atau Julak Larau juga menilai penampilan mereka menarik, terutama karena anak muda yang menekuni keroncong dinilainya tidak banyak. Ia menyebut Lantunan Keroncong Banua berhasil membawakan keroncong bernuansa lagu daerah dan mengingatkan pada jejak keroncong di Kalimantan Selatan pada masa lalu. Ia turut menilai panting dapat memperkaya harmoni karena sama-sama bersifat akustik.
Dari sisi pemerintah, Kepala UPTD Taman Budaya Kalsel Rizal Pahmi menyatakan kehadiran Lantunan Keroncong Banua merupakan kolaborasi identitas budaya dalam seni bermusik. Ia mendorong anak muda meniru upaya kelompok tersebut dalam mengangkat budaya Banjar, termasuk panting dan bahasa Banjar, ke ruang publik. Taman Budaya Kalsel, kata dia, berkomitmen membuka ruang bagi musisi dan seniman Banua serta terbuka terhadap masukan, termasuk usulan workshop penguatan musik keroncong.