Edisi kedua konser “Ruang Tamu 3 Generasi” kembali digelar pada malam 22 Agustus di Teater Ho Guom, Hanoi. Sejumlah musisi lintas generasi tampil dalam program ini, yakni musisi Tran Tien, penyanyi Ha Tran, penyanyi-penulis lagu Phan Manh Quynh, penyanyi-penulis lagu Thang (mantan anggota band Ngot), serta marzuz.
Program ini disutradarai dan diarahkan oleh musisi Duong Cam. Mengikuti format yang telah diperkenalkan pada edisi sebelumnya, konser ini menonjolkan pertemuan yang tidak biasa antargenerasi—bukan sekadar memasangkan nama secara acak, melainkan membangun dialog yang disengaja melalui musik.
Pada edisi pertama, musisi Duc Huy tidak hanya membawakan mashup, tetapi juga menyanyikan karya dari nama-nama seperti Bui Cong Nam dan Vu Thanh Van. Dengan pola yang sama, edisi kedua disebut akan menghadirkan karya-karya Tran Tien yang diolah dalam bentuk mashup atau dibawakan bersama lagu-lagu dari Phan Manh Quynh, Thang, dan marzuz.
Para pengisi acara diposisikan sebagai representasi tahap perkembangan musik yang berbeda, sekaligus membuka ruang percakapan yang bersifat personal melalui karya masing-masing. Tran Tien digambarkan sebagai figur “pengembara” dalam musik Vietnam—membawa energi yang mentah dan bebas, namun juga menyimpan kerinduan terhadap kehidupan dan cinta pada kemanusiaan.
Di panggung yang sama, hadir Ha Tran yang disebut sebagai sosok yang paling memahami Tran Tien dan kerap dijuluki “bunglon” musik Vietnam karena kemampuannya beradaptasi dengan banyak genre. Ia pernah menyampaikan pandangannya tentang bagaimana ia akan membawakan musik Tran Tien jika berada dalam citra yang berbeda.
Phan Manh Quynh tampil dengan karakter musikal yang dikenal mengandalkan ketulusan dan emosi yang kuat. Sementara Thang, yang juga dikenal sebagai Thang Ngot, disebut sebagai salah satu artis indie menonjol di generasinya dengan musik yang sarat filosofi, kebebasan, serta nuansa puitik dan refleksi masa muda. Adapun marzuz digambarkan membawa puisi yang pemberontak dan mendalam dari generasi muda.
Melalui “Ruang Tamu 3 Generasi”, kelima seniman yang tampak berbeda itu dipertemukan untuk memasuki dunia artistik satu sama lain. Tim penyelenggara berupaya menemukan keterhubungan emosional antarlagu agar penonton tidak melihatnya sebagai sesuatu yang terpisah, melainkan terasa akrab dalam cara yang baru.
Konsepnya menempatkan para musisi bukan hanya menyanyikan lagu mereka sendiri, tetapi juga menafsirkan karya dari generasi lain. Dengan demikian, musisi dari generasi 40-an dan 50-an dapat membawakan lagu-lagu Gen Z dengan rasa yang tetap nyambung, dan sebaliknya.
Selama hampir tiga jam, suasana Teater Ho Guom disebut berubah layaknya ruang tamu besar, dengan jarak yang seolah dipersempit oleh melodi-melodi yang dikenal penonton. Pengalaman emosional itulah yang menjadi pendorong bagi tim untuk melanjutkan konser ini ke edisi kedua.
Musisi Duong Cam menyatakan bahwa konser tersebut merupakan kelanjutan dari nilai humanistik yang sebelumnya menyentuh penonton. Ia menekankan bahwa program ini tidak dimaksudkan untuk membandingkan mana yang lebih tua atau lebih baru, melainkan menciptakan ruang agar semua generasi bisa didengar, berbagi, dan saling menghormati.