Denpasar—Komunitas Seni Tapahana dari Kabupaten Badung menampilkan rekonstruksi lima karya musik gamelan tua ciptaan maestro I Wayan Lotring dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Rekonstruksi ini ditujukan untuk menghidupkan kembali warisan seni klasik yang dinilai nyaris punah di tengah modernisasi pariwisata Kuta.
Koordinator Pementasan Komunitas Seni Tapahana, I Nyoman Agus Adi Putra, mengatakan persiapan dilakukan sekitar dua bulan. Proses tersebut melibatkan pencarian narasumber di desa untuk menelusuri kembali bentuk asli karya-karya almarhum maestro I Wayan Lotring.
Dalam pementasan Rekasadana (Pergelaran) Rekonstruksi Gamelan Tua di PKB 2026, Tapahana membawakan lima repertoar, yakni Tabuh Kawitan khas Kuta, Tari Legong Kraton Lasem, Tabuh Solo khas Kuta, Tari Legong Smarandana, dan Tabuh Sekar Gendot khas Kuta.
Nyoman Agus menyebut pementasan ini didukung 25 orang penabuh dan lima orang penari, dengan menggunakan media gamelan Palegongan Saih Lima. Pementasan juga melibatkan puluhan seniman muda yang berupaya menghadirkan kembali struktur repertoar asli Kuta.
Ia menjelaskan, rekonstruksi gending ciptaan maestro legendaris asal Banjar Tegal Kuta itu memerlukan riset untuk melacak detail aransemen lama. Tapahana menggunakan rekaman suara tahun 1928 sebagai acuan utama agar gending yang direkonstruksi tetap otentik, serta menggali dokumen sejarah audio zaman kolonial untuk mengembalikan rasa estetik palegongan pada masa tersebut.
Menurut Nyoman Agus, karya I Wayan Lotring memiliki gaya tabuh yang tegas dan dinamis, serta struktur bayu-bayu gending yang sulit ditiru. Ia menilai salah satu ciri khas versi Kuta terletak pada teknik pukulan otek-otek, khususnya otek empat, yang menuntut kemampuan tinggi dari penabuh masa kini.
Salah satu penabuh, I Made Okan Ananda Wiradana, menyebut gaya tabuh “pekak Lotring” sangat dinamis dan dalam istilah Bali disebut sangat wayah atau matang. Ia juga menilai gending-gending tersebut memiliki ciri vokal atau pola pukulan tertentu yang unik, dengan pola kendang yang dinamis dan kompleks, serta struktur jalinan pukulan yang kerap membingungkan karena polanya tidak monoton.
Meski menghadapi tingkat kesulitan yang tinggi, para pemain disebut mampu menyuguhkan penampilan setelah menjalani latihan disiplin selama tiga bulan.