BERITA TERKINI
Kieu Anh: Video Musik “Lá ngọc cành vàng” Membuat Penonton Ingin Mengenal Simbol Budaya Vietnam

Kieu Anh: Video Musik “Lá ngọc cành vàng” Membuat Penonton Ingin Mengenal Simbol Budaya Vietnam

Penyanyi Kieu Anh mengaku tersentuh melihat respons penonton terhadap video musik “Lá ngọc cành vàng” (Daun Giok, Ranting Emas) yang mendapat banyak perhatian sejak dirilis. Menurutnya, komentar yang paling berkesan datang dari mereka yang mengatakan bahwa karya tersebut membuat mereka ingin mempelajari lebih jauh simbol-simbol budaya yang ditampilkan.

“Mereka merasa bangga, terhubung dengan akar budaya mereka, dan ingin mengeksplorasi lebih jauh,” kata Kieu Anh. Ia menilai seni dan budaya memiliki banyak lapisan, sehingga pemahaman setiap orang dapat berbeda, tergantung pengalaman hidup dan pengetahuan masing-masing. Baginya, salah satu aspek terindah dari sebuah karya adalah kemampuannya membuka pertanyaan baru, bukan sekadar menyediakan jawaban.

Ketika ditanya apakah keberhasilan video musik itu lebih dipengaruhi daya tarik budaya tradisional atau karena timnya menemukan formula penceritaan yang tepat bagi audiens masa kini, Kieu Anh menolak gagasan bahwa kesuksesan bisa dijelaskan oleh satu penyebab. Ia juga tidak meyakini adanya “rumus” yang dapat diulang dalam seni.

Menurutnya, yang dapat dilakukan seniman adalah mendekati materi tradisional dengan ketulusan dan rasa hormat, lalu mencari bahasa bercerita yang beresonansi dengan penonton masa kini. Ia menyebut budaya Vietnam pada dasarnya kaya dan indah, sementara para profesional di bidang ini berperan sebagai jembatan agar nilai-nilai tersebut sampai kepada audiens pada waktu yang tepat.

Kieu Anh juga menekankan bahwa seorang seniman tidak dapat mewakili keseluruhan bentuk seni tradisional. Ia melihat warisan budaya sebagai hasil kerja banyak generasi perajin, peneliti, dan pihak yang selama bertahun-tahun melestarikannya. Dalam posisinya, ia berharap dapat menawarkan perspektif baru dan cara lain untuk menyampaikan kisah, sembari terus belajar dari proses kreatif, termasuk dari ketidaksempurnaan.

Ia tidak ingin mendefinisikan dirinya sebagai pencipta tren atau penghubung budaya. “Itu adalah sesuatu yang akan ditentukan oleh audiens dan waktu,” ujarnya. Namun, ia menegaskan bahwa jika karyanya bisa membuat anak muda merasa bangga terhadap akar budaya dan terdorong untuk mempelajarinya, hal itu menjadi kebahagiaan tersendiri.

Menanggapi anggapan bahwa seniman yang menekuni seni tradisional jarang menjadi pusat perhatian pasar hiburan, Kieu Anh menilai kondisi tersebut mulai berubah. Ia melihat tanda-tanda positif, terutama dari penonton muda yang bersedia menerima karya jika dinilai menarik dan relevan dengan kehidupan nyata.

Bagi Kieu Anh, seni tradisional dan seni populer bukan dua hal yang saling bertentangan. Ia berpendapat sebuah karya bisa memuat nilai budaya sekaligus memiliki daya tarik luas, dan pelestarian warisan dapat berjalan seiring dengan kreativitas. Ia juga menilai masyarakat bukan menjauh dari seni tradisional, melainkan dulu memiliki lebih sedikit kesempatan untuk menikmatinya dalam konteks yang dekat dengan keseharian.

Ia menekankan pentingnya warisan budaya terlibat dalam dialog dengan masyarakat, bukan hanya berada di ruang konservasi. Menurutnya, ketika seseorang tertarik pada nilai tradisi lewat sebuah video musik lalu dengan inisiatif sendiri mencari dan mendengarkan melodi-melodi kuno, perjumpaan semacam itu menjadi berarti karena lahir dari keinginan pribadi, bukan paksaan.

Kieu Anh menilai keberanian dibutuhkan dalam kreativitas. Ia mengatakan warisan budaya perlu dipraktikkan, dikembangkan secara kreatif, dan diperkenalkan kepada generasi baru—sebuah kerja yang tidak bisa dibebankan pada satu seniman saja. Ia juga menegaskan tidak bertujuan menjadikan ca trù atau seni tradisional lain sebagai tren, karena tren bersifat sementara. Ia berharap dapat menciptakan karya yang cukup menarik sehingga membuat publik ingin kembali pada nilai-nilai tersebut di berbagai fase kehidupan.

Saat membahas tantangan membawa seni tradisional ke arus utama, Kieu Anh menekankan tanggung jawab para profesional untuk menyelesaikan persoalan yang sulit, sementara persepsi audiens merupakan hasil akhirnya. Ia berpendapat publik bersedia memberi kesempatan pada hal baru bila merasa dihormati dan terinspirasi. Karena itu, ia menilai seniman perlu rendah hati di hadapan audiens dan warisan budaya, namun tetap berani menemukan cara ekspresi baru.

Ia mengingatkan bahwa kerendahan hati diperlukan agar nilai tradisional tidak digunakan sembarangan hanya demi menarik perhatian. Pada saat yang sama, keberanian dibutuhkan untuk menemukan bahasa-bahasa baru agar warisan budaya terus berdialog dengan kehidupan kontemporer. “Jangan takut untuk bereksperimen,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa inovasi harus berangkat dari pemahaman dan penghormatan terhadap nilai asli. Menurutnya, identitas tidak mudah hilang hanya karena pendekatan penceritaan yang eksperimental.

Dalam “Lá ngọc cành vàng”, ia mengatakan setiap eksperimen dilakukan dengan tujuan mendekatkan seni tradisional kepada penonton, bukan mengubahnya. Ia menduga pendekatan itu ikut berkontribusi pada sambutan positif terhadap karyanya.

Soal peran keluarga dan tradisi ca trù dalam pengambilan keputusan, Kieu Anh menyatakan rasa syukurnya “bahwa seni tradisional telah memilih” dirinya, dan ia memilih mendedikasikan diri pada tradisi tersebut dengan keseriusan dan kecintaan. Ia menyebut keluarga membantunya tetap membumi, sementara publik membantunya memahami dengan siapa ia berkomunikasi. Namun, ia menegaskan pada akhirnya ia bertanggung jawab atas seluruh pilihan artistiknya.

Kieu Anh juga menilai bahwa sekadar mengejar ekspektasi orang lain dapat menyulitkan seniman menciptakan karya dengan sentuhan personal. Ia mengatakan akan terus mempertahankan pola pikir untuk merenungkan diri sepanjang karier, dan memandang tanggung jawab itu bukan sebagai beban, melainkan keyakinan yang diwariskan serta motivasi untuk menyebarkan nilai tradisi dengan caranya sendiri.

Kieu Anh lahir pada 1994 di Hanoi dan merupakan generasi ketujuh dalam keluarga dengan tradisi ca trù, nyanyian tradisional Vietnam. Pada usia 10 tahun, ia tampil di sejumlah negara, termasuk Prancis, Jerman, Swiss, dan Tiongkok. Pada 2013, ia meraih posisi juara kedua Vietnam’s Got Talent, lalu berkompetisi di The Voice Vietnam 2015. Setelah sempat vakum cukup lama dari dunia hiburan, ia kembali ke panggung melalui program “Beautiful Sister Riding the Wind 2024”.