BERITA TERKINI
Jejak Media Musik di Semarang: Dari Fanzine, Radio, hingga Homeless Media

Jejak Media Musik di Semarang: Dari Fanzine, Radio, hingga Homeless Media

Dekade 1990-an menjadi salah satu fase penting bagi kancah musik independen di Indonesia. Pada masa itu, praktik membangun ekosistem musik lokal ikut menguat, salah satunya lewat kemunculan media musik yang dikelola oleh pelaku skena setempat. Di Semarang, geliat itu terlihat dari masuknya fanzine pada akhir 1990-an hingga lahirnya berbagai bentuk produksi informasi musik dalam dua dekade berikutnya, dengan semangat yang relatif serupa: membuat musik dari Semarang terdengar lebih jauh.

Era fanzine: dari konsumsi ke produksi

Pada penghujung 1990-an, zine musik alternatif mulai masuk ke Semarang melalui jejaring punk yang kerap berkumpul di pelataran Bank Indonesia, Jalan Imam Bardjo—sering disebut BI. Zine dari Bandung dan Jakarta menjadi bacaan utama anak-anak punk Semarang kala itu. Namun, pada periode awal, praktik zine masih dominan sebagai aktivitas konsumsi.

Produksi zine dan bacaan alternatif mulai tampak pada 1999 melalui Kesit Agung Widjanarko, personel Siranda Street Rock, Reject, dan ko-pendiri AK-47. Ia membuat terbitan mandiri bersama rekan-rekannya: sebuah newsletter dua lembar kertas HVS A4 yang dibagikan gratis di tongkrongan. Setahun kemudian, ia kembali membuat selebaran satu lembar A3 yang ditata seperti koran. Meski begitu, produksi zine di Semarang pada masa itu belum berlangsung rutin.

Perubahan terasa setelah Garna Raditya pindah dari Depok ke Semarang pada 2000. Garna mengenal zine melalui kolektif Taring Babi dan membawa koleksi zinenya ke Semarang. Pertemuannya dengan Kesit memperkuat praktik produksi sekaligus penyebaran zine di kancah lokal. Selain menjadi drummer AK//47, Garna juga menjadi rekan Kesit dalam kerja-kerja zine.

Garna menerbitkan Pingsan Zine pada 2001. Edisi pertamanya digarap bersama Tambenk dan memuat rubrik seperti esai, ulasan rilisan, wawancara, serta iklan rilisan terbaru di kancah hardcore-punk Indonesia. Sejak awal, tulisan-tulisan di Pingsan menunjukkan sikap kritis terhadap dinamika skena hardcore-punk lokal, antara lain lewat bahasan straight edge, wawancara dengan anggota kolektif AFRA (Anti-Fascist Racist Action) dari Jakarta, hingga artikel yang mengkritik Coca-Cola sekaligus membahas relasinya dengan kultur hardcore.

Pingsan bertahan hingga edisi ketiga pada 2004. Setelah itu, Garna menerbitkan zine Air Api dengan muatan konten yang kurang lebih serupa. Pada periode yang sama, Kesit menerbitkan zine Suara Hati, yang juga memuat tulisan-tulisan personal. Suara Hati bertahan hingga edisi kesembilan pada 2005.

Di luar itu, Kesit dan Garna juga merilis Stab From The Back pada 2001 setelah Garna bergabung sebagai drummer AK//47. Zine ini kerap dipandang sebagai media “resmi” milik band tersebut, berisi ulasan rilisan, wawancara, esai pendek, serta kabar terbaru band. Praktik band menerbitkan media cetak sendiri terbilang jarang di kancah hardcore-punk Indonesia; salah satu contoh lain adalah zine Kontaminasi Propaganda milik Kontaminasi Kapitalis (1999–2001). Keduanya sama-sama membawa semangat menyebarkan gagasan dan pandangan politik band kepada pendengar.

Menurut Kesit, pada awal 2000-an hampir tidak ada pelaku zine lain di kancah hardcore-punk Semarang selain dirinya dan Garna. Ketika Kesit pindah ke Kalimantan dan Garna fokus sebagai penyiar di Trax FM Semarang serta terlibat di Mosh Magazine, produksi zine sempat mereda. Gelombang kedua zine-maker muncul sekitar 2005, ketika generasi lebih muda mulai aktif. Pada fase ini tema zine lebih beragam, termasuk isu veganisme, feminisme, dan queer yang beririsan dengan musik.

Webzine dan radio: ruang baru distribusi informasi

Perkembangan teknologi pada awal abad ke-21 mengubah cara informasi musik didistribusikan. Internet membuka ruang bagi webzine, sementara radio tetap memainkan peran penting. Di Semarang, salah satu penanda fase ini adalah lahirnya Semarang On Fire pada 2003.

Semarang On Fire diinisiasi oleh Yudi (vokal) dan Eka (bass) dari band grindcore Corruptshit, keduanya memiliki latar sebagai web developer. Mereka mengajak Garna Raditya untuk terlibat. Dalam tim redaksi sederhana itu, Yudi dan Eka menangani aspek teknis seperti hosting dan pengelolaan situs, sedangkan Garna berfokus pada produksi dan kurasi konten.

Situs Semarangonfire.tk aktif dari 2003 hingga 2013. Pada masa awal, kontennya mencakup berita, ulasan rilisan, dan artikel pendek. Namun kanal yang paling hidup adalah forum diskusi—ruang interaksi penggiat musik Semarang dengan format menyerupai forum Kaskus, tetapi berfokus pada dinamika skena lokal. Pada masa itu, akses informasi musik belum semudah sekarang; referensi banyak diperoleh dari tongkrongan, ulasan webzine, atau diskusi di forum daring. Di forum Semarang On Fire, pengguna berbagi referensi, membedah genre, hingga berdebat soal isu mendasar seperti perlu atau tidaknya skena independen merangkul sponsor.

Selain webzine, Trax FM Semarang juga berpengaruh pada awal dekade 2000-an. Trax FM Semarang mulai mengudara pada 7 September 2005. Sejumlah pengelolanya berasal dari kalangan yang juga aktif di kancah musik lokal, salah satunya Galih—mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro dan dikenal sebagai vokalis awal OK Karaoke.

Dalam pengembangan program, Galih mengajak Garna Raditya menjadi guest announcer untuk program yang kemudian diberi nama Cutting Edge. Program ini mengudara satu jam setiap Minggu dan memutar musik independen yang jarang dikenal luas. Garna menyebut kebebasan kurasi membuatnya leluasa memutar berbagai jenis musik, termasuk death metal dan grindcore. Cutting Edge berjalan sepanjang 2005 hingga 2008, sebelum Garna berhenti mengelola program tersebut setelah lulus dan bekerja sebagai reporter di harian Suara Merdeka.

Majalah anak muda: dari fokus lokal ke cakupan lebih luas

Perkembangan skena independen yang dibangun sejak 1990-an turut memantik kemunculan majalah anak muda di Semarang. Sejumlah nama yang disebut antara lain Mosh Magazine, Houtskools Magazine, Local Magz, Homesick Magazine, dan Longlife Magazine.

Mosh Magazine menjadi salah satu yang paling membekas. Mosh diinisiasi Surya dan Lintang, dengan latar kedekatan pada band melodic-punk Sextoy. Mosh mulai terbit pada 2006 dengan konten artikel panjang, berita, reportase gigs, ulasan rilisan, dan produk jurnalistik lain seputar musik. Pada awalnya, Semarang menjadi perhatian utama, dan redaksi aktif mengajak band lokal mengirim rilisan untuk diulas.

Dalam perjalanannya, Mosh berangsur menyerupai majalah musik anak muda pada umumnya dengan lebih banyak kabar musik nasional. Lintang menyebut pergeseran terjadi karena kekurangan bahan tulisan bila hanya berfokus pada musik Semarang, sementara geliat kota lain juga makin semarak. Meski begitu, kancah Semarang tetap mendapat sorotan, misalnya pada edisi ke-11 (2007) yang memuat artikel band pop-punk Semarang Something About Lola sebagai artikel pertama, serta liputan OK Karaoke saat merilis EP debut Sail Off the Storm (2008).

Mosh memiliki oplah dan jaringan distribusi yang luas. Pada edisi ke-11, distribusinya tercatat berada di 13 kota dengan 54 titik, mulai dari distro, label rekaman, bar, hingga toko buku besar seperti Gramedia dan Gunung Agung. Respons penjualan yang baik membuat Mosh mencetak hingga 3000 eksemplar per edisi. Namun, persoalan sistem pembayaran dari toko buku besar berdampak pada arus kas, hingga Mosh berhenti terbit pada 2008. Mosh sempat beralih ke format digital, tetapi tidak bertahan lama.

Setelah Mosh, semangat serupa dilanjutkan Houtskools. Media ini berupa webzine musik dan anak muda asal Semarang yang didirikan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro pada 2011. Houtskools juga menerbitkan majalah elektronik gratis yang terbit sepuluh edisi. Seperti Mosh, Houtskools tidak membatasi konten hanya untuk band Semarang, tetapi mengutamakan aksi musik Semarang dalam praktik redaksinya—antara lain dengan menjadikan musisi/band Semarang sebagai visual sampul dan menempatkan tulisan tentang Semarang sebagai bacaan awal.

Pemimpin redaksi Houtskools, Andi Fitriono, menyebut strategi itu dirancang agar aksi musik Semarang mendapat perhatian. Berdasarkan statistik situs Houtskools.com, majalah elektronik mereka diunduh di berbagai kota dan mencapai sekitar 2000 kali unduh per edisi. Setelah edisi ke-10, Houtskools lebih fokus pada webzine sebelum akhirnya tidak aktif pada 2016.

Dominasi media online dan homeless media

Memasuki periode 2015 hingga kini, media musik Semarang didominasi media online, terutama homeless media. Pada 2015, Semarang On Fire kembali dalam format webzine dan aktif di media sosial, didorong oleh Afriyandi Wibisono sebagai pengelola utama. Dalam fase ini, Semarang On Fire berperan sebagai corong kabar musik Semarang sekaligus memantik wacana lewat nominasi, ulasan, dan esai. Namun sejak 2019, Semarang On Fire kembali hiatus.

Dalam situasi tersebut, banyak homeless media di Semarang lebih berfokus menjadi mitra publikasi acara. Kebiasaan mengulas musik, melaporkan pagelaran, atau bertukar gagasan lewat esai disebut semakin jarang ditemukan. Aktivitas yang dominan adalah mengunggah poster acara dan dokumentasi singkat di media sosial. Ruang Logika Media dan Binar Musik disebut sebagai contoh bagaimana homeless media berbasis Semarang beroperasi.

Di tengah kecenderungan itu, Suaka Suara (@suakasuara) menempuh jalur berbeda. Berdiri sejak 2018, Suaka Suara masih menerbitkan ulasan single maupun album, meliput pagelaran, dan membuat nominasi rilisan tahunan. Meski intensitasnya disebut menurun dalam setahun terakhir, aktivitas tersebut masih berjalan, termasuk menerima ajakan menjadi media partner acara.

Kebutuhan daya siar dan peran praktik personal

Dalam berbagai diskusi dan forum di Semarang sepanjang 2020–2026, media kerap disebut sebagai aspek yang dibutuhkan. Jika semula kebutuhan itu dipahami sebagai kebutuhan kritik atas produk musik, pembacaan yang dianggap lebih relevan adalah daya siar media untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap musik Semarang. Sejumlah pelaku menilai kancah musik Semarang masih kekurangan daya siar karena apa yang terjadi di kota ini kerap tidak menjadi perbincangan di tingkat nasional—sesuatu yang dinilai membingungkan mengingat Semarang adalah kota besar sekaligus ibu kota provinsi.

Entitas media yang bekerja secara konsisten—membaca rilis pers, mengabarkan rilisan, mengulas musik, mewawancarai musisi, hingga menerbitkan esai pemantik polemik—disebut belum terlihat kuat, terutama setelah Semarang On Fire hiatus pada masa pandemi. Meski begitu, beberapa akun dan media masih mencoba peka terhadap peristiwa musikal, termasuk Binar Musik (@binarmusik), Ruang Logika Media (@ruanglogikamedia), dan Dipojournal (@dipojournal).

Menariknya, sebagian peran media musik justru dijalankan oleh pihak yang tidak melabeli diri sebagai “media musik”. Contohnya blog personal milik Rizkky Dea (vokalis band hardcore-punk Women In Bloom) yang sesekali memuat ulasan karya band Semarang maupun luar Semarang, serta blog kolektif organizer hardcore 024 Hardcore Crew di Medium yang rutin menulis ulasan aksi hardcore-punk Semarang dan sekitarnya. Dalam sejumlah tulisan, 024 Hardcore Crew tidak hanya menilai aspek teknis musikal, tetapi juga membaca konteks dan relevansi lokal dari band-band yang dibahas.

Rangkaian praktik dari era zine, radio, webzine, majalah, hingga media sosial menunjukkan bahwa media musik di Semarang terus berubah mengikuti zaman. Di tengah perubahan format dan kebiasaan, tantangan yang mengemuka tetap berkisar pada konsistensi, kepekaan, dan bagaimana relasi antara pelaku media dan produsen musik dijaga agar ekosistem musik kota ini dapat memaksimalkan potensi daya siarnya.