BERITA TERKINI
JayJax Nilai Indo Bounce dan Hipdut Makin Mendominasi Skena EDM Indonesia

JayJax Nilai Indo Bounce dan Hipdut Makin Mendominasi Skena EDM Indonesia

Jakarta — Musik elektronik Indonesia menunjukkan perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah subgenre yang memadukan elemen EDM dengan cita rasa lokal kian menonjol di ruang dengar masyarakat, mulai dari Indo Bounce atau yang akrab disebut jedag-jedug, Funky Kota (Funkot), Breakbeat (BKB), hingga subgenre baru Hipdut (Hip-Hop Dangdut) yang dipopulerkan Tenxi dan Jemsii.

DJ sekaligus produser musik Djaya, yang dikenal lewat proyek solo JayJax dan duo DNA bersama Mister Aloy, menilai pertumbuhan musik elektronik lokal mulai menemukan momentumnya sejak pandemi COVID-19. Ia menyebut tren Indo Bounce menjadi salah satu pemicu yang mendorong banyak DJ lebih berani memproduksi karya.

“Musik elektronik di Indonesia menurut gue semenjak COVID itu berkembang dengan sangat bagus, gede, dan masif. Semua DJ berani membuat musik, membuat karya, dipicu oleh pecahnya tren Indo Bounce waktu itu,” kata Djaya saat ditemui di W Superclub Gatsu, Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026.

Menurut Djaya, kedekatan masyarakat Indonesia dengan unsur dangdut, koplo, dan pop juga menjadi faktor penting yang membuat subgenre elektronik bercita rasa lokal mudah diterima. Ia menilai elemen-elemen tersebut sudah melekat kuat pada selera pendengar di Tanah Air.

Djaya turut menyoroti kemunculan Hipdut yang digerakkan Tenxi, Jemsii, dan kolektif kreatif AntiNRML. Ia menilai formula yang menggabungkan Hip-Hop Dangdut dengan sentuhan elektronik itu berkembang masif dan berhasil menarik pendengar dalam jumlah besar di platform streaming musik.

“Kalau sekarang ada fenomena baru kayak Tenxi dan AntiNRML yang membuat Hipdut secara masif menurut gua sangat bagus… akhirnya mereka yang sekarang menguasai salah satunya kayak dunia musik di Indonesia gitu dengan listening-nya paling banyak,” ujarnya.

Di sisi lain, Djaya mengatakan Indo Bounce masih terus berkembang dan menjadi salah satu genre yang banyak dimainkan di klub malam Indonesia. Ia menyebut genre tersebut kini jamak digunakan dalam set musik di berbagai tempat hiburan.

Bagi Djaya, salah satu kunci utama meluasnya tren ini adalah kebutuhan masyarakat terhadap hiburan yang sederhana dan menyenangkan. Ia menilai pendengar cenderung mencari musik yang mudah dinikmati untuk melepas penat.

“Orang Indonesia ini pengen musik yang simpel, fun, dan membuat mereka bahagia… sesederhana itu kalau kita bicara soal skena EDM Indonesia saat ini,” kata Djaya.

Di tengah pertumbuhan subgenre lokal, Djaya juga melihat peluang musik elektronik Indonesia untuk dikenal lebih luas di pasar internasional. Ia mencontohkan sejumlah DJ dan produser Indonesia yang sudah merilis karya di label musik elektronik global, termasuk beberapa rilisan di Spinnin’ Records yang menurutnya tetap dapat bekerja dengan elemen Indo Bounce.

Djaya mengaku pernah merasakan respons pendengar di negara tetangga terhadap lagu-lagu Indo Bounce. Ia menyebut ketika tampil di Malaysia, sebagian penonton ikut bernyanyi, serta mendengar genre tersebut juga dimainkan di Thailand.

Meski demikian, saat membahas peluang Indo Bounce dan subgenre serupa untuk meledak secara masif di pasar Barat seperti Eropa dan Amerika Serikat, Djaya memilih realistis. Namun ia tetap optimistis musik lokal memiliki pasar, meski saat ini masih dalam tahap berkembang.

“Menurut gue musik itu universal… pasti ada beberapa orang di Amerika sana yang mendengarkan Indo Bounce dan menganggap musik itu keren. Pasti ada pasarnya. Cuma memang untuk saat ini, statusnya masih dalam tahap berkembang dan belum semasif itu,” tutupnya.