Media sosial belakangan ramai dengan sebutan “anak skena”. Istilah ini memancing rasa penasaran sebagian warganet, sementara yang lain ikut berkomentar dan memperdebatkan maknanya.
Secara umum, “skena” disebut sebagai padanan tak resmi dari kata scene dalam bahasa Inggris, yang kurang lebih merujuk pada sebuah komunitas. Dalam penggunaan bahasa gaul, skena juga disebut sebagai singkatan dari tiga kata: sua, cengkrama, dan kelana. Dalam pengertian ini, skena menggambarkan perkumpulan kolektif penyuka musik yang menciptakan suasana untuk bercengkerama hingga berkelana bersama saat berkumpul. Misalnya, jika komunitas tersebut berfokus pada musik punk, maka dapat disebut sebagai “Skena Punk”.
Istilah skena disebut tidak tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Meski demikian, penggunaannya meluas di ruang digital untuk menandai kelompok-kelompok dengan minat musik tertentu.
Fenomena skena sendiri dinilai tidak selalu buruk. Di luar kontroversi yang muncul, skena dapat menjadi ruang kolektif untuk menambah pengetahuan tentang musik, sekaligus wadah bagi orang-orang dengan minat serupa untuk berbagi dan bertumbuh bersama lewat musik.
Namun, belakangan opini publik tentang skena ikut melebar dan membuat istilah ini dipandang negatif oleh sebagian orang. Skena kerap diasosiasikan dengan kelompok penggemar musik yang dianggap gemar melontarkan kritik terhadap penikmat musik lain, sehingga memunculkan kesan eksklusif.
Dalam beberapa tahun terakhir, musik yang dianggap “indie” juga menjadi tren. Di media sosial, pendengar musik indie kerap dipersepsikan lebih “keren” dibanding pendengar musik populer. Persepsi ini memicu perbincangan tentang sikap pemujaan terhadap musik indie, sementara musik populer dianggap sebagai pilihan yang biasa saja atau kurang keren oleh sebagian orang.
Sejumlah musisi yang disebut kerap masuk dalam radar favorit “skena” antara lain Danilla, Fourtwnty, Float, Coldiac, dan Mocca, serta musisi lainnya. Di sisi lain, muncul pula istilah “polisi skena” untuk menyebut orang-orang yang merasa paling mengerti musik dan cenderung mengawasi percakapan tentang musik di media sosial, termasuk memberi teguran ketika pembahasan dinilai tidak sesuai dengan definisi musik keren menurut pandangan mereka.
Pada akhirnya, perbedaan selera musik dipandang sebagai hal yang wajar. Mengkritik karya musik dengan opini masing-masing dinilai sah, namun tidak untuk menjelekkan atau menjatuhkan pendengar lain hanya karena berbeda selera. Setiap orang bebas memilih genre musik dan menentukan ingin berada di skena mana, tanpa perlu saling merendahkan.