BANTUL—Tren wisata wellness di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai dilirik sebagai peluang baru untuk meningkatkan daya saing industri kulit. Pelaku usaha didorong tidak hanya menjual produk, tetapi juga menawarkan pengalaman interaktif yang dinilai lebih menarik bagi wisatawan, terutama generasi muda dan wisatawan mancanegara yang mencari aktivitas autentik selama berkunjung ke Yogyakarta.
Peluang itu mengemuka dalam kegiatan Temu Kemitraan dan Gelar Produk Kulit yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY di Ndalem Kulit Jogja (NKJ), Manding, Sabdodadi, Bantul, pada 9–11 Juni 2026. Sebanyak 20 pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) kulit yang telah memanfaatkan fasilitas mesin produksi di NKJ turut ambil bagian.
Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, GKR Bendara, menyampaikan bahwa wisata berbasis wellness atau kebugaran menjadi salah satu segmen yang pertumbuhannya pesat di pasar pariwisata global. Menurutnya, aktivitas yang dianggap sederhana oleh masyarakat lokal dapat memiliki nilai jual tinggi di mata wisatawan asing.
Ia mencontohkan kegiatan seperti berjalan tanpa alas kaki di alam terbuka, menyusuri kawasan hutan, hingga meditasi yang dapat dikemas menjadi paket wisata bernilai ekonomi. Fenomena tersebut, kata dia, menunjukkan wisatawan modern semakin mencari pengalaman yang memberi ketenangan, kedekatan dengan alam, serta ruang untuk merawat diri.
“Yang mereka cari sebenarnya adalah pengalaman dan kepedulian terhadap diri sendiri. Hal-hal yang bagi kita biasa justru menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi wisatawan luar negeri,” ujarnya, Selasa (9/6/2026).
GKR Bendara menilai konsep wisata wellness dapat diadaptasi ke industri kulit melalui pengalaman yang lebih mendalam dalam proses pembuatan produk. Workshop kerajinan kulit, menurutnya, bisa dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman refleksi diri yang memberi nilai emosional bagi peserta.
Ia menjelaskan, proses kreatif seperti membuat pola, mengukir, atau melakukan stamping pada bahan kulit dapat dikaitkan dengan ekspresi diri, ketenangan, hingga perjalanan personal seseorang. Dengan pendekatan tersebut, wisatawan tidak hanya membawa pulang produk, tetapi juga pengalaman yang berkesan.
Pendekatan berbasis pengalaman dinilai sejalan dengan karakter generasi milenial dan generasi Z yang cenderung menyukai keterlibatan langsung dibanding sekadar menjadi penonton. Karena itu, pelaku usaha didorong mengubah strategi pemasaran dari yang berfokus pada produk menjadi menawarkan pengalaman bernilai.
“Sekarang orang tidak hanya ingin belanja, tetapi juga ingin terlibat dalam proses pembuatannya. Dari situ muncul apresiasi yang lebih besar terhadap produk yang dihasilkan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Disperindag DIY, Yuna Pancawati, menyatakan industri kulit masih menjadi salah satu sektor strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya di sektor industri kreatif. Namun, pelaku IKM kulit masih menghadapi tantangan, mulai dari akses pasar yang belum optimal, kebutuhan inovasi produk, penguatan jaringan kemitraan, hingga perluasan pasar ekspor.
Selain itu, pelaku usaha juga disebut menghadapi hambatan dalam meningkatkan kapasitas bisnis, terutama terkait akses permodalan dan pemanfaatan teknologi produksi yang lebih modern.
Yuna mengatakan Pemerintah Daerah DIY terus berupaya memperkuat ekosistem industri kulit melalui penyediaan fasilitas produksi di Ndalem Kulit Jogja. Fasilitas tersebut diharapkan membantu pelaku usaha meningkatkan kualitas produk sekaligus memperbesar kapasitas produksi.
“Kami terus berupaya memperkuat daya saing IKM kulit melalui dukungan fasilitas, teknologi, serta penguatan kemitraan dengan berbagai pihak,” ujarnya.
Melalui Temu Kemitraan dan Gelar Produk Kulit, Disperindag DIY berharap kolaborasi antara pelaku IKM, pemerintah, komunitas industri, dan mitra strategis dapat semakin erat. Forum ini juga menjadi ruang berbagi pengetahuan, mendorong inovasi, serta membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk kulit lokal.
Ke depan, NKJ tidak hanya diharapkan menjadi pusat pemanfaatan teknologi produksi, tetapi juga pusat penguatan ekosistem industri kulit DIY yang mampu melahirkan produk berdaya saing nasional dan internasional. Fasilitas tersebut juga diproyeksikan menjadi ruang belajar, pengembangan kreativitas, serta laboratorium inovasi bagi pelaku usaha yang ingin mengembangkan industri kulit berbasis pengalaman dan wisata wellness di Yogyakarta.