Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menegaskan komitmennya memperkuat ekosistem seni dan budaya melalui peringatan Hari Musik Dunia 2026 yang digelar di Taman Budaya Kalsel, Banjarmasin, Sabtu (27/6/2026) malam.
Dengan mengusung tema “Muara: Tempat Segala Arus Bertemu”, kegiatan ini diposisikan sebagai simbol pertemuan berbagai budaya, tradisi, dan kreativitas. Tema tersebut juga disebut sebagai kekuatan untuk membangun identitas budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Banua.
Acara secara resmi dibuka oleh Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Rusma Khazairin, yang mewakili Gubernur Kalimantan Selatan. Dalam sambutannya, Rusma menyampaikan bahwa tema “Muara” mencerminkan karakter Kalimantan Selatan sebagai ruang bertemunya beragam budaya, tradisi, dan kreativitas yang saling menguatkan serta melahirkan karya yang tetap berakar pada jati diri Banua.
Rusma juga menyampaikan apresiasi kepada panitia, komunitas, seniman, dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan. Ia menilai musik sebagai bahasa universal yang mampu menyatukan keberagaman.
Menurut Rusma, konsep peringatan tahun ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membuka ruang edukasi, dialog, regenerasi, serta penghormatan kepada pelaku seni. Ia menekankan bahwa pembangunan kebudayaan yang berkelanjutan membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
Sejalan dengan visi Pemprov Kalsel “Bekerja Bersama, Merangkul Semua”, Rusma menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memfasilitasi ekosistem seni yang inklusif dengan tetap menjunjung nilai-nilai lokal masyarakat Banjar. Ia juga mengaitkan semangat tersebut dengan falsafah Banjar, “banyak sama kibit, sadikit sama culit”, yang menekankan pentingnya gotong royong dan saling menguatkan dalam memajukan kebudayaan Banua.
Ia berharap peringatan Hari Musik Dunia dapat melahirkan lebih banyak ruang kreatif, menjaga kelestarian musik tradisional, serta mendorong musisi lokal agar mampu mengharumkan nama Kalimantan Selatan di tingkat nasional maupun internasional.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel, Abdul Rahim, menyebut Hari Musik Dunia bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk memperkuat ruang perjumpaan, kolaborasi, dan apresiasi terhadap perjalanan musik di Kalimantan Selatan.
Abdul Rahim menilai tema “Muara” relevan dengan karakter daerah yang dikenal sebagai wilayah sungai. Ia mengibaratkan, sebagaimana sungai-sungai mengalir menuju satu muara, musik juga tumbuh dari beragam latar belakang, tradisi, generasi, dan ekspresi yang berbeda, lalu bertemu dalam satu ruang yang saling menguatkan.
Ia menambahkan, melalui momentum ini, keberagaman dapat bertransformasi menjadi kekuatan, sementara kolaborasi menjadi fondasi dalam membangun masa depan kebudayaan.
Rangkaian Hari Musik Dunia 2026 menghadirkan sejumlah program yang disebut komprehensif dan inklusif. Selain menampilkan 19 penampil dari berbagai komunitas musik, kegiatan juga diisi ruang edukasi melalui Lab-Batang Banyu: Pandir Series, penyampaian Pesan Hari Musik Dunia oleh maestro Kuriding Mukhlis Maman, serta Tribute Tokoh Musik Banua sebagai bentuk penghormatan kepada para pelaku seni.
Abdul Rahim menyatakan perpaduan pertunjukan musik, ruang pembelajaran, dan dialog antargenerasi menjadi gambaran ekosistem kebudayaan yang sehat. Ia menegaskan komitmen institusinya untuk terus menjadi ruang bersama bagi para pelaku seni agar dapat berkarya, berdiskusi, bereksperimen, dan berkolaborasi, sehingga ekosistem seni di Kalimantan Selatan tetap hidup dan berkembang.