Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru menyiapkan peraturan gubernur (pergub) untuk memastikan Festival Seni Adat dan Tradisi serta Festival Anjungan Sumsel menjadi agenda tahunan. Kebijakan ini disiapkan sebagai upaya menjaga kelestarian budaya daerah agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Deru menilai kegiatan budaya perlu dilaksanakan secara berkelanjutan karena menjadi sarana memperkuat identitas daerah sekaligus mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.
"Saya bahagia sekali karena di antara kita masih ada yang terpikir untuk memberikan contoh bahwa kita diikat dalam satu budaya. Ini yang akan diingat oleh generasi selanjutnya. Maka kegiatan ini perlu diagendakan secara permanen," ujar Deru saat membuka festival di Anjungan Rumah Adat Dekranasda Sumsel, Rabu (25/6/2026).
Menurut Deru, festival tersebut bukan sekadar ajang pertunjukan seni dan budaya, tetapi juga berperan sebagai benteng untuk menjaga keaslian adat dan tradisi masyarakat Sumsel. Karena itu, Pemerintah Provinsi Sumsel menyiapkan pergub sebagai payung hukum agar pelaksanaan festival dapat berlangsung rutin setiap tahun.
Deru juga menyoroti potensi Anjungan Rumah Adat Sumsel sebagai pusat promosi budaya daerah. Ia menyebut sejak 2023 telah mengusulkan agar setiap anjungan memiliki ruang yang dapat dimanfaatkan sebagai kantor penghubung kabupaten/kota.
Selain itu, ia meminta pemerintah kabupaten/kota lebih aktif memanfaatkan anjungan daerah untuk berbagai kegiatan budaya, termasuk peringatan hari jadi daerah masing-masing.
Dalam kesempatan yang sama, Deru turut menaruh perhatian pada keberlangsungan wastra atau kain tradisional khas Sumsel. Ia mengajak berbagai pihak memberi contoh penggunaan wastra dalam kegiatan resmi.
"Misalnya para tamu undangan hadir dengan mengenakan wastra khas daerah masing-masing," katanya.
Sementara itu, Ketua Dekranasda Sumsel Feby Deru mengatakan festival tersebut menjadi wadah bagi 17 kabupaten/kota untuk menampilkan kekayaan budaya daerah masing-masing. Ia menilai pelestarian budaya juga berdampak pada ekonomi, karena banyak produk kerajinan lokal lahir dari inspirasi budaya yang berkembang di masyarakat.
"Banyak produk kerajinan lokal yang lahir dari inspirasi budaya. Hal ini tentu turut mendorong roda perekonomian masyarakat," ujarnya.
Festival tersebut menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari sendratari, seni tutur, seni bela diri, workshop membatik aksara Ulu, hingga workshop Tari Gending Sriwijaya. Sebanyak 20 pelaku UMKM juga dilibatkan untuk memperkenalkan produk-produk unggulan daerah kepada masyarakat dan pengunjung.