Komunitas pecinta musik rock Tulungagung yang tergabung dalam Tulungagung Rock Community (TRC) akan menggelar Festival Tulungagung Distorsi 2026 dengan menghadirkan 21 band rock dan punk. Grup legendaris Power Metal dijadwalkan menjadi bintang tamu utama dalam acara tersebut.
Festival ini akan menampilkan sejumlah band nasional, antara lain Marjinal dan Red Spider, serta belasan band lokal dari berbagai daerah. Seluruh rangkaian pertunjukan akan berlangsung di GOR Lembu Peteng, Tulungagung, Jawa Timur, pada Sabtu (28/6).
Penyelenggara Tulungagung Distorsi, Andi Mahifal, mengatakan festival ini digagas sebagai ruang berekspresi bagi komunitas musik rock dan metal sekaligus mendorong tumbuhnya ekosistem musik independen di Tulungagung. Ia menyebut selama ini belum ada kegiatan yang secara khusus mewadahi musik rock dan metal di daerah tersebut.
Andi menambahkan, Tulungagung Distorsi dirancang menjadi agenda tahunan dengan melibatkan berbagai komunitas musik dari seluruh Jawa Timur. Menurutnya, langkah itu diharapkan dapat memperkuat jejaring antarmusisi dan komunitas rock di daerah.
Panitia menyiapkan sekitar 2.000 lembar tiket. Harga tiket ditetapkan Rp65 ribu untuk kategori early bird, Rp100 ribu pada tahap presale kedua, serta tersedia pembelian langsung di lokasi pada hari pelaksanaan.
Dari sisi penampil, gitaris Power Metal, Ipung, menyampaikan bahwa grupnya telah menyiapkan sekitar 10 lagu untuk dibawakan. Penampilan Power Metal akan diperkuat dua vokalis, Arul dan Bais, yang dijadwalkan tampil bersama dalam format featuring. Ipung berharap Power Metal dapat memberikan penampilan terbaik sekaligus mendukung berkembangnya penyelenggaraan event musik rock dan metal di daerah.
Festival ini juga dipandang sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali semangat musik rock yang memiliki sejarah panjang di Indonesia. Perkembangan rock disebut bermula pada awal 1970-an, ketika genre tersebut bertransformasi dari tren musik Barat yang masuk pada era 1950-an menjadi salah satu identitas musik nasional.
Perjalanan musik rock Indonesia tidak lepas dari dinamika sosial dan politik. Dari masa pelarangan pada era Orde Lama hingga menjadi simbol perlawanan dan kebebasan berekspresi, rock terus mengalami evolusi.
Pada masa transisi dari Orde Lama menuju Orde Baru, keterbukaan budaya melahirkan sejumlah grup pelopor yang memadukan karakter rock Barat dengan unsur budaya lokal. Dari periode ini, fondasi rock Indonesia diperkuat oleh nama-nama seperti God Bless, The Rollies, AKA, dan Duo Kribo.
Memasuki dekade 1990-an, musik rock disebut mencapai masa keemasannya ketika band-band rock mendominasi panggung musik nasional dengan karakter musik yang keras dan penuh energi, serta lirik yang banyak mengangkat keresahan sosial dan realitas kehidupan sehari-hari. Sejumlah nama yang menonjol pada periode ini antara lain Slank, Boomerang, dan Jamrud.
Sejak era 2000-an hingga kini, rock terus berkembang ke berbagai subgenre. Kehadiran band-band independen turut memperkaya warna musik rock Indonesia sekaligus menjaga eksistensinya di tengah perubahan tren industri musik.