Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Solo menyatakan dukungan penuh terhadap rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mengembangkan wellness tourism sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru di sektor pariwisata. DPRD juga mendorong Pemkot mengambil langkah yang lebih agresif dan konkret agar program tersebut bisa segera terwujud.
Dukungan itu disampaikan Ketua Komisi IV DPRD Solo Sugeng Riyanto dan Anggota Komisi IV DPRD Solo Sekar Tandjung. Sugeng menilai Solo memiliki potensi besar untuk mengembangkan wellness tourism, terutama karena kekayaan tradisi dan warisan pengetahuan kebugaran yang dimiliki.
Ia mencontohkan tradisi jejamuan atau jamu yang menurutnya menjadi kekuatan Solo. Sugeng menyebut warisan resep dari leluhur yang terkait Keraton Kasunanan Surakarta maupun Pura Mangkunegaran dapat menjadi produk yang dinilai autentik dan relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Selain jamu, Sugeng juga menilai layanan pijat dapat dikembangkan untuk berbagai segmen, termasuk pijat syariah bagi masyarakat muslim maupun pijat dengan konsep tradisi Jawa. Menurutnya, layanan semacam itu berpotensi menarik wisatawan apabila dikemas dengan baik.
Namun, Sugeng menilai Pemkot Solo masih terlihat gamang dalam melangkah menuju konsep Solo Wellness Tourism. Ia menyoroti belum adanya manajemen produk yang jelas, terutama dalam mendefinisikan produk apa saja yang akan ditawarkan.
“Yang disebut produk wellness tourism itu apa saja, harus didefinisikan terlebih dulu,” kata Sugeng. Ia menyebut hingga saat ini belum melihat definisi yang definitif mengenai produk wellness tourism Solo.
Sugeng juga menilai manajemen pemasaran masih perlu diperkuat. Ia menyebut selama ini Pemkot Solo lebih tampak memasarkan health tourism atau wisata kesehatan, misalnya dengan promosi layanan rumah sakit di Solo. Sugeng mengaku pernah mengikuti pendampingan pemasaran bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Solo ke Buleleng, namun promosi yang dilakukan saat itu masih berfokus pada layanan kesehatan.
Menurutnya, pemasaran wellness tourism perlu bersifat komprehensif, dimulai dari kejelasan produk hingga strategi pemasaran yang menyesuaikan karakter produk tersebut.
Selain produk dan pemasaran, Sugeng menekankan pentingnya manajemen pelanggan. Ia menilai pengalaman wisatawan yang mencoba layanan wellness harus dikelola agar memuaskan, sehingga pengunjung terdorong untuk kembali dan merekomendasikan kepada orang lain.
Ia mengingatkan, pengalaman negatif dapat berdampak buruk, termasuk komentar yang tidak menguntungkan di media sosial. Sebaliknya, layanan yang baik dinilai dapat memperkuat citra positif dan mendorong peningkatan jumlah pengunjung.
Senada dengan Sugeng, Sekar Tandjung menilai Solo memiliki kekayaan resep dan pengetahuan kebugaran sebagai warisan leluhur, baik dari Keraton Kasunanan Surakarta maupun Pura Mangkunegaran. Ia menyebut hal itu sebagai potensi besar yang bisa digarap.
Sekar juga menyinggung persepsi masyarakat di luar Jawa yang mengenal konsep “ayu seperti Putri Solo”. Menurutnya, pemahaman tersebut bisa jadi berakar dari pakem-pakem tradisi yang ada di Mangkunegaran atau Keraton Solo dan dapat menjadi elemen yang dieksplorasi dalam pengembangan wellness tourism.
Ia mencontohkan Surakarta Wellness Festival yang digelar pada 2025 dan dihadiri Wali Kota Solo Respati Ardi serta Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana. Sekar menyebut kegiatan itu diinisiasi dari lingkungan Keraton Kasunanan Solo dan menjadi salah satu bukti adanya potensi yang dapat dikembangkan.
Lebih jauh, Sekar menekankan bahwa wellness tourism seharusnya tidak hanya menawarkan kebugaran fisik, tetapi juga aspek mental dan spiritual. Ia menilai konsep wellness bersifat holistik dan perlu dipahami secara lebih luas.
Menurut Sekar, filosofi Jawa yang menekankan kejernihan berpikir, ketenangan jiwa, serta keseimbangan hidup dapat menjadi bagian dari produk wellness. Ia mencontohkan salah satu nilai yang ia pahami, yakni ajaran tentang keseimbangan antara kemampuan, akal, dan intuisi sebagai bagian dari cara pandang hidup.