BERITA TERKINI
DJ Kim Chol: Kepatuhan Hak Cipta Penting untuk Ruang Kreatif yang Berkelanjutan

DJ Kim Chol: Kepatuhan Hak Cipta Penting untuk Ruang Kreatif yang Berkelanjutan

DJ Kim Chol menilai penghormatan dan kepatuhan terhadap hak cipta bukan semata kewajiban hukum, melainkan syarat penting agar musisi dapat berkembang secara berkelanjutan dan profesional. Berbekal pengalaman praktik di musik elektronik, ia melihat penggunaan, pencampuran, dan pemanfaatan karya musik kini menuntut pemahaman yang lebih luas, termasuk aspek legal.

Ia menyoroti bahwa perkembangan platform daring dalam beberapa tahun terakhir membuat akses dan pemanfaatan karya musik semakin mudah. Namun, kemudahan tersebut juga meningkatkan risiko pelanggaran hak cipta maupun hak terkait, terutama ketika pengguna tidak memahami aturan hukum yang berlaku.

Dari pengamatannya di industri musik elektronik, Kim Chol menyebut kesadaran hak cipta di kalangan komunitas profesional menunjukkan perubahan positif. Menurutnya, perdebatan mengenai penggunaan, remix, atau eksploitasi karya ikut mendorong peningkatan pemahaman tentang pentingnya menghormati hak cipta.

“Dalam EDM, garis antara kreativitas dan pelanggaran terkadang sangat tipis,” kata Kim Chol. Ia menambahkan, jika sebelumnya banyak orang lebih berfokus pada aspek teknis atau efek artistik, kini pemanfaatan karya juga menuntut pemahaman hukum. Menggunakan sebagian atau memodifikasi karya yang sudah ada, menurutnya, tidak otomatis menjadikannya produk independen dari sisi hak cipta.

“Mengolah ulang atau menggunakan kembali sebuah karya bukan lagi sekadar soal teknik atau kreativitas, tetapi juga soal tanggung jawab terhadap hak cipta dan pemilik karya tersebut,” ujarnya.

Kim Chol juga menilai masih banyak artis muda yang kurang memberi perhatian pada aturan hak kekayaan intelektual. Ia mengatakan, sejumlah pelanggaran terjadi bukan karena kesengajaan, melainkan akibat minimnya pemahaman.

“Banyak orang mungkin tidak sengaja melanggar hukum, tetapi kurangnya pemahaman tentang hukum atau kurangnya riset tentang hak cipta dapat menimbulkan banyak risiko. Para profesional perlu secara proaktif membekali diri dengan pengetahuan untuk melindungi diri mereka sendiri dan menghormati karya kreatif orang lain,” tegasnya.

Menurut Kim Chol, pemahaman atas hukum dan peraturan hak cipta seharusnya menjadi bagian dari proses pengembangan profesional. Ia menilai hal itu tidak hanya penting bagi individu, tetapi juga membantu menumbuhkan budaya penghormatan terhadap hak kekayaan intelektual di komunitas kreatif.

Dalam konteks upaya Vietnam mendorong pengembangan industri budaya, perlindungan hak cipta dipandang sebagai fondasi untuk memacu inovasi dan meningkatkan daya saing pasar budaya dan seni. Kim Chol menilai, ketika hak pencipta terlindungi, seniman akan lebih termotivasi berinvestasi pada produk berkualitas, sekaligus membatasi eksploitasi karya tanpa izin.

Ia juga menyoroti bahwa mulai 1 Juli 2026, penerapan tarif royalti untuk penggunaan musik secara komersial akan diatur lebih spesifik. Menurutnya, langkah ini menunjukkan meningkatnya penekanan pada penghormatan terhadap hak kekayaan intelektual, serta diharapkan memperkuat lingkungan kreatif dan bisnis yang lebih transparan dan adil. Dalam situasi tersebut, ia menilai peningkatan kesadaran dan kepatuhan terhadap aturan hak cipta menjadi kebutuhan bagi individu maupun organisasi yang menciptakan dan memanfaatkan produk musik.

“Memenuhi semua kewajiban hak cipta seharusnya tidak dilihat sebagai penghalang kreativitas. Sebaliknya, hal itu berkontribusi pada terciptanya lingkungan persaingan yang lebih adil, transparan, dan profesional,” kata Kim Chol.

Kepada DJ dan produser muda, ia menyarankan agar pembelajaran hukum dilakukan sejak awal, bersamaan dengan penguatan keterampilan profesional, kemampuan tampil, dan teknik produksi musik. Ia menilai langkah itu dapat membantu menghindari kesalahan yang tidak perlu dalam perjalanan karier.

Kim Chol menekankan bahwa nilai inti seorang seniman terletak pada kemampuan membangun ciri khas melalui karya yang mencerminkan identitas pribadi. Ia mendorong para profesional untuk lebih berinvestasi pada pemikiran inovatif dan kemampuan kreatif sendiri, alih-alih bergantung pada eksploitasi capaian kreatif yang sudah ada.

“Mematuhi hak cipta bukanlah penghalang bagi kreativitas. Sebaliknya, ini adalah cara bagi para profesional untuk menunjukkan profesionalisme dan rasa hormat mereka terhadap nilai-nilai yang telah dibangun oleh komunitas kreatif,” ujarnya.

Di tengah transformasi digital yang kian mendalam pada sektor budaya dan seni, ia menilai penyempurnaan hukum dan kebijakan kekayaan intelektual, serta peningkatan kesadaran kepatuhan di komunitas kreatif, menjadi faktor penting untuk menjaga ekosistem industri musik yang sehat, adil, dan berkelanjutan.