Ruang digital Indonesia belakangan diramaikan benturan narasi yang memancing emosi, dari sentimen “Sell Indonesia” hingga respons tandingan “Sell Singapore”. Polemik ini mencuat setelah beredarnya kutipan analis asing di media finansial global yang memicu persepsi negatif terhadap pasar domestik.
Sentimen “Sell Indonesia” mencerminkan kekhawatiran sebagian investor global terhadap tekanan nilai tukar dan arus modal keluar. Namun ketika isu teknis pasar tersebut bergeser ke media sosial, maknanya kerap terdistorsi menjadi label yang dianggap merendahkan harga diri bangsa.
Reaksi publik yang emosional kemudian melahirkan narasi “Sell Singapore” sebagai ekspresi nasionalisme. Meski muncul dari dorongan membela kepentingan nasional, respons semacam ini dinilai berisiko mengalihkan perhatian dari persoalan utama, yakni memperkuat fondasi ekonomi dan menjaga kepercayaan terhadap pasar dalam negeri.
Di tengah tarik-menarik narasi itu, sejumlah figur publik dan aktor digital mulai mendorong pesan yang dinilai lebih konstruktif, yakni “Buy Indonesia”. Seruan tersebut diposisikan sebagai ajakan untuk kembali percaya pada kekuatan pasar, produk lokal, serta daya tahan ekonomi nasional, tanpa membangun sentimen permusuhan terhadap negara lain.
Di sisi kebijakan, otoritas juga disebut mengambil langkah untuk meredam pesimisme. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi riil ekonomi nasional dinilai lebih tangguh dibanding persepsi sepihak pasar. Bank Indonesia (BI) turut mengambil langkah stabilisasi dengan menaikkan BI Rate 25 basis poin menjadi 5,50 persen, yang dipandang sebagai sinyal bagi investor bahwa arah kebijakan ekonomi tetap terjaga.
Dampak bauran kebijakan dan penguatan kepercayaan itu disebut terlihat pada data pasar terbaru Juni 2026. Rupiah yang sebelumnya tertekan dilaporkan bergerak menguat, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat naik 2,71 persen ke kisaran 5.902.
Momentum yang disebut sebagai “Indonesia Pulih” kemudian dipahami sebagai pengingat bahwa ketahanan ekonomi tidak ditentukan oleh perang narasi di dunia maya, melainkan oleh kebijakan yang kredibel, stabilitas nilai tukar, penyerapan devisa di dalam negeri, serta dukungan publik yang tetap tenang dan optimistis.