Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekologi Manusia (BEM FEMA) IPB kembali menjalankan pilar pengabdian melalui Departemen Sosial dan Pengembangan Masyarakat. Upaya ini diarahkan untuk menjembatani mahasiswa dan masyarakat dalam mendorong perubahan yang bermakna dan berkelanjutan.
Komitmen tersebut diwujudkan lewat program “Sahabat Jiwa”, sebuah inisiatif yang menyoroti isu kesehatan mental sekaligus menekankan nilai kemanusiaan, empati, dan penyediaan ruang ekspresi yang inklusif bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Dalam pelaksanaannya, Sahabat Jiwa berkolaborasi dengan Humanies Project, yayasan yang berfokus pada aksi sosial dan kesadaran publik di bidang pendidikan, kebijakan, lingkungan, serta kesejahteraan masyarakat. Kolaborasi ini mengusung tema “Unity in Empathy & Strength in Collaboration.”
Program Sahabat Jiwa dirancang sebagai rangkaian kegiatan selama tiga minggu berturut-turut. Kegiatan berfokus pada peningkatan kesejahteraan ODGJ melalui pendekatan berbasis keilmuan, empati, inklusivitas, dan kreativitas mahasiswa.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan simbolik. Ketua BEM FEMA, perwakilan Humanies Project, dan perwakilan yayasan mengecapkan ibu jari ke cat warna-warni, lalu menempelkannya pada kain dan kaos bertuliskan “Sahabat Jiwa BEM FEMA X HUMANIES PROJECT”. Simbol tersebut dimaknai sebagai wujud kebersamaan, harapan, dan komitmen untuk saling menguatkan.
Setelah pembukaan, kegiatan berlanjut ke sesi journaling emosi. Peserta menuliskan perasaan mereka pada lembar journaling dengan pendampingan fasilitator dan penanggung jawab kelompok. Sejumlah tulisan peserta menggambarkan kerinduan, refleksi, serta harapan. Salah satunya karya berjudul “Flashback” yang ditulis AM, berisi kerinduan masa kecil dan refleksi tentang perjuangan hidup: “Kini aku di sini hanya bisa meratapi semua yang telah terjadi dan menanti masa depan yang belum pasti. Aku ingin kembali ke masa itu, masa di mana aku masih lugu… Kini aku hanya bisa merindu.”
Ada pula tulisan berjudul “Yayasan Bina Tauhid Darul Miftahudin” yang memuat rasa syukur dan refleksi spiritual: “Kita di sini sama-sama belajar tentang kesederhanaan, kepedulian, dan kebersamaan. Kami belajar mendekatkan diri pada Sang Pencipta agar pulih sehat seperti sediakala.”
Usai sesi menulis, peserta diajak melukis emosi pada media kaos putih bertuliskan “Sahabat Jiwa BEM FEMA X HUMANIES PROJECT”. Setiap warna dipakai untuk mewakili perasaan, sementara fasilitator dan penanggung jawab kelompok mendampingi peserta sekaligus berdialog mengenai makna di balik goresan yang dibuat.
Di akhir sesi menggambar, peserta menampilkan hasil karya mereka. Sejumlah pesan yang tertulis di kaos mengekspresikan rindu dan harapan, seperti “Mama kangen Andhara Farzan” serta gambar hati bertuliskan “Broken home, yang kurindukan adalah berkumpul bersama keluarga.” Pesan-pesan tersebut menjadi wujud ekspresi personal melalui kata dan warna.
Salah satu peserta bernama Fabian juga menceritakan makna lukisannya. “Aku gambar masjid ini karena aku mau bangun masjid kaya gini nanti dan pengen ke baitullah,” ujarnya.
Di sela kegiatan, Bu Isah menyampaikan pengalamannya setelah menulis. “Tadi saya nulis tentang perasaan saya neng... hati saya senang hari ini karena kakak-kakak dateng jadi kita nggak diem di kamar doang. Udah lama nggak nulis gini neng. Tapi saya juga sedih karena badan saya masih sakit sudah beberapa hari, tapi pas nulis ini rasanya hati jadi lebih ringan neng,” tuturnya.
Penyelenggara menilai kegiatan menulis dan melukis tidak sekadar aktivitas kreatif, melainkan ruang komunikasi yang inklusif antara mahasiswa dan peserta. Sepanjang kegiatan, suasana hangat tampak dari interaksi yang terbuka. Peserta menunjukkan antusiasme, sementara tim mahasiswa hadir sebagai pendamping yang mendengarkan dan merespons dengan empati.
Ketua BEM FEMA IPB 2025 Nava Olivia mengatakan, “Semua dimulai dari hal kecil yang dilakukan untuk memberikan dampak dan kebermanfaatan.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Sahabat Jiwa diposisikan sebagai gerakan bersama untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya dukungan sosial, sekaligus menegaskan hak setiap individu—termasuk ODGJ—untuk didengar, diterima, dan dihargai.
Kegiatan ditutup dengan sesi dokumentasi. Kaos yang telah dipenuhi warna dibentangkan sebagai simbol bahwa setiap individu berhak berekspresi dan didengar, apa pun latar belakang dan kisah hidupnya.
Panitia menyatakan rangkaian Sahabat Jiwa akan berlanjut pada dua kegiatan berikutnya dengan fokus materi yang berbeda, namun tetap membawa semangat yang sama: membangun empati, menumbuhkan kolaborasi, dan menghidupkan nilai kemanusiaan dalam setiap langkah pengabdian.