PT Astra Agro Lestari Tbk mengoperasikan fasilitas methane capture di PT Kimia Tirta Utama (PT KTU), Kabupaten Siak, Riau, sebagai bagian dari upaya mendukung target penurunan emisi nasional dan agenda dekarbonisasi perusahaan. Peresmian fasilitas ini disebut menjadi salah satu tonggak dalam langkah perusahaan menuju operasional yang lebih berkelanjutan serta mendukung target Indonesia menuju Net Zero Emission.
Fasilitas tersebut diresmikan oleh Chief of Corporate Affairs PT Astra International Tbk, Boy Kelana Soebroto, didampingi Executive in Charge sekaligus Chief of Group Legal Astra, Boy Gemino Kalauserang. Peresmian juga dihadiri Chief Technical Officer Astra Agro, Widayanto; Chief Agronomy & Sustainability Officer Astra Agro, Bandung Sahari; Division Head ESR Astra International, Diah Suran Febrianti; serta jajaran manajemen dan staf Astra Agro.
Fasilitas methane capture PT KTU mengolah limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) untuk menangkap gas metana yang dihasilkan. Gas metana yang sebelumnya berpotensi terlepas ke atmosfer ditangkap dan dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan guna mendukung operasional pabrik.
Dengan kapasitas pabrik 50 ton tandan buah segar (TBS) per jam, fasilitas methane capture PT KTU tercatat telah memproduksi biogas sebesar 1,17 juta Nm³ hingga Mei 2026. Dari jumlah itu, 1,11 juta Nm³ telah dimanfaatkan sebagai bahan bakar boiler untuk menggantikan penggunaan cangkang sawit.
Pemanfaatan biogas tersebut diklaim menghemat penggunaan cangkang hingga 2.564 ton atau setara 3,5 persen dari total TBS yang diolah hingga Mei 2026. Selain itu, fasilitas ini disebut telah berkontribusi pada pengurangan emisi sebesar 7.444 ton CO2 ekuivalen hingga Mei 2026 dan diproyeksikan mencapai 28.649 ton CO2 ekuivalen pada akhir 2026.
Peresmian fasilitas methane capture di PT KTU juga menandai pengoperasian unit methane capture ketiga di lingkungan Astra Agro. Perusahaan menargetkan pembangunan hingga 10 fasilitas methane capture secara bertahap sebagai bagian dari peta jalan pengurangan emisi jangka panjang.
Boy Kelana Soebroto menyatakan inisiatif ini sejalan dengan Astra 2030 Sustainability Aspirations yang mendorong penurunan emisi gas rumah kaca dan peningkatan efisiensi energi di seluruh lini bisnis Grup Astra. Ia mengatakan fasilitas methane capture tersebut merupakan bentuk komitmen untuk menghadirkan operasional yang lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung target penurunan emisi Grup Astra.
Menurut Boy, kehadiran fasilitas methane capture PT KTU menjadi bukti konsistensi Astra Agro dalam mendukung target penurunan emisi sebesar 30 persen pada 2030 serta target Net Zero Scope 1 dan Scope 2 Astra pada 2050.
Sementara itu, Widayanto menjelaskan pembangunan fasilitas methane capture merupakan bagian dari transformasi teknis dan operasional perusahaan menuju perkebunan yang dinilai lebih efisien, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.