Festival Suaraga menghadirkan suasana berbeda pada malam penutupan di Taman Balekambang, Kota Solo, Minggu (5/7/2026). Selain menampilkan musisi populer, festival ini memadukan seni tradisi dengan musik modern melalui pertunjukan wayang kulit yang dikemas secara kontemporer.
Salah satu penampilan yang menyita perhatian datang dari dalang Ki Amar Pradopo yang berkolaborasi dengan musisi Fanny Soegi. Dalam pertunjukan tersebut, gamelan tetap hadir sebagai pengiring, namun dipadukan dengan nuansa musik modern sehingga memberikan pengalaman baru bagi penonton.
Ki Amar Pradopo membawakan kisah Ramayana dengan pendekatan yang lebih ringkas. Cerita berfokus pada tokoh Rahwana dan Sinta, yang digambarkan sebagai simbol pergulatan seorang perempuan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
Pesan itu diperkuat melalui simbol seekor burung putih yang dikurung dalam sangkar di atas panggung. Burung tersebut menjadi representasi Sinta yang berada dalam belenggu Rahwana.
Menjelang akhir pertunjukan, Fanny Soegi naik ke panggung membawakan sebuah lagu dengan suara khasnya yang mengiringi klimaks cerita. Pada momen yang sama, Ki Amar melepaskan burung dari sangkar sebagai simbol kebebasan Sinta dalam menentukan takdirnya.
Kolaborasi itu menutup pertunjukan yang memadukan wayang kulit, musik, drama, dan teater dalam satu panggung.
Selain wayang kulit, malam terakhir Festival Suaraga juga diramaikan pertunjukan seni tradisi lain, mulai tari Serimpi hingga musik gamelan yang ditampilkan di sela penampilan Maliq & D'Essentials, Fanny Soegi, ALI, FSTVLST, dan Ucupop.
Salah seorang penonton asal Solo, Nadila Putri, mengaku terkesan dengan konsep festival yang menggabungkan musik modern dan seni tradisi. Menurutnya, konsep seperti itu jarang ditemui dalam konser.
Nadila juga menilai suasana Taman Balekambang membuat acara terasa lebih akrab karena digelar di ruang terbuka hijau di tengah kota. Ia menyebut jumlah penonton yang tidak terlalu banyak justru membuat pengalaman menonton terasa lebih intim. Nadila mengaku datang sejak sore untuk menyaksikan penampilan Maliq & D'Essentials sekaligus menemani temannya menikmati aksi FSTVLST hingga acara berakhir.
Konsep perpaduan musik modern dan seni tradisi tersebut disebut sejalan dengan gagasan Jawa Wellness yang tengah dikembangkan Pemerintah Kota Solo. Wali Kota Solo, Respati Ardi, menjelaskan kebudayaan Jawa tidak hanya hidup di lingkungan keraton, tetapi juga hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Melalui konsep Jawa Wellness, budaya diposisikan bukan sekadar objek wisata, melainkan sumber nilai dan pengalaman yang dapat membantu seseorang mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Ia menyatakan wisatawan diharapkan tidak hanya melihat kebudayaan Jawa, tetapi juga merasakan langsung nilai-nilai yang hidup di dalamnya melalui berbagai pengalaman budaya yang ditawarkan Kota Solo.