BERITA TERKINI
WARI’ di Jakarta Design Center: Ketika Kepantasan Bugis Menata Ulang Cara Kita Melihat Seni dan Ruang

WARI’ di Jakarta Design Center: Ketika Kepantasan Bugis Menata Ulang Cara Kita Melihat Seni dan Ruang

Isu yang Membuatnya Tren

Dalam beberapa hari terakhir, pembicaraan publik mengarah ke satu pameran yang tidak lazim: WARI’ Art/Interior 2026 di Jakarta Design Center, Jakarta Pusat.

Ia menjadi tren bukan karena sensasi, melainkan karena menawarkan pengalaman yang terasa baru bagi banyak orang: seni rupa hadir di showroom interior, bukan di galeri berdinding putih.

Di tengah kota yang sering memisahkan disiplin kreatif ke kotak-kotak, pameran ini justru mengaburkan batasnya. Seni, desain, dan craftmanship bertemu dalam satu lanskap.

Jakarta Design Center sendiri tampak seperti gedung perkantoran dari luar. Namun sejak dibuka pada Maret 1990, ia adalah simpul desain dan seni interior.

Pameran WARI’ digelar di showroom Javier, lantai 3. Eksibisi ini digagas oleh Martin Liem melalui Javier, BK Studio, dan Galeri ZEN1.

Di ruang yang biasanya berbicara tentang cabinetry, material, dan finishing, kini karya seni modern dan kontemporer Tanah Air berdialog dengan aroma, cahaya, dan tata ruang.

Di situ, publik menemukan sesuatu yang jarang disodorkan: seni yang tidak meminta jarak. Seni yang tidak menuntut kita paham dulu, baru boleh masuk.

-000-

Tiga Alasan Mengapa Isu Ini Melejit di Google Trend

Pertama, pameran ini mematahkan kebiasaan “white cube” yang identik dengan galeri seni. Banyak orang penasaran: seperti apa seni jika dipamerkan sebagai bagian interior?

Pertanyaan itu sederhana, tetapi mengguncang kebiasaan. Ia menyentuh rasa ingin tahu publik yang selama ini merasa seni terlalu formal.

Kedua, konsep “wari’” yang diangkat sebagai gerakan nilai membuat pameran ini tidak berhenti pada estetika. Ia membawa kata kunci yang mudah diingat.

Kurator Budi Kurniawan dari BK Studio menyebut wari’ sebagai istilah Bugis Kuno yang berarti “kepantasan”. Ia menekankan ini bukan sekadar titel pameran.

“Wari’ itu satu kata term dari Bugis Kuno, bukan titel pameran tapi jadi movement,” ujarnya saat preview di JDC, Rabu (22/10/2026).

Ketiga, pameran ini gratis. Di kota dengan biaya hidup yang terus menanjak, akses tanpa tiket adalah undangan yang terasa personal.

Gratis di sini bukan sekadar angka nol rupiah. Ia adalah pernyataan: ruang budaya bisa dibuka, tanpa syarat, tanpa rasa sungkan.

-000-

Ketika “Kepantasan” Menjadi Bahasa Pameran

Kata “kepantasan” kerap terdengar seperti aturan. Namun dalam pameran ini, ia diperlakukan sebagai kompas: bagaimana nilai dijunjung dalam cara memamerkan.

Wari’ dibaca sebagai kepantasan nilai yang dijaga. Ia mengajak kita memikirkan ulang: pantas itu bukan semata sopan, tetapi juga tepat dan bertanggung jawab.

Di ruang publik Indonesia, kata-kata nilai sering mengeras jadi slogan. Pameran ini mencoba membuatnya lunak kembali, lewat pengalaman ruang yang bisa diraba mata.

Pengalaman itu dibangun melalui aroma, cahaya, dan penataan yang berbeda dari galeri biasa. Pengunjung tidak hanya melihat karya, tetapi “berada” di dalamnya.

Di titik ini, seni tidak berdiri sendirian. Ia berbagi panggung dengan interior, dengan material, dengan ritme langkah pengunjung, dan dengan jeda di lounge.

-000-

Modern dan Kontemporer dalam Satu Ruang

WARI’ membuka ruang bagi seniman modern dan kontemporer untuk berada dalam satu area yang sama. Ini penting, karena ekosistem seni kerap memisahkan generasi.

Ada area koleksi khusus untuk Hendra Gunawan, Made Wianta, dan Ugo Untoro. Kehadiran nama-nama ini memberi jangkar historis bagi pengalaman pengunjung.

Di sisi lain, deret seniman kontemporer mengisi ruang dengan bahasa yang lebih cair. Mereka membawa patung, humor, komentar sosial, hingga art toys.

Andry Boy Kurniawan menampilkan patung resin 3D dengan karakter imajinatif. Ada figur shio Tionghoa dan zodiak dalam seri The Peace Keepers.

Keunikannya, figur ciptaan Boy bisa bergerak dalam aplikasi. Di sini, batas antara karya fisik dan pengalaman digital menjadi semakin tipis.

Apin menghadirkan patung yang penuh humor, komentar sosial, dan pembacaan ulang obyek keseharian. Ia mengajak kita menertawakan hal akrab, lalu merenung.

Arief Witjaksana mempertemukan seni kontemporer, karakter desain, dan art toys lewat semesta kreatif Malaccan Tales. Ia terasa dekat dengan budaya pop.

Di lounge, Indra Evendi bersama Alex Bayusaputro menghadirkan seri Batloon. Ada Gorilla, Batmon, Pieta, T-Rex, hingga huruf China “fu”.

Alex menjelaskan adanya pesan tersembunyi. “Fu” dapat dibaca sebagai keberuntungan, namun dalam bahasa China juga bermakna kelelawar, terkait simbol Batman.

Ia menyebut karya itu lebih fun dan cocok untuk interior desain. Pernyataan ini terdengar ringan, tetapi menyimpan isu serius: seni sebagai bagian hidup harian.

-000-

Desain Interior sebagai Cara Baru Membaca Seni

Selama ini, banyak orang merasa seni rupa adalah wilayah khusus. Ia seperti museum batin yang pintunya hanya terbuka bagi mereka yang tahu kata sandinya.

WARI’ membongkar situasi itu dengan strategi yang sederhana: memindahkan seni ke ruang yang sudah akrab bagi publik urban, yakni showroom interior.

Interior dan elemen artistik yang dikembangkan melalui Javier, termasuk cabinetry, eksplorasi material, dan finishing khusus, membentuk karakter ruang pameran.

Karya-karya yang dipajang dikurasi oleh BK Studio dan Galeri ZEN1. Mereka membangun lanskap pengalaman ruang yang total, bukan sekadar tempelan dekoratif.

Di sini, desain interior tidak menjadi latar pasif. Ia adalah narator kedua yang mengarahkan mata, mengatur jarak, dan membentuk suasana.

Ketika cahaya mengubah bayang, ketika aroma menambah ingatan, seni tidak lagi hanya dilihat. Seni menjadi pengalaman yang menempel di tubuh.

-000-

Isu Besar Indonesia: Ekonomi Kreatif, Akses Budaya, dan Kota yang Manusiawi

Tren WARI’ tidak bisa dilepaskan dari isu besar Indonesia: bagaimana ekonomi kreatif bertumbuh tanpa mengorbankan akses dan kedalaman.

Direktur Utama JDC, Ir. Nurul Syahri, menyebut JDC sebagai wadah pelaku seni kreatif untuk mengeksplorasi gagasan dan perspektif desain.

Ia menegaskan komitmen JDC sebagai design hub untuk menciptakan ekosistem yang mendukung industri kreatif melalui ruang, koneksi, dan kesempatan kolaborasi.

Pernyataan itu relevan dengan kebutuhan kota besar. Jakarta tidak hanya membutuhkan gedung, tetapi juga ruang temu yang membuat warganya merasa memiliki.

Ketika seni ditempatkan di ruang yang lebih terbuka dan tidak mengintimidasi, akses budaya menjadi lebih luas. Ini berkaitan dengan rasa keadilan kultural.

Di saat yang sama, kolaborasi seni dan interior mengingatkan bahwa kreativitas adalah rantai nilai. Ada seniman, kurator, desainer, pengrajin, dan ruang display.

Jika rantai ini sehat, ia bisa menjadi penopang pekerjaan, komisi, dan keberlanjutan praktik kreatif. Namun jika hanya jadi tren sesaat, ia mudah menguap.

-000-

Riset yang Relevan: Mengapa Pengalaman Ruang Mengubah Cara Kita Mengapresiasi

Dalam kajian museum dan pameran, pengalaman pengunjung sering dipahami sebagai hasil interaksi antara objek, ruang, dan interpretasi.

Penelitian di bidang studi museum menekankan bahwa konteks display memengaruhi makna yang ditangkap pengunjung. Cara pencahayaan dan tata letak mengarahkan perhatian.

Di ranah psikologi lingkungan, kualitas ruang seperti pencahayaan dan atmosfer dapat memengaruhi emosi, kenyamanan, dan durasi orang bertahan di suatu tempat.

WARI’ memanfaatkan prinsip itu secara praktis. Ia tidak hanya memajang karya, tetapi merancang kondisi agar pengunjung merasa aman untuk mendekat.

Ketika rasa aman hadir, orang lebih berani bertanya. Mereka tidak takut terlihat “tidak mengerti”. Dari situ, apresiasi tumbuh sebagai proses, bukan ujian.

Riset tentang ekonomi kreatif juga sering menyoroti pentingnya klaster dan hub. Ruang temu mempercepat kolaborasi lintas disiplin dan memperluas jejaring.

JDC, dengan identitasnya sebagai pusat desain dan interior, menyediakan konteks klaster tersebut. Pameran seperti WARI’ menjadi contoh praktik lintas bidang.

-000-

Rujukan Luar Negeri: Ketika Seni Keluar dari Galeri

Di berbagai kota dunia, seni sering dipindahkan dari format galeri klasik ke ruang alternatif. Tujuannya serupa: memperluas audiens dan mendekatkan pengalaman.

Di luar negeri, art fair kerap menampilkan karya dalam setting yang lebih menyerupai ruang hidup, bukan dinding putih steril. Pendekatan ini menormalisasi seni di rumah.

Selain itu, banyak pameran desain internasional menempatkan seni sebagai bagian dari instalasi interior. Seni dan desain diperlakukan sebagai satu bahasa visual.

Kesamaannya dengan WARI’ terletak pada satu hal: seni dipahami sebagai pengalaman ruang. Ia bukan hanya objek, tetapi hubungan antara benda dan cara kita hidup.

Namun setiap kota punya konteks. Di Indonesia, pendekatan ini terasa lebih signifikan karena kesenjangan akses budaya masih menjadi pekerjaan rumah.

-000-

Analisis: Apa yang Sebenarnya Sedang Dicari Publik

Tren ini memberi petunjuk bahwa publik sedang mencari pengalaman budaya yang tidak menggurui. Mereka ingin ruang yang mengundang, bukan mengadili.

Publik juga mencari bentuk baru dari kebersamaan. Pameran yang menyatu dengan interior membuat orang merasa sedang berkunjung, bukan sedang diuji pengetahuannya.

Di balik itu, ada kerinduan pada kota yang lebih manusiawi. Kota yang menyediakan jeda, ruang tenang, dan kesempatan untuk memaknai sesuatu tanpa tergesa.

WARI’ menawarkan jeda tersebut. Ia mengajak kita memikirkan “kepantasan” bukan sebagai larangan, melainkan sebagai tata nilai dalam membangun ruang bersama.

-000-

Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, publik dapat datang dengan sikap ingin tahu, bukan ingin cepat menilai. Pameran seperti ini bekerja pelan, melalui detail ruang dan pertemuan gagasan.

Kedua, pelaku ekosistem kreatif dapat meniru model kolaborasi lintas bidang. Seniman, desainer interior, dan ruang pamer dapat merancang proyek bersama yang berkelanjutan.

Ketiga, pengelola ruang kreatif perlu menjaga keseimbangan antara akses dan kualitas kurasi. Gratis penting, tetapi narasi dan perawatan pengalaman pengunjung juga krusial.

Keempat, pemerintah dan pemangku kepentingan dapat melihat pameran semacam ini sebagai laboratorium kebijakan. Ruang temu kreatif bisa menjadi bagian perencanaan kota.

Kelima, media dan komunitas dapat memperluas percakapan dari sekadar ramai menjadi reflektif. Bukan hanya siapa yang tampil, tetapi apa makna “kepantasan” hari ini.

-000-

Penutup: Kepantasan sebagai Cara Merawat Ruang Bersama

WARI’ di Jakarta Design Center menunjukkan bahwa seni tidak selalu membutuhkan tembok putih untuk menjadi penting. Ia membutuhkan niat, ruang, dan keberanian melintas batas.

Di kota yang sering membuat kita berlari, pameran ini mengingatkan bahwa melihat adalah kerja batin. Dan ruang yang baik membantu kita melakukannya dengan utuh.

Pada akhirnya, “kepantasan” mungkin adalah kemampuan untuk menempatkan sesuatu pada tempat yang memuliakan manusia. Termasuk memuliakan rasa ingin tahu.

Seperti sebuah pengingat yang layak dibawa pulang: “Nilai yang baik tidak berteriak; ia bekerja diam-diam, lewat cara kita memperlakukan ruang dan sesama.”