Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) akan berpartisipasi dalam Global Youth Congress 2026 yang digelar di Bangkok, Thailand, pada 2–4 Juli 2026. Dalam kegiatan tersebut, UBSI mendelegasikan Cicih Nuareni, dosen Program Studi Sastra Inggris, serta dua mahasiswa, yakni Kayla Shabirah Putri dari Program Studi Ilmu Komunikasi dan Bella Amelia dari Program Studi Sistem Informasi.
Global Youth Congress merupakan bagian dari Global Youth Conference on Sustainable Development Goals (GYC), sebuah konferensi tahunan yang bertujuan membangun jaringan pemuda global dengan fokus pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Forum ini mempertemukan pelajar, mahasiswa, profesional muda, aktivis sosial, hingga inovator dari berbagai negara untuk berbagi gagasan dan membangun kolaborasi lintas budaya.
Bella Amelia menyebut keikutsertaannya menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan global sekaligus memahami peran generasi muda dalam mendukung SDGs. Ia mengatakan forum ini tidak hanya berisi kegiatan konferensi, tetapi juga ruang belajar dan kolaborasi lintas negara yang dapat diterapkan di lingkungan kampus maupun masyarakat.
Menurut Bella, agenda pertama yang akan diikuti adalah Youth Conference, yang menghadirkan pembicara internasional, perwakilan pemerintah, aktivis sosial, inovator muda, dan para ahli dari berbagai bidang. Ia berharap dapat mempelajari pengalaman para pembicara serta memahami beragam pendekatan negara dalam menghadapi tantangan global.
Para peserta juga dijadwalkan mengikuti Project Collaboration, yakni sesi kolaborasi kelompok untuk membahas isu-isu global dan merumuskan solusi inovatif. Bella menilai sesi ini penting karena peserta akan bekerja sama dengan latar belakang budaya dan negara yang berbeda, sekaligus melatih kemampuan menyampaikan ide, mendengarkan, bernegosiasi, dan mencari solusi bersama.
Agenda berikutnya adalah SDGs Training yang berisi pembekalan mengenai nilai-nilai dan tujuan pembangunan berkelanjutan. Bella berharap pelatihan ini dapat memperdalam pemahamannya mengenai isu sosial, ekonomi, dan lingkungan agar lebih aktif mengambil peran dalam menciptakan perubahan positif.
Selain itu, Bella juga menantikan Innovation Speech, sesi yang memberi kesempatan kepada peserta untuk mempresentasikan ide dan inovasi. Ia ingin melihat berbagai solusi yang ditawarkan pemuda dari sejumlah negara, sekaligus membagikan gagasan yang dimiliki dan memperoleh masukan dari peserta lain.
Ia juga menyoroti agenda Volunteering Exchange sebagai wadah pertukaran budaya dan pengalaman antar peserta. Menurutnya, kesempatan mengenal budaya baru dapat memperkuat sikap terbuka, toleran, dan kesiapan bekerja sama dalam lingkungan global.
Rangkaian kegiatan akan ditutup dengan Awarding Program. Peserta yang menyelesaikan seluruh agenda akan memperoleh pengakuan sebagai Innovation and Change Ambassador 2026. Bella mengatakan penghargaan tersebut dipandangnya sebagai simbol tanggung jawab untuk terus belajar, menginspirasi, dan memberi dampak positif setelah program berakhir.
Melalui keikutsertaan dalam Global Youth Congress 2026, delegasi UBSI diharapkan membawa pulang pengalaman, wawasan, serta jejaring internasional yang dapat memperkuat peran mahasiswa Indonesia sebagai generasi muda yang siap menjadi agen perubahan di tingkat global.