BERITA TERKINI
Tren Liburan Bergeser: Slow Stay Tawarkan Cara Berwisata yang Lebih Tenang

Tren Liburan Bergeser: Slow Stay Tawarkan Cara Berwisata yang Lebih Tenang

Gaya berlibur dengan agenda padat yang selama ini dianggap ideal mulai ditinggalkan sebagian wisatawan. Jika sebelumnya perjalanan dinilai semakin berkesan ketika mampu mengunjungi banyak tempat dalam waktu singkat, kini muncul kecenderungan baru: liburan yang lebih santai dan tidak terburu-buru.

Perubahan ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk beristirahat, baik secara fisik maupun mental. Banyak pelancong memilih perjalanan yang tidak berfokus pada daftar destinasi panjang, melainkan pada kesempatan untuk benar-benar menikmati waktu yang dimiliki.

Konsep tersebut dikenal sebagai slow stay, yakni gaya liburan yang mengutamakan ketenangan dan kualitas pengalaman. Dalam pendekatan ini, ukuran keberhasilan liburan bukan ditentukan oleh banyaknya aktivitas, tetapi oleh seberapa jauh seseorang bisa merasakan jeda dan memulihkan diri.

Menurut laporan Stuff, tren ini tidak lepas dari kehidupan modern yang serba cepat dan penuh distraksi. Media sosial, notifikasi, hingga tuntutan pekerjaan membuat banyak orang sulit benar-benar beristirahat, bahkan saat sedang berlibur.

Karena itu, sebagian wisatawan mulai mencari pengalaman yang memungkinkan mereka melepaskan diri sejenak dari rutinitas. Tujuannya sederhana: pulang dari liburan dengan tubuh dan pikiran lebih segar, bukan justru kelelahan akibat jadwal yang terlalu padat.

Dalam praktiknya, slow stay mendorong wisatawan memperlambat ritme perjalanan. Aktivitas sederhana seperti membaca buku, menikmati pemandangan, atau bersantai tanpa agenda menjadi bagian utama dari pengalaman berlibur.

Sejumlah destinasi pun mulai mengadopsi konsep ini untuk menjawab kebutuhan tersebut. Salah satunya Domu Retreat di Selandia Baru, yang mendorong pelancong menikmati suasana tanpa gangguan televisi maupun aktivitas berlebihan. Pengunjung diajak menghabiskan waktu dengan membaca, bermain permainan papan, atau menikmati makan malam bersama, yang dirancang untuk menciptakan interaksi lebih hangat dan bermakna.

Konsep serupa juga diterapkan Watershed Saunas di Queenstown melalui pengalaman sauna komunal. Pengunjung dapat menikmati suasana alam sambil berinteraksi langsung dengan orang lain, tanpa gangguan perangkat digital.

Dengan semakin banyaknya pilihan perjalanan yang menekankan ketenangan, slow stay menjadi salah satu cara baru menikmati liburan—bukan untuk mengejar sebanyak mungkin tempat, melainkan untuk memberi ruang pada jeda dan pemulihan.