Tradisi Tiban di Trenggalek mendadak ramai dibicarakan karena memadukan tiga hal yang selalu memantik perhatian publik.
Ia adalah budaya lokal, tontonan yang keras dan dramatis, serta narasi harapan yang sangat manusiawi, yaitu menunggu hujan turun.
Di tengah musim kemarau panjang, kabar bahwa Tiban akan terus dihelat hingga hujan datang menyentuh ruang emosi banyak orang.
Bukan semata soal pertunjukan, melainkan tentang cara sebuah desa merawat makna ketika alam terasa semakin sulit ditebak.
-000-
Arena, Gamelan, dan Tubuh yang Menjadi Bahasa
Di Desa Jajar, Kecamatan Gandusari, alunan gamelan bertalu-talu di tengah riuh ratusan penonton yang melingkari arena.
Di pusat lingkaran itu, dua pria bertelanjang dada menggenggam pecut, sesekali berjoget mengikuti irama.
Lalu pada momen tertentu, pecut disabetkan hingga mengenai tubuh lawan.
Sorak penonton pecah seiring bunyi sabetan, menandai bahwa Tiban bukan tontonan sunyi.
Ia hidup dari bunyi, gerak, dan keberanian yang dipertontonkan secara terbuka.
Dalam tradisi ini, tubuh menjadi bahasa.
Bukan bahasa yang halus, melainkan bahasa yang tegas, berisiko, dan menuntut ketahanan.
-000-
Mengapa Tiban Menjadi Tren: Tiga Alasan
Pertama, Tiban menawarkan kontras yang kuat antara estetika gamelan dan kekerasan simbolik pecut.
Kontras semacam ini mudah menjadi bahan percakapan, karena publik cenderung bereaksi pada peristiwa yang ekstrem dan tidak biasa.
Kedua, Tiban hadir dalam konteks kemarau panjang.
Ketika cuaca menjadi isu sehari-hari, tradisi yang dikaitkan dengan harapan turun hujan otomatis terasa relevan dan dekat.
Ketiga, ada kisah gotong royong yang menempel pada perhelatan ini.
Pangrawit dan peserta disebut datang sukarela tanpa dibayar, seolah menegaskan bahwa tradisi dapat bertahan karena ikhlas kolektif.
Di era ketika banyak hal diukur dengan transaksi, kabar tentang partisipasi tanpa upah mengundang rasa kagum sekaligus tanya.
-000-
Dari “Tiba Udan” ke Paseduluran
Tiban atau “tiba udan” digelar sepekan sekali selama musim kemarau panjang di Desa Jajar.
Kepala Desa Jajar, Imam Mukaryanto Edy, menyebut pagelaran bertajuk Jajar Gempita sebagai upaya pelestarian warisan leluhur.
Ia juga menyebutnya hiburan bagi petani dan masyarakat di saat kemarau.
Lebih dari itu, ia menekankan fungsi sosialnya.
Tradisi ini disebut sebagai sarana menjalin paseduluran, menambah dulur dan kanca.
Dalam kalimat sederhana itu, tersimpan inti kebudayaan.
Tradisi bukan hanya peristiwa, melainkan mekanisme sosial untuk menjaga agar orang tetap merasa saling memiliki.
-000-
Harapan Hujan dan Batas antara Keyakinan dan Simbol
Imam juga menyampaikan bahwa sebagian orang menganggap Tiban sebagai tradisi untuk meminta hujan.
Ia menutup harapannya dengan kalimat yang akrab di telinga banyak warga desa.
“Mudah-mudahan di musim kemarau panjang ini segera diturunkan hujan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.”
Kalimat itu penting karena menempatkan harapan pada ranah spiritual, bukan kepastian teknis.
Di sini, Tiban dapat dibaca sebagai simbol.
Simbol tentang kegigihan manusia menghadapi musim yang panjang, sambil tetap mengakui keterbatasan di hadapan alam.
-000-
Tradisi sebagai Cara Mengelola Kecemasan Kolektif
Setiap kemarau panjang membawa kecemasan yang tidak selalu bisa diucapkan.
Petani memikirkan air, keluarga memikirkan biaya, dan kampung memikirkan ritme hidup yang bergantung pada cuaca.
Dalam situasi seperti itu, tradisi bekerja sebagai penyalur emosi.
Ia memberi bentuk pada rasa cemas, lalu mengubahnya menjadi pertemuan, bunyi gamelan, dan keberanian yang ditonton bersama.
Riset tentang ritual kolektif dalam ilmu sosial kerap menekankan fungsi kohesi sosial.
Ritual mengikat individu menjadi komunitas, terutama ketika menghadapi ketidakpastian.
Dalam kerangka itu, Tiban dapat dipahami sebagai upaya menjaga keteguhan bersama, bukan sekadar atraksi.
-000-
Pelestarian Budaya di Tengah Perubahan Zaman
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah desa disebut rutin menggelar Tiban saat kemarau panjang.
Tahun ini bahkan dijadwalkan sepekan sekali.
Rencananya, pergelaran akan terus dilakukan hingga hujan turun.
Kalimat “hingga hujan turun” membuat tradisi ini seperti kalender alternatif.
Bukan kalender angka, melainkan kalender rasa, yang mengikuti tanda-tanda alam.
Di Indonesia, banyak tradisi lahir dari kedekatan semacam itu.
Namun kedekatan itu kini diuji oleh perubahan sosial yang cepat.
Ketika generasi muda berpindah ke kota, dan hiburan digital mendominasi, tradisi lokal sering terdesak menjadi sekadar tontonan wisata.
Di titik ini, Tiban memunculkan pertanyaan kontemplatif.
Apakah kita masih mampu memelihara tradisi sebagai ruang hidup, bukan etalase?
-000-
Isu Besar Indonesia: Ketahanan Iklim dan Ketahanan Sosial
Berita Tiban menjadi pintu masuk untuk membicarakan isu yang lebih besar bagi Indonesia.
Isu itu adalah ketahanan iklim dan ketahanan sosial.
Ketika kemarau panjang terjadi, yang terdampak bukan hanya sawah, tetapi juga jaringan sosial desa.
Kerentanan iklim sering kali memperbesar kerentanan ekonomi.
Dalam banyak wilayah agraris, cuaca adalah penentu pendapatan, pangan, dan stabilitas rumah tangga.
Di saat yang sama, ketahanan sosial menentukan seberapa kuat masyarakat saling menopang.
Tradisi seperti Tiban memperlihatkan bahwa ketahanan sosial bukan konsep abstrak.
Ia hadir dalam bentuk pertemuan rutin, partisipasi sukarela, dan rasa memiliki yang dipelihara.
-000-
Catatan Riset: Mengapa Ritual Publik Bertahan
Dalam kajian antropologi, ritual sering dipahami sebagai perangkat sosial untuk mengikat makna bersama.
Ia menegaskan identitas kelompok, memperbarui solidaritas, dan menyediakan ruang untuk menyalurkan ketegangan.
Dalam sosiologi klasik, ada gagasan bahwa pertemuan ritual menciptakan energi emosional kolektif.
Energi itu membuat orang merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya.
Di konteks desa, rasa “bagian dari” itu sangat penting.
Ia menjaga agar kehidupan komunal tidak pecah menjadi urusan masing-masing.
Karena itu, ketika Tiban digelar rutin, yang dipertahankan bukan hanya bentuk seni.
Yang dipertahankan adalah mekanisme kebersamaan.
-000-
Rujukan Luar Negeri: Ketika Komunitas Memanggil Hujan
Di berbagai negara, komunitas juga mengenal ritual yang dikaitkan dengan harapan turunnya hujan.
Di Amerika Utara, misalnya, dikenal istilah “rain dance” dalam tradisi sejumlah masyarakat adat.
Di beberapa wilayah Asia Selatan, terdapat upacara tradisional yang dilakukan saat kekeringan sebagai bentuk permohonan hujan.
Kesamaannya bukan pada bentuk gerak atau musiknya, melainkan pada fungsinya.
Ritual menjadi cara komunitas merespons cuaca ekstrem dengan bahasa budaya.
Namun rujukan semacam ini perlu dibaca dengan hati-hati.
Setiap tradisi lahir dari sejarah dan nilai yang berbeda, sehingga tidak adil jika disamakan begitu saja.
Yang bisa dipetik adalah pelajaran umum.
Ketika alam sulit diprediksi, manusia sering kembali pada simbol, kebersamaan, dan doa.
-000-
Sukarela Tanpa Bayaran: Romantika atau Daya Tahan?
Berita menyebut para pangrawit hingga peserta rela berpartisipasi tanpa dibayar.
Mereka datang dengan ikhlas, termasuk peserta dari Trenggalek, Tulungagung, Kediri, dan Blitar.
Di satu sisi, ini menunjukkan daya tarik tradisi yang melampaui insentif materi.
Di sisi lain, ia mengajak publik berpikir tentang keberlanjutan.
Jika sebuah perhelatan bertumpu pada kerelaan, bagaimana ia bertahan ketika beban hidup meningkat?
Pertanyaan ini tidak harus dijawab dengan sinisme.
Ia justru membuka ruang bagi kebijakan budaya yang lebih peka.
Pelestarian tidak cukup hanya dengan tepuk tangan.
Ia memerlukan tata kelola, keselamatan, dan dukungan yang tidak merusak ruh tradisi.
-000-
Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi
Pertama, publik perlu melihat Tiban dengan kacamata ganda.
Ia adalah ekspresi budaya yang layak dihormati, sekaligus peristiwa fisik yang perlu perhatian pada keselamatan peserta.
Kedua, dialog lokal harus menjadi pusat.
Tradisi hidup karena masyarakat pendukungnya, sehingga perubahan apa pun sebaiknya dibicarakan bersama warga, tokoh adat, dan penyelenggara.
Ketiga, pemerintah daerah dapat memperkuat aspek pelestarian tanpa mengubah substansi.
Dukungan bisa berupa pengaturan kerumunan, fasilitas kesehatan, dan dokumentasi budaya yang rapi.
Keempat, ruang edukasi perlu dibuka.
Tiban dapat dijelaskan sebagai warisan, sebagai seni, dan sebagai praktik sosial, agar tidak semata dipandang sensasional.
Kelima, isu kemarau panjang tidak boleh berhenti pada simbol.
Tradisi bisa berjalan, tetapi percakapan publik juga perlu mendorong kesadaran tentang ketahanan air dan kesiapsiagaan musim kering.
-000-
Menunggu Hujan, Merawat Makna
Di arena Tiban, pecut menyabet, gamelan berbunyi, dan penonton bersorak.
Namun di balik bunyi itu, ada sesuatu yang lebih pelan.
Ada harapan yang tidak selalu bisa dirumuskan, selain kalimat sederhana: semoga hujan segera turun.
Di Desa Jajar, tradisi ini direncanakan terus digelar hingga hujan datang.
Barangkali di situlah letak sisi paling kontemplatifnya.
Manusia tidak bisa memerintah langit, tetapi manusia bisa memilih untuk tidak menyerah pada sunyi.
Ia memilih berkumpul, merawat paseduluran, dan menjaga warisan.
Ketika hujan akhirnya turun, yang tersisa bukan hanya tanah yang basah.
Yang tersisa juga ingatan bahwa sebuah komunitas pernah bertahan bersama, dengan cara yang mereka pahami.
Dan mungkin, itu pelajaran yang paling relevan bagi Indonesia hari ini.
Bahwa ketahanan tidak selalu lahir dari teknologi besar, tetapi juga dari ikatan sosial yang dirawat.
-000-
“Harapan adalah kerja sunyi yang membuat manusia tetap berdiri, bahkan ketika langit belum menjawab.”