BERITA TERKINI
The Monophones Kembali Aktif Setelah 17 Tahun Lewat Single “Yang Hilang dan Kembali”

The Monophones Kembali Aktif Setelah 17 Tahun Lewat Single “Yang Hilang dan Kembali”

The Monophones kembali menyapa pendengar setelah sekitar 17 tahun tidak merilis karya baru. Band asal Yogyakarta ini dijadwalkan meluncurkan single terbaru berjudul “Yang Hilang dan Kembali” pada 10 Juli 2026, yang akan tersedia di berbagai layanan musik digital, termasuk Spotify, Joox, Apple Music, YouTube, dan platform streaming lainnya.

The Monophones terbentuk di Yogyakarta sekitar 2002 sebagai proyek sampingan Bayu Prabowo dan Wahyu “Acum” Nugroho, yang saat itu juga tergabung dalam Bangku Taman. Seiring waktu, formasi band berkembang dengan bergabungnya Alexandria Deni sebagai vokalis, Fajar Dewa pada keyboard, serta Topan Darudrio di posisi drum.

Nama The Monophones mulai dikenal lewat lagu “Rain of July” yang menjadi salah satu soundtrack film Catatan Akhir Sekolah. Karya mereka juga tercatat dalam album kompilasi FastForward (2006) serta sejumlah kompilasi independen lain, antara lain “Mentari” dalam Peachy Little Secret – An International Indie Compilation (Fruit Records, 2006) dan “Nanar” pada kompilasi Teman-teman Memainkan Lagu Naif (Aksara Records, 2008). Setelah 2008, kesibukan masing-masing personel membuat band ini menghentikan aktivitasnya.

Momentum kebangkitan The Monophones disebut bermula pada awal 2025. Bayu Prabowo kembali menghidupkan proyek ini dengan menulis lagu, menyusun aransemen, sekaligus memainkan double bass untuk “Yang Hilang dan Kembali”. Dalam prosesnya, ia melibatkan sejumlah musisi, termasuk Adi Wijaya sebagai conductor, arranger, pianis klasik dan jazz, serta dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Bayu juga menggandeng penyanyi jazz Marcela Dee, finalis X Factor Indonesia, bersama musisi Yogyakarta lainnya seperti Andar Prabowo (drum), Yoki Nur Hidayat (flute), serta kuartet gesek dari ISI Yogyakarta.

Meski hadir dengan formasi berbeda, band ini menyatakan tetap mempertahankan karakter musik yang selama ini menjadi identitasnya. Warna musik The Monophones masih memadukan unsur psychedelic rock, jazz, musik klasik, baroque, noir, baroque pop atau sunshine pop, American standard, komposer Eropa, hingga nuansa musik Indonesia era 1970-an dan 1980-an.

Salah satu ciri produksi “Yang Hilang dan Kembali” terletak pada pendekatan rekamannya. Seluruh aransemen direkam tanpa menggunakan instrumen elektrik. Instrumen seperti piano, double bass, drum, flute, violin, viola, dan cello dimainkan secara akustik untuk menghasilkan karakter bunyi yang alami, hangat, hidup, dan autentik. Pendekatan ini menitikberatkan pada keterampilan para musisi tanpa bergantung pada teknologi, selaras dengan filosofi bermusik yang dipegang The Monophones sejak awal.

Proses rekaman berlangsung di Neverland Studio, Yogyakarta, sekitar Februari hingga Maret 2025. Pada periode yang sama, band juga merekam satu karya lain yang direncanakan dirilis di kemudian hari.

Melalui “Yang Hilang dan Kembali”, The Monophones menandai kembalinya aktivitas bermusik sekaligus membuka babak baru, dengan harapan dapat kembali berkontribusi bagi perkembangan khazanah musik Indonesia.