BERITA TERKINI
Suara Keseharian Membentuk Cita-cita Hai Phong sebagai ‘Kota Musik’

Suara Keseharian Membentuk Cita-cita Hai Phong sebagai ‘Kota Musik’

Saat lampu jalan mulai menyala, suasana di sepanjang Danau An Bien, Kelurahan Gia Vien, berubah menjadi lebih hidup. Di antara langkah kaki orang-orang yang berolahraga, tawa, dan obrolan pengunjung kafe, alunan lagu dari kelompok karaoke turut mengisi malam. Tanpa panggung dan tanpa band profesional, musik hadir lewat speaker portabel, beberapa mikrofon, dan kursi plastik sederhana.

Di ruang terbuka ini, batas antara penonton dan penyanyi nyaris tidak ada. Seseorang yang semula hanya duduk sambil memegang segelas es teh bisa tiba-tiba berdiri mengambil mikrofon. Seorang pengemudi ojek menyanyikan lagu tentang kota pelabuhan, seorang guru melantunkan melodi sentimental, dan seorang pensiunan pejabat menyusul dengan lagu yang menyentuh. Meski kualitas vokal tidak selalu sempurna, tepuk tangan tetap mengalir sebagai bentuk dukungan.

Nguyen Van Hung, yang mengaku hampir setiap malam hadir di tepi danau, mengatakan suasana tersebut membantunya melepas penat. “Setelah seharian bekerja, datang ke sini untuk bertemu teman-teman, menyanyikan beberapa lagu, dan mendengarkan orang lain bernyanyi membuat saya merasa jauh lebih rileks. Tidak ada yang menghakimi apakah sesuatu itu baik atau buruk; selama Anda menyukai musik, Anda diterima,” ujarnya.

Keterbukaan itulah yang membuat kegiatan bernyanyi bersama di tepi Danau An Bien menjadi warna budaya tersendiri. Sejumlah wisatawan yang berjalan-jalan di sekitar danau kerap berhenti untuk mendengarkan, bahkan ada yang memberanikan diri ikut bernyanyi. Dalam suasana seperti ini, musik menjadi penghubung antarorang yang sebelumnya tidak saling mengenal.

Nuansa serupa juga terlihat di sebuah kedai teh musik di Jalan Chuong Duong, Kelurahan Le Thanh Nghi. Lampu tempat itu menyala setiap malam. Meski hanya memiliki beberapa lusin kursi, kedai tersebut sering penuh. Pengunjung datang bukan semata menikmati minuman, tetapi juga merasakan kebersamaan dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama dalam bernyanyi. Pada siang hari mereka berprofesi sebagai dokter, insinyur, guru, pengusaha, atau pegawai negeri. Ketika malam tiba, mereka bergantian menjadi penyanyi di panggung kecil.

Di tengah berbagai kegiatan seni berskala besar yang rutin digelar dalam beberapa tahun terakhir—seperti Festival Bunga Phoenix Merah, program seni jalanan, malam musik komunitas, hingga festival seni—gagasan menjadikan Hai Phong sebagai “Kota Musik” dinilai tidak cukup bertumpu pada kemeriahan acara tahunan. Vitalitasnya, sebagaimana tergambar dari ruang-ruang bernyanyi warga, justru lahir dari gerakan budaya dan seni yang tumbuh di masyarakat.

Saat ini, terdapat sekitar 50 klub seni amatir di bawah pengelolaan Pusat Kebudayaan, Film, dan Pameran Kota. Klub-klub tersebut menghimpun ribuan anggota yang berpartisipasi secara rutin, mulai dari pengrajin, seniman, tokoh budaya akar rumput, hingga warga yang memiliki minat yang sama terhadap seni.

Di luar sistem tersebut, berbagai klub hobi juga aktif di tingkat komune, kelurahan, dan kawasan permukiman. Jenis kegiatannya beragam, seperti klub menyanyi Cheo, lagu-lagu rakyat, Ca Tru, paduan suara, tari, gitar, Hat Van, serta bermain dan menyanyikan lagu-lagu rakyat. Selain berkegiatan rutin, klub-klub ini juga kerap mengadakan pertukaran dan pertunjukan untuk masyarakat pada hari libur, Tet, Hari Persatuan Nasional, atau perayaan budaya lokal.

Dalam rancangan rencana “Membangun Hai Phong Menjadi Kota Musik”, kota menargetkan pendirian sedikitnya 114 klub musik dan seni komunitas di komune, kelurahan, dan zona khusus, serta 10 klub musik dan seni di lingkungan bisnis. Pada 2030, 100% klub musik komunitas ditargetkan mendapat pendampingan untuk meningkatkan kualitas kegiatan dan mampu tampil untuk publik.

Salah satu fokus penting dalam proyek ini adalah pengembangan pendidikan musik di sekolah dan masyarakat melalui program “Seniman dan Pengrajin – Instruktur Komunitas”. Melalui program tersebut, seniman dan pengrajin direncanakan terlibat langsung menyelenggarakan kelas, memberikan pengajaran, dan tampil di sekolah, pusat kebudayaan, rumah budaya komunitas, serta zona khusus.

Profesor Madya Dr. Bui Hoai Son, perwakilan Majelis Nasional dan anggota tetap Komite Kebudayaan dan Masyarakat Majelis Nasional, menilai inti proyek “Kota Musik” bukan terletak pada penambahan panggung. Menurutnya, yang paling penting adalah memperbanyak kesempatan bagi masyarakat untuk bernyanyi, mendengarkan, dan terlibat dalam kegiatan seni. Ia menekankan, ketika setiap kawasan permukiman memiliki klub yang efektif dan pusat kebudayaan benar-benar hidup setiap malam, sebutan “Kota Musik” akan terbentuk dari dalam komunitas itu sendiri.