Gelombang musik dari Indonesia Timur kian terasa di industri musik Tanah Air. Jika sebelumnya kerap dipandang sebagai warna alternatif, kini musik timur mulai bergerak menjadi arus utama dengan karakter yang kuat dan berbeda.
Sony Music Entertainment Indonesia menangkap momentum tersebut dengan merangkul sejumlah musisi dari wilayah timur, antara lain Toton Caribo, Wizz Baker, Oncho Flash, Ave, hingga Eno Smaper.
Sejumlah karya dari Ave, Eno Smaper, serta Oncho Flash yang berkolaborasi dengan Wita Sofi disebut sudah lebih dulu dirilis. Sementara itu, proyek berikutnya tengah disiapkan dengan Toton Caribo dan Wizz Baker menjadi fokus utama.
Perkembangan musik timur disebut tumbuh dari komunitas lokal, lalu meluas melalui media sosial dan platform digital. Dampaknya, lagu-lagu dari skena ini menjangkau berbagai daerah dan dinikmati lintas generasi.
Sony Music Indonesia menilai fenomena tersebut bukan sekadar tren sesaat. Label ini menyatakan ingin membuka ruang yang lebih luas bagi talenta dari berbagai daerah, termasuk yang selama ini belum banyak terekspos.
Head A&R Sony Music Indonesia untuk Floor Inc dan Megah Music, Wisnu Wicaksana, menegaskan bahwa Sony Music memberi wadah bagi potensi musik di luar pop arus utama. Ia menyebut Megah Music hadir sebagai sub-label yang berfokus pada musik hyperlocal, mulai dari musik tradisional, kedaerahan, hingga religi, termasuk dangdut dan sejenisnya.
Wisnu juga menyampaikan Sony Music Indonesia pernah bekerja sama dengan Denny Caknan untuk proyek tertentu. Melihat potensi musik timur yang sedang naik, ia mengatakan pihaknya terbuka untuk berkolaborasi dengan para pelaku musik dari Indonesia Timur.
Dalam waktu dekat, Sony Music Indonesia menyatakan antusias untuk merilis proyek jangka panjang bersama Toton Caribo dan Wizz Baker, yang disebut menjadi pertimbangan utama dalam perkembangan musik timur.
Kerja sama ini tidak hanya mencakup perilisan lagu. Sony Music Indonesia juga menyiapkan dukungan mulai dari pengembangan artistik, produksi, hingga distribusi secara global.
Langkah tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa industri musik Indonesia makin inklusif, dengan talenta yang tidak lagi terpusat di kota-kota besar. Musik dari Indonesia Timur pun dinilai telah berkembang melampaui sekadar viral dan mulai menjadi kekuatan baru yang membentuk arah industri musik nasional.