Siswa-siswi BINUS SCHOOL Simprug menggelar pementasan teater tahunan bertajuk “Seen, Not Heard” di Jakarta, Jumat (17/4/2026). Pertunjukan ini melibatkan ratusan siswa yang tidak hanya tampil sebagai pemeran, tetapi juga menangani keseluruhan proses produksi, mulai dari pengembangan cerita, penulisan naskah, penyutradaraan, hingga manajemen panggung.
Tahun ini, mereka mengangkat genre distopia yang digambarkan lebih kompleks. “Seen, Not Heard” bercerita tentang dunia tanpa musik. Dalam alur cerita, tokoh Nancy—putri wali kota—menghadapi dilema antara ketaatan terhadap aturan dan kebebasan berekspresi setelah bertemu Michael, seorang musisi yang melawan ketentuan yang berlaku.
Produksi dipimpin oleh tim inti siswa yang terdiri dari Emily (Producer dan Choreographer), Leala (Director), Chelsea (Co-Director), Andi (Co-Producer dan Co-Choreographer), Alleisia (Co-Producer), Michelle (Creative Director), Zahra (Marketing), dan Raphael (Finance).
Emily, selaku Theatre Producer dan Choreographer, mengatakan, “Kami mencoba menghadirkan cerita yang lebih emosional dan relevan. Proses ini bukan hanya tentang menghasilkan pertunjukan, tetapi juga tentang bagaimana siswa mampu memahami dan menyampaikan pesan yang kuat kepada audiens.”
Co-Producer Alleisia menambahkan, “Dalam persiapannya, kami belajar bahwa setiap tantangan di balik layar adalah proses untuk mendewasakan diri. Kami tidak hanya belajar membuat pertunjukan, tetapi juga belajar untuk saling percaya dan tumbuh bersama sebagai satu tim.”
Melalui produksi ini, para siswa mengelola pertunjukan berskala besar secara mandiri sekaligus belajar mengoordinasikan aspek kreatif hingga pelaksanaan acara. Kegiatan tersebut juga didukung oleh pendekatan pembelajaran di BINUS SCHOOL Simprug yang mendorong eksplorasi dan ekspresi siswa.
Principal of BINUS SCHOOL Simprug, Isaac Koh, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran bagi siswa. “Kegiatan ini menjadi proses pembelajaran yang mendalam bagi siswa. Melalui rangkaian latihan dan produksi, mereka belajar untuk bekerja sama, berpikir kritis, serta berani menyampaikan ide dan perspektif mereka,” ujarnya.