BERITA TERKINI
Seniman Rakyat Hoang Thanh Wafat, Warisan Musiknya Tetap Bergema

Seniman Rakyat Hoang Thanh Wafat, Warisan Musiknya Tetap Bergema

Seniman Rakyat Hoang Thanh telah meninggal dunia. Meski perjalanan hidupnya berakhir, karya-karya musik dan jejak pengabdiannya di dunia seni—yang lekat dengan cinta tanah air, kemanusiaan, dan semangat keprajuritan—dipandang akan terus hidup dalam ingatan para pencinta musik.

Kenangan tentang sosok Hoang Thanh kembali mengemuka, termasuk pertemuan sekitar lima tahun lalu di kediamannya dalam rangka sebuah bincang-bincang akhir pekan menjelang peringatan Hari Pendirian Tentara Rakyat Vietnam, 22 Desember. Dalam percakapan singkat, ia dikenang sebagai pribadi yang lembut dan ramah, jauh dari kesan flamboyan yang kerap melekat pada musisi besar.

Hoang Thanh menapaki karier seni selama lebih dari 40 tahun. Ia menghabiskan 23 tahun sebagai konduktor Grup Kesenian Wilayah Militer ke-4, sekaligus dikenal sebagai komposer yang melahirkan sejumlah lagu yang terus diwariskan lintas generasi, di antaranya “Lepaskan Bajumu”, “Prajurit Sukarelawan dan Lagu Lam Toi”, serta “Layang-layang Masa Kecil”. Melodi-melodi itu meresap dalam ingatan para prajurit, masyarakat di Nghe An, dan mereka yang mencintai musik.

Dalam pengakuannya, ada dua unsur yang membentuk jiwa musikalnya: tanah kelahiran dan keluarga. Hoang Thanh lahir dan besar di tepi Sungai La, Desa Duc Phong (kini Komune Duc Tho, Provinsi Ha Tinh), lingkungan yang sejak kecil memperkenalkannya pada lagu dan melodi rakyat Nghe An. Ayahnya, seniman Pham Hoang Tho—Wakil Ketua Asosiasi Sastra dan Seni Nghe An—disebut menjadi sosok yang membimbingnya memasuki jalan seni sejak usia 15 tahun. Pham Hoang Tho dikenal multitalenta, antara lain memainkan biola, bekerja sebagai perancang panggung, dan menulis drama.

Ketertarikan Hoang Thanh pada musik berawal saat ia belajar akordeon di Akademi Musik Vietnam. Pada 1971, ia kembali ke Nghe An dan bekerja di Grup Kesenian Wilayah Militer ke-4 sebagai musisi. Di masa itu, ia belajar secara mandiri tentang komposisi dan konduksi orkestra. Pada 1975, ia dipercaya menjadi konduktor grup tersebut sekaligus komposer. Karya debutnya, “Prajurit Sukarelawan dan Lagu Lam Toi”, disebut memberi dampak besar dan membuat namanya dikenal luas.

Ia pernah menceritakan latar lahirnya lagu tersebut ketika kelompok seni pertunjukan menghibur para tentara dalam pertempuran melawan pemberontak Vang Pao di Long Cheng, Laos. Meski terluka—jari telunjuknya remuk dan harus dibalut—Hoang Thanh tetap memainkan piano untuk menghibur para prajurit. Dari situ, lagu itu lahir dan memicu dorongan kuat untuk terus menggubah musik. Ia kemudian menulis musik tari bagi kelompoknya, dan sejumlah karya disebut meraih medali Emas dan Perak di tingkat militer maupun nasional.

Selain menggubah musik, Hoang Thanh juga menekuni penyuntingan program dan pementasan artistik. Ia disebut sebagai orang pertama yang membawa musik ringan ke panggung seni Nghe An–Ha Tinh. Pada 1985, program yang disutradarainya untuk Persatuan Pemuda Provinsi Nghe An dalam Festival Pemuda Nasional meraih Medali Emas, sementara Festival Lang Sen pada tahun yang sama memenangkan hadiah pertama. Pada 1995, program seni seluruh angkatan darat dari Kelompok Seni Wilayah Militer ke-4 yang ia sutradarai meraih penghargaan khusus dengan lima Medali Emas, termasuk Medali Emas untuk Seniman Berjasa Thu Hang—istri Hoang Thanh—melalui lagu “Ibu Lang Sen”. Sejumlah program berikutnya yang ia tangani juga disebut meraih Medali Emas.

Pada 2005, Hoang Thanh menulis karya paduan suara empat bagian yang memadukan melodi lagu rakyat Nghe Tinh dan nyanyian untuk peresmian Lapangan Ho Chi Minh. Karya itu meraih Hadiah B pada Penghargaan Ho Xuan Huong. Atas dedikasinya, ia dianugerahi gelar Seniman Berjasa pada 2001 dan Seniman Rakyat pada Januari 2016.

Dalam refleksinya sebagai tentara sekaligus pencipta lagu, Hoang Thanh menilai pengalaman di militer menjadi sumber inspirasi penting. Ia menyebut masa dinas memberinya keyakinan dan kecintaan pada kehidupan, yang kemudian mengalir dalam karya-karyanya. Ia juga memandang musik sebagai “bahasa hati ke hati”, terutama ketika bahasa lain tidak lagi mampu menyampaikan perasaan.

Di tahun-tahun setelahnya, Hoang Thanh kerap hadir dalam kompetisi, festival, dan program seni di tingkat daerah, duduk di barisan depan sebagai penasihat artistik, juri, atau komentator. Ia dikenang melalui komentar yang dinilai berwawasan, profesional, namun tetap tulus, serta berkontribusi pada kualitas berbagai pertunjukan.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, ia tidak lagi terlihat dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Kondisi kesehatannya dikabarkan menurun hingga membuatnya terbaring di tempat tidur. Kini, kepergiannya menutup perjalanan seorang prajurit-musisi yang lama mengabdikan diri pada seni. Meski demikian, karya-karya yang ditinggalkannya dipandang akan terus bergema, mengikat kenangan tentang sosok yang disebut berbakat, baik hati, dan rendah hati.